<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567</id><updated>2011-07-28T11:31:22.476-07:00</updated><title type='text'>Gadis Pantai</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7538073962208494111</id><published>2010-05-04T02:28:00.000-07:00</published><updated>2010-05-04T02:55:20.632-07:00</updated><title type='text'>Malam Tak Biasa</title><content type='html'>Cerpen Mei**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Tak Biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu seperti malam-malam biasanya. Udara gelisah yang kadang ikut mempengaruhi hati dan pikiranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki kulangkahkan pada stasiun tua.Tempatku menunggu kereta yang akan membawaku menyusuri ladang, sawah, dan pengalaman-pengalaman yang mungkin akan senantiasa membekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu adalah hal yang menjemukan. Maka kuputuskan untuk menikmati malam dengan teh manis hangat dan lontong sate yang rasanya tak bisa kutebak. Kupilih bangku yang tak terlampau dekat dengan lampu.  Kuamati lingkungan di sekitar tempatku duduk. Tak ada yang aneh. Meski aku menyadari kekurangan di sana-sini. Tapi malam itu aku memaklumi segalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pandanganku tertuju pada matamu yang terus mengamatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang salah?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban. Senyummu sedikit mengembang dan menggeser alismu yang cukup tebal. Kukira aku tak memerlukan jawabanmu. &lt;br /&gt;Lalu kuamati jalanan yang semakin lama semakin sesak oleh kendaraan roda dua dan mobil mengilap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh manis hangat terhidang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi sebenarnya?” katamu. Seolah-olah antara mencoba menebak dan bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura tak tahu apa yang coba kau maksudkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jujurlah. Aku ingin kita terbuka,” katamu mulai sedikit mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih bungkam. Kukira tak ada yang perlu kujelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar aku tak salah dengan sangkaan dan pikiranku yang selama ini berkecamuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit terpancing untuk berkata-kata. Namun aku berhasil mengurungkannya. &lt;br /&gt;Kukira, tak perlu berbicara banyak denganmu malam itu. Karena aku tahu, semua itu akan saling melukai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah jika kau tak juga mau bicara,” katamu mulai sedikit menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku sesekali menumbukkan pada kedalaman pandang matamu yang tajam. Sambil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan tanganku bergerak mengaduk gula dalam gelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pentingnya engkau tahu apa yang kurasakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada. Aku hanya ingin di antara kita saling terbuka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuaduk-aduk pikiranku seperti tanganku mengaduk gula dalam gelasku, mencoba menerka dan meraba apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kuhela napas berat dan panjang. Aku tak terbiasa berbohong. Denganmu sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau tangkap dari perasaanku selama ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Aku tak akan mengatakan sekecil apa pun tentang yang kuketahui. Aku tak bisa menerka-nerka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, apa pentingnya engkau mengetahui perasaanku?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau engkau keberatan. Aku tak akan memaksamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita sibuk dengan makanan yang telah tersaji. Meski sebenarnya telah hilang selera makanku sejak mata dan bibirmu menyerang dan menghujaniku dengan banyak pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah lelaki yang penuh dengan semangat hidup. Padamu kutemukan kelembutan dan kebaikan yang kadang sulit kumengerti. Apakah hanya denganku engkau begitu, ataukah sebenarnya telah banyak perempuan yang juga merasakan perlakuan yang sama seperti yang kurasakan. Atau barangkali aku saja yang Gr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa, dalam hati kecilku aku sedikit berharap agar malam tak segera berakhir. Biar bisa kuhabiskan malam yang malang ini dengan curahan embun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutimbang-timbang. Sementara itu,  kulihat matamu masih menyelidik dan mengharapkan suatu jawaban yang mungkin dapat membuatmu lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Aku menempatkanmu di sudut hatiku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuamati wajahmu kembali. Bibirmu  mengembang. Matamu sayu menatapku. Kukira engkau telah puas dengan apa yang kukatakan. Dan kurasa mungkin kelelakianmu telah bertambah, menjadi lebih merasa tampan dan lebih merasa memiliki daya pesona, sehingga tak sedikit perempuan akan mematutkan cintanya kepadamu. Kulihat tanganmu membenamkan topi yang perlahan menutupi wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu puas?” tanyaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa merdeka dari perasaan yang telah lama mengungkungku. Dari kecil orang tuaku selalu mengajarkanku untuk senantiasa berkata jujur meski akibatnya pahit, ketimbang menyimpannya dalam relung hati. Karena hati hanya memiliki ruang yang terbatas, tak seluas samudera yang siap menampung air dari segala penjuru. &lt;br /&gt;Kutebak-tebak sikapmu atas jawaban yang telah kukatakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau sedikit gugup mengambil eir jeruk hangat dalam gelas yang ada di depanmu.&lt;br /&gt;Sunggingan senyummu masih belum hilang. Kudengar engkau sedikit tertawa seolah engkau telah memenangkan lotre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih atas kejujuranmu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini tebakanku benar. Jawabanmu bahkan telah kuterka jauh sebelum engkau mengatakannya. Kudengar kata-katamu dengan sabar. Satu per satu meluncur seperti telah mendapatkan ilham setelah tertidur semalam suntuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari ucapan terima kasih hingga perasaan dan pikiranmu yang selama ini gelisah berusaha menerka-nerka. Kuikuti semua dengan kedalaman hati yang entah mengharapkan timpalannya atau hanya sekadar menguapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu kuperhatikan pengunjung warung tenda itu mulai pergi. Malam semakin larut. Sementara kita masih sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku merasa bahagia dengan kejujuran yang kau katakan kepadaku,” katamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu menjadi malam terakhir. Malam istimewa yan tak pernah kutemui lagi pada malam-malam setelahnya. Karena kita berpisah pada ujung jalan yang telah kita tentukan berbeda. Sesekali kulihat wajahmu dari kejauhan. Namun engkau terlalu jauh, hingga aku hanya menyenyumimu seorang diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat pula engkau merajut dengan tatapan dan sikap yang manja kepada kawan-kawan yang kau anggap menarik hatimu. Kukira cinta memang tak perlu dimengerti. Hingga ruang dan waktu tak memberikannya tempat untuk berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudapati diriku pada keadaan sadar, sesadar-sadarnya. Melumat rasa pahit dan menelannya dalam-dalam untuk kemudian memupuknya menjadi rasa pengertian yang besar akan makna hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terus menggulung gelap. Sementara kita terus berjalan menyusuri jalan berkelok yang sepi dan berpisah di ujung jalan. Lalu kuputuskan kembali ke stasiun. Menghabiskan sisa lembaran buku yang belum selesai. Melumat waktu yang tak lama lagi akan berganti terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok pagi sekali kereta akan mengantarkanku menuju kota tua yang cantik. Mengunjungi kerabat dan saudara yang telah lama kutinggalkan. Kembali menziarahi masa kanak-kanak yang menyenangkan dan menengok lembarannya satu per satu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7538073962208494111?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7538073962208494111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7538073962208494111' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7538073962208494111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7538073962208494111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/05/malam-tak-biasa.html' title='Malam Tak Biasa'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6327495197531400535</id><published>2010-04-19T06:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T06:35:05.828-07:00</updated><title type='text'>Perempuan- perempuan</title><content type='html'>Engkau datang &lt;br /&gt;Lalu engkau pergi&lt;br /&gt;Dengan cepatkakimu kau langkahkan &lt;br /&gt;Menuju tangisan anak kecil berasal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kaulangkahkan kakimu kembali&lt;br /&gt;Mengaduk gula dalam secangkir kopi&lt;br /&gt;Tempat suamimu menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dalam gendonganmu memelukmu erat&lt;br /&gt;Seolah tak ingin melepasmu walau sekejap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi pahit manis kau suguhkan &lt;br /&gt;Dalam sekelebat kakimu kau langkahkan menuju kompor yang menyala&lt;br /&gt;Tempat nasi kau tanak waktu hari masih gelap&lt;br /&gt;Seolah tak ingin menyia-siakan waktumu&lt;br /&gt;Tanganmu dengan cekatan mengiris tempe dan membumbuinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan perempuan&lt;br /&gt;Dari tangan dan kasihmu dunia ini hidup&lt;br /&gt;Dari kasih tulusmu lah anak-anakmu tumbuh&lt;br /&gt;Dan dari kasihmu yang tiada taralah lelakimu bertahan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6327495197531400535?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6327495197531400535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6327495197531400535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6327495197531400535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6327495197531400535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/04/perempuan-perempuan.html' title='Perempuan- perempuan'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1478845435753710545</id><published>2010-04-06T07:11:00.000-07:00</published><updated>2010-04-06T07:18:16.794-07:00</updated><title type='text'>Semalam Bersamamu</title><content type='html'>Kustiah**&lt;br /&gt;Bau tubuhmu masih tercium. Sepertinya baru lima menit yang lalu engkau pergi meninggalkanku dari ruangan ini. Sepertinya baru saja engkau melepaskan pelukanmu. Masih terasa matamu menatap mataku sambil mengatakan “aku akan selalu menyayangimu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terdengar gombal, tetapi aku menyukainya. Hatiku mongkok dan tak ingin melakukan apa-apa selain tetap bersamamu jika sudah mendengar sloganmu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah berganti pagi. Mataku diterpa sinar mentari yang menyelinap masuk dari tirai jendela yang sedikit tersingkap. Akhirnya, mau tak mau mataku harus membelalak. Segera aku menuju kamar kecil untuk membersihkan muka dan mulutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tanpa kehadiranmu hidupku sepi. Ruangan ini pun tampaknya sepakat denganku. Tak ada canda, tawa, dan kata-kata manjamu, kamar ini seperti mati. Seperti tak bergairah menghadapi hari esok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mampu berkata, bersamaku mereka akan berkata “Jangan pergi. Tinggalah terus bersamaku hingga ajal menjemput dan memisahkan kita”. Namun, sama sepertiku, ruangan ini lebih memilih membisu. Lidah kelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya waktu malam saja bibir ini bisa berkata jujur. Saat wajahmu benar-benar berada dua senti dari wajahku. Saat matamu menghujam seluruh isi tubuh dan pikiranku. Tanganmu mendekap erat, dan kita  seperti tak ingin berpisah walau sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pagi itu, engkau tetap harus pergi. Entah kesibukan apa yang memaksakmu untuk buru-buru meninggalkanku, bersama seluruh isi ruangan ini.&lt;br /&gt;“Apakah kau izinkan aku untuk menyelesaikan urusanku hari ini,” bisikmu sambil menempelkan bibirmu di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu aku tak akan mengatakan tidak atau menolak permintaanmu jika sudah begitu. Segera kukecup keningmu dan kusenyumi wajahmu yang cerah pagi itu.&lt;br /&gt;“Ya. Pergi saja. Jaga diri baik-baik,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mendengar suaramu memelas , naluriku segera berubah menjadi seperti seorang ibu, seorang kakak, sahabat, atau siapa saja yang kau anggap mampu membuatmu nyaman. Lalu pergilah engkau dengan rangsel yang telah kau kemasi, sekelebat ditelan daun pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, bahwa kepergianmu sebenarnya untuk menemui teman perempuanmu lainnya. Aku tahu dari pesan yang dikirimkannya untukmu malam tadi. Seperti air, perasaanku yang bening mudah berubah menjadi keruh, digelitiki ikan-ikan yang ada di dalamnya, dan benar-benar keruh, kemudian tenang untuk membuatnya bening kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beginikah rasanya pilu?” aku bertanya pada diriku sendiri. Seperti baru kali ini kurasakan kembali hati yang tercabik-cabik. Cemburu. Kenyataannya demikian. Lalu di mana rasa sayangku kepadamu yang baru saja membuai-buai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam di atas sofa dengan segelas air di tangan. Sambil menatap lukisan perempuan bali yang sedang menari. Kubayangkan perempuan itu kesepian. Dengan kesukaannya yang dielu-elukan penonton karena liukan tubuh, matanya yang gesit, dan tangannya yang terampil. Kulihat betapa perempuan itu tak memedulikan siapa pun kecuali gerakannya dan konsentrasinya pada tiap hentakan irama. Matanya seperti menatap kepastian hidup, dan yakin pada masa yang akan datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pikiranku kembali pada lelaki yang baru saja meninggalkanku. &lt;br /&gt;Tak kurasakan lagi hati mongkok dan bening, sebening air gelas dalam genggamanku. Aku berusaha menyadar-sadarkan diri bahwa sesungguhnya yang mencintai adalah aku. Kebetulan yang memiliki raga dan jiwa adalah engkau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku dan sayangku mungkin bukan apa-apa bagimu. Karena aku bukan perempuan yang memiliki tubuh seperti Luna Maya atau Aura Kasih. Aku hanya seorang perempuan yang membanggakan kelembutan dan kebaikan yang kumiliki. Kata orang-orang begitu. Aku terlalu keibuan dan memiliki hati yang lembut. Benar apa tidak aku sendiri tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kupatut wajahku pada cermin. Kulihat mata, hidung, dan bibirku yang kuanggap lebih banyak mirip seperti wajahnya Kartini, bulat seperti bulan. Mataku juga seperti mata Kartini yang sendu namun keras kemauan. Hidungku, memang tak sebangir hidungnya Cornelis, pacar Minke. Namun aku bangga memilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirku. Inilah salah satu indera tubuhku yang sering kututupi dengan tangan jika sedang bicara dengan lelaki yang membutaku jatuh cinta. Aku takut menggodanya. Juga aku takut melakukan tindakan yang tidak sopan dengan bibirku. Maka, kupilih menunduk jika bicara dengan orang yang kucintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar, bahwa yang kubanggakan sebenarnya adalah sesuatu yang telah melekat pada tubuhku. Karena Tuhan yang menciptakannya. Di saat aku mematutkan wajahku, ada perasaan kecewa bergemuruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin karena apa yang kumiliki inilah, engkau tak benar-benar mencintaiku”. Aku diombang-ambing perasaanku sendiri. Perasaan tak menentu karena menebak-nebak perasaanmu. Perasaanku yang diliputi kebimbangan.“Apakah benar yang kau katakan semalam? Ataukah aku saja yang sebenarnya mengharapkanmu mengatakan demikian. Pun tidak benar aku tetap akan senang mendengarnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa pula yang menyebabkan sifatku kadang berubah kekanak-kanakan jika berada di depanmu. Tak biasanya aku bersikap demikian. Mungkinkah cinta telah mengubah yang rasional menjadi tidak rasional. Yang dewasa menjadi kanak-kanak. Dan mengubah siapa diriku yang sebenarnya, yang kadang tak kukenali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Aku tak akan membiarkan cinta ini liar mengejarmu. Sampai di sini saja.”&lt;br /&gt;Kutemukan hatiku mengatakan penyerahannya sambil meratap. “Seruni tak ingin hidupnya tragis seperti Kenanga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Namaku Seruni. Seruni akan menyerah untuk kali ini saja. Untuk kecelakaan cinta karena telah mendarat tidak pada tempatnya. Kukatakan perpisahanku kepada seluruh isi ruangan. Untuk remang cahaya yang telah mengawasi setiap gerak dan gembiraku.&lt;br /&gt;“Terima kasih. Katakan pada siapa saja yang datang mengunjungi kamar ini, untuk menyapamu lebih dahulu.” Agar kelak jika pergi tidak dengan hati yang kecewa sepertiku. Karena telah kauberkati pada waktu malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah aku semalam melupakanmu remang?” &lt;br /&gt;“Apa aku hanya peduli pada lelaki yang ada di depanku, di pelukanku?,” ratapku menyesal karena telah mengabaikan keberadaanmu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukemasi barang-barangku. Kukenakan switer untuk melindungi tubuhku dari terpaan udara pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan taman yang lurus dengan bunga yang tertata rapi menghiburku begitu aku menatapnya. Mereka menegurku dengan keramahan. “Jalanlah terus ke depan. Jangan kau tengok ke belakang,” kata bunga-bunga dan jalan yang telah berpasang-pasangan sehidup semati, membuatku iri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku tanpa menengok. Aku bersiap diri untuk meneguk pahit lebih banyak lagi. Sesekali kuhapus butiran kecil yang jatuh di pipi. Dan bunga menghibur hatiku yang terluka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kembali kuingat puisi yang tiba-tiba menohok hatiku. Sapardi sepertinya memahami perasaanku pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Ingin&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku ingin mencintaimu dengan sederhana:&lt;br /&gt;dengan kata yang tak sempat diucapkan &lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1478845435753710545?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1478845435753710545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1478845435753710545' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1478845435753710545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1478845435753710545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/04/semalam-bersamamu.html' title='Semalam Bersamamu'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3278810851357996030</id><published>2010-04-06T07:10:00.001-07:00</published><updated>2010-04-06T07:10:41.731-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3278810851357996030?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3278810851357996030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3278810851357996030' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3278810851357996030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3278810851357996030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/04/blog-post.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3336792315830823919</id><published>2010-02-02T03:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T03:35:21.252-08:00</updated><title type='text'>Jasa Keuangan Otoritas Siapa?</title><content type='html'>Terbentuknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia tampaknya masih jauh dari panggang. Hal ini ditandai dengan masih adanya perdebatan penting atau tidaknya OJK sementara deadline pembentukan OJK sudah di depan mata yakni tahun 2010. Kebijakan pembentukan OJK sudah diputuskan berdasarkan UU No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Keputusan tersebut bukan tanpa landasan. Krisis yang melanda di tahun 1998 telah membuat sistem keuangan Indonesia limbung. Maka lahirlah kesepakatan pembentukan OJK yang menurut undang-undang tersebut harus terbentuk pada tahun 2002. &lt;br /&gt;Namun sebagian kalangan sepertinya masih alergi jika  OJK terbentuk. Faktanya di tahun 2002 draf pembentukan pun masih belum ada. Pada tahun 2004 akhirnya UU No 23/1999 tentang Bank Indonesia tersebut direvisi, menjadi UU No 24 2004 yang menyatakan tugas BI adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah (Pasal 7). Untuk mencapainya, BI melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, dan transparan dengan mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.&lt;br /&gt;OJK bukan sebuah kesepakatan di atas kertas. Apalagi deal-deal politik yang bisa ditarik jika menguntungkan dan diulur jika tidak menguntungkan. Lebih dari itu, OJK adalah sebuah cita-cita akan sebuah lembaga yang bisa melakukan pengawasan secara ketat seperti industri perbankan, pasar modal, reksadana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun dan asuransi (UU No 24 2004 tentang Bank Indonesia). Maka lahirlah undang-undang tentang pembentukan OJK ini dengan harapan esok hari krisis keuangan  tak kan terulang seperti tahun 1997-1998.&lt;br /&gt;Dalam sebuah pertemuan antara bank sentral Asia di Nusa Dua tahun lalu  penjabat Gubernur Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom mengeluarkan statemen perihal OJK. “Seharusnya pimpinan otoritas jasa keuangan (OJK) seharusnya dipegang oleh Gubernur Bank Indonesia. Alasannya, sistem keuangan dalam perekonomian Indonesia masih didominasi oleh perbankan,” katanya. &lt;br /&gt;Miranda mencontohkan kepala otoritas jasa keuangan di Prancis dan Belanda dijabat gubernur bank sentralnya. Adapun posisi jabatan lain bisa berada dari luar bank sentral. Dengan komposisi ini, pasokan informasi ke bank sentral untuk pembuatan kebijakan moneter yang tepat bisa terjamin. "Yang penting kepalanya sama," kata Miranda di Nusa Dua, Bali, pada akhir pekan lalu. (Koran Tempo)&lt;br /&gt;Masih menurut Miranda, keberadaan otoritas jasa keuangan bukan satu-satunya jaminan keberhasilan pengawasan. Kasus bangkrutnya Bank Northern Rock di Inggris akibat subprime mortgage di tahun 2008 sebagai salah satu contohnya.&lt;br /&gt;Sementara itu menurut pendapat salah satu Pengamat Ekonomi Dr Tata Huberta dalam artikelnya yang berjudul “Debat Mengenai Pengawasan Intensif Bank-bank”, rencana pembentukan suatu lembaga pengawas bernama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada hakikatnya merupakan kecenderungan (trend) yang banyak terjadi di berbagai negara di dunia. Inggris, misalnya, mulai mengembangkan konsep ini dengan membentuk apa yang disebut Financial Services Authority (FSA). Jepang pun sama, mengembangkan apa yang disebut Japan FSA. Australia juga melakukan pendekatan sejenis dengan membentuk Australian Prudential Regulatory Authority (APRA). Sementara itu, masih banyak lagi negara-negara maju maupun berkembang yang sudah maupun ingin mengembangkan konsep seperti itu. &lt;br /&gt;Tata beranggapan pembentukan OJK di Indonesia pada hakikatnya merupakan bagian dari "tuntutan zaman". Langkah ini dimaksudkan untuk dapat mengikuti perkembangan yang terjadi secara cepat pada sektor jasa keuangan, terutama dengan munculnya konglomerasi di sektor itu. Suatu bank misalnya, memiliki anak perusahaan berupa perusahaan asuransi, perusahaan sekuritas, perusahaan leasing, dan sebagainya. Dengan demikian, dalam keadaan terkonsolidasi, maka tali-temali antarperusahaan itu makin lama makin erat. Bahkan, di negara yang menganut konsep universal banking, hubungan antara berbagai kegiatan itu lebih erat lagi, karena dilakukan oleh suatu perusahaan atau bank yang sama. Dengan demikian, apa yang terjadi pada perusahaan sekuritas, akan dapat mempengaruhi kegiatan di bidang perbankan, begitu pula sebaliknya. Karena itu, pemisahan yang terkotak-kotak dari sisi pengawasannya akhirnya akan menimbulkan suatu in-efisiensi di bidang pengawasan maupun adanya risiko tidak tercakupnya pengawasan perusahaan jasa keuangan itu secara lebih menyeluruh. &lt;br /&gt;Saat debat itu dimulai dalam pembahasan Undang-Undang Bank Indonesia tahun 1998 dan 1999, kenyataan itu agak terkaburkan dengan prioritas yang lebih tinggi, yaitu bagaimana dapat mengatasi krisis perbankan di Indonesia secara cepat. Dengan mulai terselesaikannya krisis itu, maka langkah berikutnya untuk membentuk lembaga itu menjadi lebih mendesak. Sementara itu, momentum yang ditimbulkan oleh perubahan di negara-negara lain pun akhirnya dapat mengilhami proses pembentukan lembaga itu di Indonesia. &lt;br /&gt;Pembentukan "Financial Stability Wing" &lt;br /&gt;Sementara itu, ada pula perkembangan yang sejalan dengan proses pelepasan otoritas pengawasan bank-bank itu dari bank sentral. Dalam hal ini, konsep pembentukan Financial Services Authority di Inggris disertai reorganisasi di Bank Sentral melalui pembagian tugas Bank of England ke dalam dua bagian penting, Monetary Stability Wing dan Financial Stability Wing. Perkembangan ini juga terjadi di tempat-tempat lain. &lt;br /&gt;Bank Sentral Swedia misalnya (atau dikenal dengan Riksbank), pada dasarnya memiliki lembaga pengawasan bank yang terpisah sudah puluhan tahun lamanya. Namun, dengan adanya krisis perbankan di negara itu pada awal tahun 1990-an, akhirnya ada suatu tekad dalam bank sentral negara itu untuk secara intensif mengikuti perkembangan bank-bank yang masuk dalam kategori bank-bank yang sistemik, yaitu bank-bank yang karena besarnya dapat menyebabkan guncangnya stabilitas seluruh sistem perbankan jika terjadi masalah dengan bank itu. Karena itu, dalam perkembangannya, Riksbank lalu membentuk apa yang disebut Financial Stability Wing. &lt;br /&gt;Dalam konsepnya, Financial Stability Wing menangani dua tugas penting. Tugas pertama menyangkut pengawasan prasarana keuangan, yaitu Sistem Pembayaran seperti kliring antarbank, kliring elektronis, maupun juga sistem Real Time Gross Settlement system (RTGS) sebagaimana kini sudah dikembangkan Bank Indonesia sampai ke berbagai kota. Demikian juga kliring surat-surat berharga, seperti saham maupun surat utang Pemerintah. Kedua bentuk sarana kliring itu memiliki tali temali yang tinggi dan pada hakikatnya mengandung risiko sistemik yang amat tinggi. &lt;br /&gt;Tugas kedua adalah menyangkut pengawasan bank-bank yang masuk kategori sistemik. Dalam hal ini ukurannya adalah berapa besar peranan bank itu dari keseluruhan total perbankan. Selain itu, mungkin juga ada bank yang meski kecil tetapi memiliki tingkat sistemik tinggi. Contohnya, jika bank itu menjadi settlement bank dari pasar modal. Meski kecil, jika bank itu bangkrut maka serta-merta transaksi pasar modal akan amat terpengaruh. &lt;br /&gt;Karena itu, "trend" baru ini perlu dipahami bersama munculnya "trend" pembentukan lembaga semacam Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (“Debat Mengenai Pengawasan Intensif Bank-bank”, Tata Huberta).&lt;br /&gt;FSA Inggris &lt;br /&gt;Inggris disebut-sebut sebagai negara dengan kondisi perbankan yang sehat sebelum kasus bangkrutnya Bank Northern Rock. Hal tersebut tak terlepas dari keberadaan OJK, di mana FSA (Financial Supervision Authority) memiliki tugas mengawasi berbagai lembaga keuangan, termasuk bank, pialang saham, dan  pengelolaan dana pensiun. Namun kesuksesan OJK tersebut tertepis setelah Northern Rock tak mampu diselamatkan. Selanjutnya kebangkrutan Bank Northern Rock  disusul  krisis keuangan  yang melanda negeri Paman Sam yang berakibat pada krisis keuangan negara-negara lainnya di dunia.. &lt;br /&gt;Northern Rock adalah bank negara yang didirikan oleh pemerintah Inggris. Menurut laporan setebal 183 halaman yang disampaikan oleh pejabat Bank Northern Rock, regulator City telah gagal secara sistematis dan FSA Inggris dinyatakan tidak melakukan regulasi perbankan sebagaimana mestinya. Kasus ini telah mencoreng imej OJK Kerajaan Inggris yang mendapatkan julukan memiliki FSA terbaik dibanding negara-negara tetangganya.&lt;br /&gt;Sebelum tahun 1990 FSA adalah sebuah badan hukum perusahaan asuransi yang kemudian menggabungkan diri dengan Badan Investasi dan Sekuritas (SIB) pada 7 Juni 1985 atas dorongan bendahara kerajaan. Bendahara kerajaan sendiri memiliki kewenangan menjual sejumlah perusahaan yang  bermasalah sesuai dengan delegasi yang ditujukan untuknya. Pasca- kolapsnya Barings Bank di tahun 1990, UK berkeinginan membentuk jasa industri keuangan di bawah pengawasan regulator.&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai kontroversi tentang OJK, undang-undang telah disepakati dan diketuk. Badan independen ini akan melakukan tugasnya sesuai yang termaktub dalam UU No 24 2004 tentang Bank Indonesia. Maka tidak ada jalan lain kecuali melanjutkan atau sekali lagi melskukan amandemen. Kustiah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3336792315830823919?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3336792315830823919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3336792315830823919' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3336792315830823919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3336792315830823919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/02/jasa-keuangan-otoritas-siapa.html' title='Jasa Keuangan Otoritas Siapa?'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1012490348519443002</id><published>2010-02-02T03:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T03:33:36.329-08:00</updated><title type='text'>Hati-hati dengan Produk Murah</title><content type='html'>Kualitas produk dari luar tak selalu bagus. Jika tidak hati-hati memilih kesehatan menjadi taruhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak penandatanganan perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara negara-negara  ASEAN dengan China pada tahun 2001 dan mulai efektif 1 Januari 2010, kita telah tak asing dengan produk-produk negeri naga yang membanjir di pasaran. Pada saat itu pula pedagang yang biasa memasarkan produk lokal harus bersaing ketat dengan produk China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang stasiun Jakarta- Bogor, pasar tradisisonal, dan mal-mal tampak produk-produk China berjubel. Sebut saja salah satunya jeruk santang. Sementara untuk produk lainnya ada perabot rumah tangga berupa mangkuk, piring, gelas, sendok dan masih banyak lagi, serta  mainan anak-anak.&lt;br /&gt;Negara dengan populasi terbesar di dunia ini memang dikenal sektor industrinya lebih cepat maju dan dikenal tak mudah menyerah. Produknya tak hanya terlihat di pasar Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Selain barang-barang yang dijual murah, produk China juga kreatif dan variatif. Jadi jika pertimbangan membeli produk adalah harga, maka produk China akan memberikan solusinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tunggu dulu! Jangan mudah terkecoh harga. Meski tak perlu merogoh kocek cukup dalam, pembeli dituntut mewaspadai mutu yang ditawarkan.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan membeli. Apakah produk tersebut aman dan sehat bagi keluarga?&lt;br /&gt;Membeli buah jeruk santang  yang berasal dari China misalnya. Sebagai konsumen kita perlu memperhatikan apakah buah yang akan kita beli tersebut masih segar atau tidak. Apakah vitaminnya yang terkandung didalamnya masih baik atau tidak? Jangan sampai kita hanya membeli ampasnya. &lt;br /&gt;Tidak jarang tampilan mengelabui. Tampak jauh warna jeruk begitu menggoda, kuning tajam dan segar. Namun jika diperhatikan lebih dekat dan dipegang, jeruk terlihat layu dan gembos. Bisa saja kondisi  buah yang demikian karena dipengaruhi  lamanya jeruk dalam perjalanan, yang otomatis perlu suhu dingin atau es untuk menjaga supaya buah  tetap segar dan tidak rusak. Padahal jika buah terlalu lama di dalam freezer kesegaran dan kandungan vitamin buah bisa rusak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru buah, masih ada produk-produk dari China lainnya yang masih perlu diwaspadai. &lt;br /&gt;Tentu kita masih ingat dengan peristiwa di mana banyak bayi yang teracuni karena susu yang diminum mengandung bahan kimia berupa melamin di atas ambang batas. Tak hanya keracunan, beberapa bayi dinyatakan kesehatannya turun drastis dan meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan berita yang dilangsir Assosiated Press beberapa waktu lalu mengatakan bahwa kepolisian China telah menutup beberapa pabrik susu di Shanghai. Polisi menemukan bukti adanya bahan kimia berlebih dalam produk susu. Pabrik-pabrik tersebut langsung ditutup dan beberapa direksinya ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran jika Amerika dan beberapa negara lainnya menolak produk dari China karena dianggap berbahaya bagi kesehatan anak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melamin biasanya digunakan sebagai  bahan campuran dalam pembuatan plastik dan pupuk. Namun, produsen susu di Shanghai menggunakannya sebagai bahan pengencer susu. Tujuannya satu, dengan cara begitu produsen dapat meraup keuntungan berlipat-lipat dari semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka periksa terlebih dulu seberapa bermutukah produk yang akan kita beli. Karena  murah bukan jaminan sebuah produk memiliki mutu yang bagus. &lt;br /&gt;Semestinya Pemerintahan China menjadikan peristiwa di tahun 2008 yang menelan korban beberapa nyawa bayi dan puluhan bayi mengalami gangguan kesehatan sebagai  sebuah tamparan. Apalagi China bertekad memperluas pangsa pasarnya di tahun ini dengan dibukanya perjanjian Perdagangan Bebas.&lt;br /&gt;“Orientasi China pada FTA dengan negara-negara ASEAN kali ini  adalah memperluas ekspor seluas-luasnya,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia  Sofyan Wanandi.&lt;br /&gt;Jadi, jika industri yang memasokkan produknya tidak memperhatikan faktor mutu dan kesehatan konsumennya, maka bukan tak mungkin negara-negara lain seperti Indonesia akan berbalik arah meninggalkan produknya. Sementara itu, selain adanya upaya perbaikan dari pemerintah China, pemerintah Indonesia seharusnya juga melakukan pengawasan lebih ketat terhadap produk-produk yang masuk. Karena masyarakat yang akan menjadi konsumsinya tak perlu menggadaikan kesehatannya untuk sebuah produk &lt;br /&gt;yang lebih murah. Kustiah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1012490348519443002?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1012490348519443002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1012490348519443002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1012490348519443002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1012490348519443002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/02/hati-hati-dengan-produk-murah.html' title='Hati-hati dengan Produk Murah'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-8911569327772159479</id><published>2010-02-02T03:29:00.001-08:00</published><updated>2010-02-02T03:29:46.496-08:00</updated><title type='text'>Surga untukmu Ibu</title><content type='html'>18.00 wib Jakarta, 14 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak tahu pentingnya berdoa, aku selalu meminta kepada Tuhan supaya dalam menjalani kehidupan senantiasa diberi kemudahan. &lt;br /&gt;Kemudahan menyelesaikan sekolah, kemudahan mendapatkan pekerjaan, kemudahan menemukan jodoh, kemudahan mendapatkan keturunan, kemudahan jika sakaratul maut menjemput dan kemudahan-kemudahan lainnya. &lt;br /&gt;Benar, beberapa kemudahan telah Tuhan berikan dengan cara dan jalan yang aneh, yang di kemudian hari aku mengerti bahwa Tuhan memberikan yang terbaik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun malam ini aku diuji untuk kesekian kalinya. Tuhan sepertinya hendak menguji kesabaranku. Kemudahan belum sampai kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas magrib dokter menungguku. Tanda tangan harus kugoreskan di atas lembaran kertas yang menanyakan kesediaanku untuk ditangani. HSG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah dokter kandungan menyatakan bahwa aku harus melakukan serangkaian pemeriksaan rahim, malam-malamku diwarnai gelisah dan ketakutan. Suami ikut sibuk mencarikan informasi apa itu HSG, efek samping dan apa saja rangkaian pemeriksaan-pemeriksaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah berusaha untuk tenang, tangan dan perasaan sepertinya telah bekerja sama. Tangan meremas, menggenggam satu sama lain. Suara di ujung telepon telah mengingatkan jadwal pemeriksaan yang akan dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keputusan harus diambil.&lt;br /&gt;Sebelum memasuki ruang radiologi, terlebih dahulu aku harus menebus obat dan segera meminum dua butir sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini obat mulas bu,” kata perempuan muda, asisten sang dokter.&lt;br /&gt;Tanpa penolakan, pil sebesar jerawat itu pun kutelan. Tak lama perempuan itu pun kembali memberikan intruksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan ibu ganti baju,” katanya lembut sembari menyodorkan baju terusan berwarna biru.&lt;br /&gt;Intruksi demi intruksi kuikuti. Ketegangan mampu kutepis meski tak sepenuhnya, dengan cara membuka percakapan dan perkenalan.&lt;br /&gt;Perempuan muda ini tentulah sudah sangat mahir menangani tindakan medis yang akan dilakukannya. &lt;br /&gt;Kutanyakan apakah perempuan itu tidak takut dengan dampak radiasi, mengingat setiap hari ia bersentuhan dengan alat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu khawatir bu. Tapi kan ada safety-nya,” jawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipan yang berbentuk meja persegi panjang ditata. Lampu penyinaran dibenarkaan letaknya. Tubuhku digeser kekanan kekiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti ikuti aba-aba saya bu ya,” katanya.&lt;br /&gt;Perempuan muda itu keluar. Pintu ditutup. Kudengar langkah cepat-cepat mendekat dan pintu dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tarik napas, lepaskan, tahan.”&lt;br /&gt;Sekali lagi kuikuti perintahnya. Sepuluh menit berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang dokter memasuki ruangan dengan peralatannya. Kali ini kecemasan dan ketakutan tak bisa kusembunyikan. Berkali-kali aku meminta dokter bercerita. Tak puas dengan cerita singkat sang dokter yang semakin sibuk menyiapkan peralatan, kulemparkan pertanyaan-pertanyaan yang kira-kira akan membutuhkan jawaban panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki diangkat pelan-pelan ya bu,” kata dokter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki kuletakkan pada penyangga dibantu asisten dokter. Dokter mengingatkanku untuk  berdoa, supaya semua berjalan lancar dan baik-baik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku ingat pada doa-doa yang biasa kupanjatkan. &lt;br /&gt;Selang sebesar kabel headset sepanjang sepuluh sentimeter dimasukkan ke dalam saluran indung telur. Selang inilah yang nantinya menjadi penghantar obat yang akan disemprotkan ke indung telur.&lt;br /&gt;Selang sedikit demi sedikit mulai menyentuh dinding-dinding rahim. Saat itu kurasakan betapa mulas bercampur ingin muntah tak tertahankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginikah rasanya menjadi perempuan. Tiba-tiba aku ingat pada perempuan setengah baya yang ada di kampung halaman. Ibuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dok, berapa lama lagi dok. Masih lamakah dok. Dokter punya anak berapa dok?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak saya tiga bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap dan cekatan tanpa intruksi asisten dokter menempatkan pegangan tangan yang terletak di pinggir dipan supaya tubuhku tetap tertahan pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pegangan erat-erat bu ya. Dipan bagian kepala akan direndahkan,” kata sang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipan atas mulai diturunkan 90 derajat. Monitor dinyalakan, lampu sinar X tepat memotret di atas perut. Tampak pada monitor kondisi kabel yang pasang di saluran indung telut. Cairan berwarna cokelat masuk dan menyebar dengan cepat. Pada saat yang sama perut mules hebat  kembali menyerang, seluruh isi perut seperti hendak keluar, mirip antara hendak buang hajat dan kencing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dok, apakah melahirkan juga seperti ini rasanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar tertawa kecil sang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat bu, Alhamdulilah kondisinya baik semua. Cairan tak terhalang apa pun,” kata dokter menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulilah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulas sedikit terobati dangan berita gembira dari sang dokter.&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan. Telah kau kabulkan doaku. Dugaan PCO yang ada di dinding rahim oleh dokter sebelumnya tidak benar. Lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan kuterima apa yang akan kau percayakan kepadaku, Ya Tuhan. Pun sejujurnya kupintakan kepada-Mu  keturunan yang kelak akan mendoakanku beserta suamiku. (sementara hati terdalamku mengatakan “Belum apa-apa aku sudah menyiapkan tugas untuk anak-anakku”)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabel pelan-pelan dikeluarkan dari gua garbo. Dan penyinaran kembali dilakukan untuk mengetahui hasil akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, kupintakan kepada-Mu jagalah Ibuku, perempuan-perempuan di dunia ini. Berikanlah perlindungan lewat kekuatan hebat kuasa dan tangan-Mu. Karuniakanlah kepada mereka kesabaran tak terhingga, dan sediakanlah surga yang lapang . &lt;br /&gt;Betapa cengengnya aku saat itu. Air mata berjatuhan, ingin sekali aku menyungkurkan diriku pada kedua lutut dan kaki perempuan yang telah melahirkanku. Betapa selama ini aku telah menjadi anak yang banyak melakukan kekhilafan dan telah membuatnya sering merasa besedih. &lt;br /&gt;Ya Tuhanku, betapa telah kau jadikan hamba-Mu perempuan  beranak pinak memenuhi bumi. Semoga mereka menjadi hamba kesayangan-Mu karena telah mengahadiahimu anak-anak sholeh-sholehah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-8911569327772159479?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/8911569327772159479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=8911569327772159479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8911569327772159479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8911569327772159479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/02/surga-untukmu-ibu.html' title='Surga untukmu Ibu'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-4510074743092837255</id><published>2010-02-02T03:23:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T03:28:49.385-08:00</updated><title type='text'>Selera Sang Pemberani</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan seorang dokter, yang tahu banyak tentang bahan-bahan yang terkandung dalam rokok dan bahayanya. Tapi setidaknya aku tahu tentang bagaimana semestinya menjaga kesehatan.&lt;br /&gt;Di seminar-seminar kesehatan, dari buku, dokter, dari papan reklame rokok yang memamerkan produknya supaya dilihat banyak orang dan dibeli, juga dari bungkus rokok, aku diberitahu, membaca, dan diperingatkan bahwa rokok itu membahayakan. &lt;br /&gt;Tak jarang aku menyatakan keberatan jika ada orang mengisap rokok dan menghembuskan asapnya di dekatku.&lt;br /&gt;Sampai saat ini aku belum pernah melihat ada orang merokok yang menahan asapnya supaya tidak menyembul dan tercium orang lain. Karena itu tidak mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang kawan, justru nikmatnya merokok itu jika sudah diisap dalam-dalam dan asapnya disembulkan. Lebih nikmat lagi jika ada yang melihat aksinya itu. Tapi rokok akan sedikit terasa pahit jika saat menyembulkan asap ada orang yang memelototinya.&lt;br /&gt;“Tapi soal itu mah saya sudah kebal,” katanya.&lt;br /&gt;Maksud “kebal” adalah sudah sering ia dipelototi orang karena aksinya yang macho tadi.&lt;br /&gt;Justru karena teguran atau pelototan orang.itulah dirinya semakin menjadi pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi benar kata iklan rokok, bahwa rokok “seleranya pemberani”. Saya jadi berani membalas memelototi orang yang memelototi saya. Bahkan saya tidak akan segan-segan adu jotos apalagi cuma adu mulut,” tambahnya. Aku bilang O O  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas gigimu kuning dan napasmu bau,,” candaku.&lt;br /&gt;“Karena kalau gigi tidak kuning dan napas tidak bau katamu tidak macho”.&lt;br /&gt;Ia menyeringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di stasiun, pasar, jalan, kantor, dan di mana saja jarang kutemukan orang tidak mengisap yang kata Taufik Ismail namakan “tuhan tuju senti itu”.&lt;br /&gt;Apa nasionalismeku harus pelan-pelan luntur hanya gara-gara rokok? Jika tidak, kenapa tidak  ada yang membelaku, bahkan presidenku sekalipun. Ke mana lagi harus mengadu bahwa aku sudah tidak tahan dengan asap putih yang arogan dan sombong itu. Kenapa pula aku harus mual-mual jika asap itu tercium olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ingin menghirup udara segar, tinggal saja di hutan!,” kata seorang kawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di hutan juga belum tentu udaranya bersih. Hutan sekarang tidak ada pohonnya. Hanya namanya saja hutan. Kalaupun ada pohonya, biasanya hanya pohon-pohon yang berdiri rapi di pintu masuk hutan. Begitu masuk ke dalamnya kamu bisa main sepak bola atau futsal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana aku harus tinggal dengan nyaman, tidak menghirup asap rokok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah, kamu itu sudah tersugesti dengan apa yang dikatakan dokter. Banyak orang merokok, faktanya umurnya juga panjang. Ada orang yang tidak merokok, hidupnya malah penyakitan dan meninggal. Ada juga dokter yang merokok. Toh manusia nantinya juga pasti mati,” kata kawan meyakinkan. Bangga dengan argumennya yang ia anggap benar.&lt;br /&gt;“Apakah aku harus tidak memercayai dokter, para ahli kesehatan, buku-buku yang memaparkan data-data berapa banyak korban yang meninggal akibat rokok. Berarti seminar-seminar kesehatan juga bohong?” katakuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa dokter, seminar, reklame, bungkus rokok memberi tahu, berkoar-koar, mencantumkan bahayanya merokok? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa juga bos-bos perusahaan rokok  menyogok penguasa, para anggota DPR dengan mobil mewah, dana kampanye, dan sekoper uang jika rokok hanyalah sesuatu yang tidak penting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih hebatnya lagi, mereka yang membela perusahaan rokok mengatasnamakan kepentingan kaum petani tembakau. Mereka mengatakan, jika  pemerintah mengatur rokok dalam UU atau produksi tembakau dibatasi, petani tembakaulah yang terkena imbasnya. &lt;br /&gt;“Ribuan petani tembakau akan kehilangan mata pencariannya,” ujar anggota DPR yang katanya menerima sumbangan dari para pengusaha rokok cukup untuk pengajian saja. Mungkin maksudnya pengajian untuk mengumpulkan konstituennya tiap bulan supaya periode mendatang memilihnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan petani yang akan kelaparan jika perusahaan rokok dan tembakau dibatasi. Melainkan pengusaha-pengusaha rokoklah yang akan pusing tuju keliling. Indonesia hanya punya dua musim, kemarau dan musim hujan. Sementara tembakau hanya bisa ditanam pada musim kemarau. Jika ditanam pada musim penghujan tembakau tidak akan bagus. Cara petani tembakau bisa memasok tembakau untuk perusahaan rokok ya dengan menanam tembakau pada musim kemarau seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukai rokok juga memberi pemasukan Negara, jumlahnya tidak tanggung-tanggung lho!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Aku dan kesehatanku mungkin jauh tidak penting ketimbang jumlah cukai yang diberikan perusahaan rokok. Toh, jika aku sakit, bukankah Negara akan memberikan jaminan kesehatan, karena aku orang miskin. Atau kalau tidak punya Jamkesmas, perusahaan tempatku bekerja akan membayari semua pengobatanku. Kalau tidak enak karena jumlahnya terlalu banyak, ya nanti bisa kubagi dengan perusahaan tempat suamiku bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya kalau ada LSM yang masih ngotot  mengusulkan peraturan pembatasan tembakau dan menutup perusahaan rokok, saya siap berada di depan,” tantang anggota DPR lainnya yang siap pasang badan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat sekali, sungguh pemberani,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya itu kan memang sudah tugasnya,” bisik kawannya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok bisa,” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia kan jadi DPR karena didukung para pengusaha rokok,” tambahnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dari mana bapak tahu?”&lt;br /&gt;“Dari pengorbanan yang  dia lakukan. Jadi DPR sudah, dikenal tetangga sudah, dikenal juniornya juga sudah, lalu mau apa lagi kalau  tidak membela pengusaha rokok. Bisa-bisa periode berikutnya dia tidak bisa jadi DPR lagi?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa jadi menteri juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa jadi presiden juga” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo begitu,” kataku sambil mengucap salam dan pergi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-4510074743092837255?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/4510074743092837255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=4510074743092837255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/4510074743092837255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/4510074743092837255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/02/selera-sang-pemberani.html' title='Selera Sang Pemberani'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-4575528769936738865</id><published>2010-02-02T03:21:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T03:23:23.415-08:00</updated><title type='text'>Pada sebuah malam tak bertuan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah malam tak bertuan di Stasiun Pasar Minggu. Musik bergantian berdentang. Suara beradu, mulai dari musik penjual CD sampai detak tubuh kereta yang sebentar datang, sebentar pergi.&lt;br /&gt;Begitu pula pikiranku yang menerawang, kadang jauh, kadang pada anak-anak yang berlarian di depanku. Kuperhatikan anak kecil lain yang berdiri 10 meter dari tempatku duduk, bersandar pada tiang stasiun. Bajunya kumal, tampak dari kejauhan kulit mukanya yang kusam.&lt;br /&gt;upandang anak itu lekat-lekat. Kakinya telanjang tanpa sandal apalagi celana panjang yang menghangatkannya. Kutatap matanya, kali ini dudukku kudekatkan pada tiang, tempat di mana anak itu berdiri. Matanya sayu, mengingatkan mataku semasa kecil.&lt;br /&gt;Anak itu usianya sepantaran dengan keponakanku, kira-kita empat tahunan. Kuperhatikan matanya tak lepas kepada anak-anak yang berlarian dengan riang di depannya.&lt;br /&gt;Kucari-cari, barangkali ada orang tuanya di sekitar anak itu. Yang kulihat hanyalah keramaian orang lalu lalang hendak naik kereta, kesibukan penjual minuman melayani pembelinya, dan anak itu sendiri terpaku.&lt;br /&gt;Ingin aku berdiri, mendatangi dan memeluknya. Akan tetapi aku khawatir akan membuatnya takut. Hari ini banyak kasus penculikan anak, juga robot gedek yang gemar menyiksa dan menyodomi anak-anak. Kuurungkan niatku mendekati anak itu. Aku ingat berita dari Koran yang kubaca tempo hari. Ada anak sesusia 6 tahun yang dimutilasi. Kepalanya dibuang di bawah jembatan, sedang tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian. Polisi menemukan tanda-tanda anus anak itu disodomi dengan benda tumpul sebelum akhirnya anak malang itu dimutilasi. &lt;br /&gt;Saat membaca berita itu air mata hatiku seperti luruh, darah dalam tubuh seperti luruh jatuh ke kaki, detak jantungku seperti tergesa-gesa mengejar napasku. Mataku merembes. &lt;br /&gt;Anak malang yang dimutilasi itu ternyata anak jalanan yang biasa menginap di rumah laki-laki setengah baya yang memutilasi tubuhnya. &lt;br /&gt;Napas hidungku terasa berat, seperti ada yang menghalangi. Ternyata ingusku sudah menyumbat rongga hidung.&lt;br /&gt;Mataku masih melihat anak yang besandar di tiang itu. Kulihat matanya tampak lelah. Di waktu begini, anak-anak di kampungku biasanya telah terlelap tidur di samping orang tuanya. Pulas tergolek entah di amben atau di kasur empuk. Memimpikan bekejaran dengan teman-temannya atau bermimpi bermain bersama teman-temannya di sekolah. Anak yang bersandar di tiang di depanku pelan-pelan kuperhatikan duduk dan menyelonjorakan kakinya. Rambutnya semakin tampak olehku kusut dan seperti tak pernah dikeramas.&lt;br /&gt;Ingin kutepuk pantat dan kuelus rambut anak itu. Tentunya kumadikan dan kukeramasi terlebih dulu. Kubaringkan anak itu lalu kuceritai yang indah-indah tentang kisah-kisah hebat, mimpi masa depan, dan cita-cita besar. &lt;br /&gt;Musik dari tape tua dengan lagu-lagu tua timbul tenggelam menyayat-nyayat. Melengkapi pedihnya hatiku.&lt;br /&gt;Kusenyumi anak itu saat matanya melihatku. Pikiranku merangkai-rangkai kata. Ingin kukatakan sesuatu yang membuatnya tenang dan nyaman. Anak itu diam, memainkan uang koin yang ada di tangannya. Kali ini tangannya menggoreskan koin itu di atas lantai bata yang berdebu. &lt;br /&gt;Kepalanya menunduk, sesekali melihatku dengan cepat. Lekas-lekas kepalanya menunduk seraya tangannya tetap memainkan koin.&lt;br /&gt;Mulutku masih membentuk simpul senyum, dan mukaku kucera hkan .&lt;br /&gt;”Namanya siapa dik?”&lt;br /&gt;“Bagas.” Kudengar suaranya lirih menjawab.&lt;br /&gt;“Siapa dik?” kuulang pertanyaanku.&lt;br /&gt;“Bagas”&lt;br /&gt;“Ooo, Bagas!!!”&lt;br /&gt;“Bagas tinggalmya di mana?”&lt;br /&gt;Anak kecil itu terdiam.&lt;br /&gt;Kudengar kereta yang kutunggu datang. &lt;br /&gt;Membawa anak kecil itu bersamaku tentu tidak mungkin. &lt;br /&gt;“Bisa disebut penculikan, atau bisa jadi orang tuanya akan mencari anak lelakinya, menangis dan bersedih karena anaknya tidak pulang” batinku.&lt;br /&gt;Tapi hati dan pikiranku mendesak-desak untuk membawanya serta. Menyogoknya dengan uang puluhan ribu dan mengajaknya tinggal bersamaku. &lt;br /&gt;Tidak mungkin aku melakukannya atau meninggalkannya seorang diri. Keduanya tak mungkin kulakukan. Kereta semakin mendekat. Kudekatkan mukaku ke mukanya.&lt;br /&gt;“Besok kita ketemu lagi ya”.&lt;br /&gt;Kupegang tangannya yang masih menggenggam koin. Lembaran uang kertas itu mungkin tak membantunya meraih masa depan yang baik. Tapi aku menginkannya esok dia kembali ke sini, meski aku tak tahu apakah akan menemukannya.Di mana dia akan tidur malam ini dan malam-malam berikutnya?&lt;br /&gt;Bagaimana hidupnya? Berbagai pertanyaan berkelindan, saling mendesak dan membuat relung hatiku semakin sempit. Kereta membawaku pergi menjauhinya. Dan tubuhku kutenggelamkan pada lautan manusia dalam perut ular besi. Sampai kapan aku akan melihat anak-anak seperti yang malam ini kulihat? Kemiskinan, kemiskinan, kemiskinan dan banyaknya orang yang gemar korupsi dari hari-ke hari akan menambah jumlah anak yang seharusnya tak menanggung beratnya hidup. Seharusnya mereka tak ada di stasiun di tengah malam begini, tak ada di jalan-jalan yang asap dan motornya bekejaran. Juga tak menengadahkan tangannya untuk mengisi perutnya yang keroncongan, juga tak bermain di tempat-tempat berbahaya dan kotor. Ya Tuhan,, berapa lama lagi kau akan tenggelamkan bumi ini dengan kepedihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-4575528769936738865?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/4575528769936738865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=4575528769936738865' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/4575528769936738865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/4575528769936738865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/02/pada-sebuah-malam-tak-bertuan.html' title='Pada sebuah malam tak bertuan'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6878712167267080581</id><published>2010-02-02T03:20:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T03:21:25.590-08:00</updated><title type='text'>Kenang-kenangan Terakhir</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiga tangkai bunga layu tergolek di vas bunga di atas mejaku. Warnanya yang semula putih cerah dan kuning tajam telah berubah menjadi kehitaman sedikit membusuk karena lembab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga itu sebentar-sebentar saja kuperhatikan, jika hendak menuju dapur atau mau mengambil CD (compact disc). &lt;br /&gt;Walau telah layu, bunga itu terasa spesial. Meski tak sespesial ketika pertama kali diletakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************&lt;br /&gt;Pukul  setengah enam pagi laki-laki yang tergolek di sampingku bangun dan tiba-tiba beranjak pergi keluar kamar. Sambil mengganti pakaian dan mencari peci, laki-laki yang tak lain suamiku mengatakan bahwa ia ingin ikut melepaskan jenazah Gus Dur, ulama yang dikaguminya itu menuju bandara untuk selanjutnya diterbangkan ke Jombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mataku masih terpejam menikmati empuknya bantal dan terpaan semilir angin dari pintu kamar yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pergilah. Kalo sudah selesai lekas pulang ya. Hati-hati di jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak biasanya suamiku terbangun saat matahari masih tertidur. Lalu aku mengerti, bahwa kepergian sang idola telah membuatnya ikut berduka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10 kami janjian untuk bertemu di Stasiun Pasar Minggu, karena akulah yang membawa kunci rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan dari jauh tangan suamiku melambai. Lalu kudekati  lambaian tangan itu.  Kami duduk pada  rel besi  kereta yang telah didesain menjadi tempat duduk. Laki-laki ini  meletakkan bungkusan Koran lalu membukanya, juga segebok beberapa Koran  harian yang terbit hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tangkai bunga. &lt;br /&gt;“Hari ini aku bersedih” katanya tenang. &lt;br /&gt;“Hanya bunga inilah yang terakhir menjadi kenang-kenangan dari seorang Gus Dur. Juga berita Koran-koran yang mengabarkan kepergiannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat sudut matanya basah. Sampai hari ketujuh setelah kepergian orang yang dikaguminya itu, tak pernah kudengar suamiku tertawa. Sungguh kepergain Gus Dur membuat kami terasa amat berat melepaskannya. Kesederhanaan, keberanian, dan kejujurannya membuat kami kagum sekaligus bangga pernah memilikinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6878712167267080581?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6878712167267080581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6878712167267080581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6878712167267080581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6878712167267080581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2010/02/kenang-kenangan-terakhir.html' title='Kenang-kenangan Terakhir'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7071943684805207301</id><published>2009-05-26T01:07:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T01:24:51.700-07:00</updated><title type='text'>Pilot yang Banting Setir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/Shul_wPwWRI/AAAAAAAAADs/ubik1siFDx8/s1600-h/onno+boots.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 66px; height: 111px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/Shul_wPwWRI/AAAAAAAAADs/ubik1siFDx8/s320/onno+boots.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340044297879181586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onno Boots, Regional Managing Director TNT Asia Tenggara dan India&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pilot adalah hidup saya. Tak ada pekerjaan lain yang saya senangi selain pilot.” Demikian Onno Boots, Regional Managing Director TNT untuk wilayah Asia Tenggara dan India mengawali wawancaranya. Boots adalah lulusan sekolah pilot namun karena sifatnya yang senang berkelana membuat cita-citanya sebagai pilot tak berumur lama. Jiwa mudanya yang ingin mencoba profesi lain. Setelah memutuskan berhenti sebagai pilot Boots bekerja di perusahaan kargo yang kemudian diakuisisi TNT. Saat bergabung dengan TNT, Boots adalah karyawan termuda. Usianya menginjak 24 tahun,  lelaki yang ambisius dan pekerja keras ini sudah memegang posisi sebagai depot general manager TNT di Amsterdam. Ketika ditantang bosnya untuk memegang TNT di tiga negara yakni Belgia, Belanda, Luxemburg Boots tak bergeming. Ia mengambil tantangan itu dan membuktikan, TNT di tangannya menjadi perusahaan penyedia jasa layanan pengiriman terdepan. Sukses di pasar Eropa, Boots melirik Asia sebagai target pasar TNT selanjutnya. Asia menurutnya memiliki prospek pasar yang bisa diandalkan. Seumpama manusia, Asia adalah remaja yang baru tumbuh berkembang. Memiliki potensi besar jika pasar digarap dengan baik. Berikut wawancara &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kustiah&lt;/span&gt; dengan Boots beberapa waktu lalu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa lama Anda bergabung dengan TNT?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh satu tahun. Umur saya saat ini 44 tahun. Ini berarti  hampir separuh perjalanan hidup saya habiskan bekerja di TNT.  Awal karir saya sebagai seorang pilot. Setelah lulus  sekolah penerbangan saya meniti karir untuk menjadi seorang pilot. Sepertinya profesi pilot akan menjadi jalan hidup saya. Suatu hari berfikir tentang profesi lain. Sepertinya setelah bertahun-tahun menjalani profesi tersebut ternyata saya tidak menikmati profesi sebagai pilot. Lalu saya memutuskan keluar dari profesi ini. Namun tetap masih berkaitan dengan masalah airlines. Saya memutuskan untuk bekerja  pada Carolux Airlines International yang kemudian diakuisisi oleh TNT. Di sinilah saya mulai bergabung dengan TNT. Saat itu usia saya masih muda dengan pengalaman di industri yang masih terkait dengan jasa pengiriman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Anda memilih Asia untuk mengembangkan TNT?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Saya melihat Asia adalah pasar besar yang potensial dan mempunyai masa depan. Karena itu saya mengajukan permintaan ke atasan saya untuk diberi tugas menggarap pasar Asia. Saya memandang Asia adalah pasar nyata yang akan memberikan keuntungan bisnis besar. Kita lihat Amerika Serikat di masa lalu adalah Negara yang mendominasi kekuatan ekonomi dunia. Dan sampai saat ini masih memiliki kekuatan ekonomi yang cukup signifikan. Tapi saya yakin Asia di masa yang akan datang juga memiliki ekonomi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tantangan apa yang Anda dapatkan selama bekerja di TNT?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama bergabung dengan TNT saya mendapat posisi sebagai depot general  manager di Amsterdam. Bertugas mengelola gudang atau loko depot di Amsterdam. Lalu bos saya  menantang saya untuk menjadi director sales marketing di Belanda, Luxemburg, Belgia. Saya tak kuasa menolaknya dan selama empat tahun saya menjalani posisi itu. Posisi ini nampaknya tidak membuat saya puas. Sampai suatu hari saya melihat bos saya yang menjabat sebagai country managing director. Seperti diri saya tertantang untuk menjabat posisi tersebut. Jujur saya akui bahwa saya adalah lelaki yang penuh ambisi dan selalu mengejar posisi yang menantang. Melihat jabatan country managing director saya berfikir bahwa saya pasti bisa mendapatkannya. Usia saya masih muda dan punya kemampuan untuk menggapai masa depan. Saya hanya membutuhkan waktu untuk bisa seperti dia.  Akan saya buktikan bahwa suatu hari saya akan berada di posisi itu. Karena itu saya memutuskan untuk tidak hanya di Amsterdam dan bergabung dengan bos saya di divisi kantor pusat di Belanda supaya bisa membangun relasi bisnis di lingkup internasional. Selama 18 tahun saya di posisi ini sebelum akhirnya ke kantor pusat TNT wilayah Asia di Singapura pada tahun 2007. Bergabung bersama divisi kantor pusat di Belanda selama hampir 18 menurut saya sudah cukup untuk mengembangkan pengalaman di luar Eropa. Delapan tahun sebelum datang ke Asia saya menjabat sebagai direktur global account management yang bertanggung jawab dalam mengawasi pertumbuhan global account TNT di seluruh dunia seperti IBM, Siemen, Nokia, Lenovo.  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Anda optimis target pertumbuhan TNT tahun ini 20% bisa tercapai sekalipun krisis masih terasa hingga saat ini?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu TNT adalah perusahaan jasa pelayanan pengiriman. Kalau anda paham anatomi bisnisnya perusahaan yang bergerak di jasa pengiriman biasanya tidak terlalu menghadapi kendala berarti sekalipun   krisis global menerpa hampir seluruh negara. Kami juga telah membuat berbagai skenario alternatif untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Tentu perbaikan di sana-sini juga harus dilakukan. Seperti bagaimana meningkatkan perbaikan pelayanan ke konsumen. Selalu merespons keluhan konsumen dan segera mencari solusi tepat. Hal seperti ini yang kita lakukan guna mengembangkan bisnis jasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Langkah apa saja yang dilakukan TNT untuk menghadapi krisis global?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TNT adalah perusahaan terdepan di bidang jasa pelayanan pengiriman di Eropa. TNT telah memiliki jaringan di Eropa. Kita sendiri pun telah memiliki truk, mengoperasikan Boeing 747-400 ke Asia sejak Juli tahun lalu. Selain itu TNT juga memiliki strategi bagus untuk menghadapi krisis. Dengan meminimalkan ongkos pengiriman. Dan tetap fokus pada perbaikan pelayanan pelanggan. Yang terpenting adalah perbaikan pelayanan selalu dilakukan sehingga  pasar kita akan terus meningkat. Krisis global tidak akan berdampak signifikan terhadap bisnis jasa  pelayanan pengiriman barang selama masih ada perputaran bisnis di masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pasar di Negara Asia?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia memiliki populasi yang paling besar. Kita bisa lihat China dan India. Dua negara ini adalah negara yang memiliki populasi penduduk paling banyak. Dengan perkembangan yang terjadi saya yakin Asia berpeluang besar. Untuk saat ini mungkin masih menjadi negara berkembang, namun dengan berbagai perbaikan dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi saya melihat  potensi negara Asia tak akan kalah dengan negara Eropa.Jadi saya begitu yakin dengan perkembangan bisnis di Asia. Kalau di Eropa market-nya sudah dewasa, sementara pasar di Asia dalam tahap pertumbuhan. Tahun lalu TNT tumbuh sebanyak 25 persen di Asia. Meskipun tidak semua pasar asia bagus. China, misalnya, merupakan negara Asia yang paling jeblok pasarnya bagi TNT. China memiliki populasi penduduk yang paling tinggi di Asia. Namun kebijakan ekonomi pemerintahan China yang mengekspor sebanyak 95 persen barang produksinya, tak banyak menggunakan jasa pelayanan pengiriman kami. Hasil produksi pabrik di China banyak yang diekspor ke negara barat. Hasil produksi pabrik di China di waktu lalu dinilai berbagai negara memiliki kualitas buruk. Hal itu mengakibatkan permintaan menurun dan pabrik menghentikan produksinya. Buruh-buruh pabrik banyak kehilangan pekerjaan akibatnya  pendapatan juga terhenti. Itu yang membuat pasar TNT di China tidak berjalan baik. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana dengan  pasar Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merupakan pasar yang paling prospektif di Asia. Di Indonesia TNT mengalami pertumbuhan lebih cepat ketimbang negara lain yakni sekitar 26-27 persen. Untuk saat ini masih Indonesia yang memiliki pasar dengan  pertumbuhan paling cepat ketimbang negara Asia lainnya. Karenanya kami berani menambah investasi kami tahun ini sebesar &lt;br /&gt;US$100 juta. Kita akan melakukan investasi berangsur-angsur. Dengan investasi sebesar itu, TNT berharap perputaran uang juga terjadi di Indonesia. Secara otomatis masyarakat Indonesia akan ikut merasakan perputaran investasi kami. Selain kapital kami juga ikut membantu mengurangi pengangguran di Indonesia.. TNT Indonesia memiliki karyawan sebanyak 600 orang di seluruh Indonesia.. Memberikan pelatihan agar sumber daya manusia (SDM) Indonesia meningkat. Kita memiliki bisnis yang prospektif dengan manajemen yang bagus. Harapan saya adalah TNT di Indonesia dapat mengimplementasikan strateginya dengan baik. Karena kita sudah mempersiapkan bisnis ini dengan baik. Jadi saya tak perlu khawatir jika TNT di Indonesia akan bangkrut.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah krisis kali ini merupakan pengalaman pertama dalam karier Anda selama bergabung dengan TNT?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Sebelumnya saya pernah mengalami masa krisis. Pertama kali dalam karier saya di TNT yakni krisis Eropa di tahun 1980-an. Hanya saja krisis Eropa waktu itu dan krisis saat ini berbeda. Kalau krisis Eropa saat itu permintaan TNT tidak ada,  padahal keuangannya sangat siap. Sedangkan krisis yang terjadi saat ini adalah permintaan melimpah, namun karena krisis global mendera kondisi keuangan masyarakat menurun. Namun TNT tetap optimistis bahwa krisis ini tidak akan berlangsung lama dan akan kembali tumbuh. Tanda-tandanya mulai kelihatan sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7071943684805207301?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7071943684805207301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7071943684805207301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7071943684805207301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7071943684805207301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/05/pilot-yang-banting-setir.html' title='Pilot yang Banting Setir'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/Shul_wPwWRI/AAAAAAAAADs/ubik1siFDx8/s72-c/onno+boots.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6972379999829344056</id><published>2009-05-26T00:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T01:05:56.516-07:00</updated><title type='text'>Korban Intervensi Politik</title><content type='html'>Krisis Bank Sentral Islandia (Dimuat di Majalah Stabilitas, Edisi 39/Februari 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kustiah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun sebelumnya Islandia adalah negara yang telah menikmati pertumbuhan ekonomi dan sistem perbankan yang berkembang pesat. Masyarakat hampir tak menemui kendala berarti. &lt;br /&gt;Pada 2007, Islandia masuk urutan paling atas dalam Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Islandia juga dinobatkan sebagai salah satu dari 10 negara dengan indeks ekonomi terbaik oleh Fraser Institut dan Heritage Foundation. Cato Istitute, lembaga donor nirlaba yang ada di Washington DC bahkan memuji Islandia sebagai negara yang berhasil menerapkan swastanisasi perbankan, biaya cukai rendah bagi pemodal, pengurangan belanja negara, inflasi terkendalo, kebebasan bank sentral, dan kurs devisa bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islandia juga terkenal sebagai negara paling sukses dalam mengembangkan produk keuangan offshore dengan mengandalkan suku bunga tinggi dan regulasi yang yang longgar.  Salah satu penggerak perekonomian Islandia adalah turisme. Turisme yang dikembangkan adalah kelautan dengan perburuan ikan paus dan lumba-lumba yang sangat terkenal. Padahal kegiatan ini sangat dilarang oleh dunia internasional maupun Eropa. Namun nampaknya Islandia, yang juga angggota Uni Eropa, tak menggubrisnya. “Untuk negara kecil, Islandia  penuh dengan kontradiktif” tulis The Economist edisi 22 Januari 2009.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nampaknya krisis global membawa cerita lain tentang perekonomian negara yang baru merdeka dari Denmark pada 1944 ini. Kejayaan perekonomian dan perbankan Islandia tidak lagi berada di posisi puncak. Terpaan badai krisis ekonomi yang hampir melanda sebagian besar negara belahan dunia menyeret perekonomian Islandia ke jurang kehancuran. Longgarnya regulasi di sektor keuangan dan tingginya suku bunga bank membuat negara ini begitu ringkih dalam menghadang badai krisis. “ &lt;br /&gt;Islandia yang mempunyai penduduk sebesar 320 ribu ini adalah negara pertama yang menyatakan bangkrut selama krisis keuangan global 2008. Pemerintahannya gagal melakukan penyelamatan (bailout) terhadap tiga bank terkemuka miliknya. Ketiga bank tersebut memiliki utang luar negeri sebanyak USD60 miliar, enam kali lipat dari pengeluran tahunan Islandia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) serta negara-negara lain sebesar USD10 miliar untuk mengurangi kepailitan tersebut. Namun sekalipun tak keberatan dengan jumlah itu, nampaknya IMF mempunyai pesan dibalik pinjaman itu. IMF, seperti yang ditulis The Telegraph.com 19 November 2008, meminta agar pemerintah Islandia menggabungkan bank sentral dengan otoritas keuangan. Beban warga Islandia semakin bertambah berat, pinjaman dalam euro dan dollar harus dikembalikan sementara mata uang nasional krona terjun bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum krisis menghantam, kisruh kepemimpinan lebih dulu mengawali gonjang-ganjing Islandia. Geir Haarde, Perdana Menteri Islandia yang juga Ketua Partai Independen, akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya pada 1 Februari 2009. Perekonomian Islandia semakin tak menentu ketika David Oddsson, Gubernur Bank Sentral Islandia (Lansbanki) dipecat.  Gubernur bank sentral yang juga merupakan mantan perdana menteri Islandia itu diduga menjadi salah satu pemain kunci yang membuat perekonomian Islandia terjungkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar mengingatkan sebelum menjabat sebagai perdana menteri menggantikan Halldor Asgrimsson tahun 2006 lalu, Haarde adalah seorang ekonom Bank Sentral. Sedang Odsson adalah mantan perdana menteri dan menteri luar negeri yang menjabat sebagai gubernur bank sentral. &lt;br /&gt;Meski tak sepenuhnya benar, karena struktur perekonomian Islandia yang bersandar pada industri keuangan yang begitu tergantung pada pasar keuangan dunia, namun David Oddson dinilai punya peran penting dalam meliberalkan bank sentral. Bahkan saat di bawah kekuasaanyalah Bank Sentral Islandia menjadi begitu liberal dalam menentukan suku bunga. Hal ini terlihat dengan suku bunga bank sentral yang tidak pernah di bawah dua digit sejak April 2006.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan moneter yang membiarkan suku bunga tinggi mendorong tingkat inflasi tinggi pula. Lihat saja angka inflasi Islandia yang sejak pertengahan 2004 selalau di atas angka target inflasi (2,2%). Sejak itu angka inflasi tersebut selalu membumbung naik terus. Sekalipun sempat mengalami penurunan pada pertengahan Juni 2007 mencapai 3% namun menanjak kembali dengan tajam hingga mencapai 16,7% pada  November 2008. &lt;br /&gt;Di Islandia jabatan gubernur bank sentral seperti menjadi “komoditi“ politik yang dinilai strategis. Pergantian gubernur bank sentral dan perdana menteri silih berganti. Jabatan gubernur bank sentral kerap diisi mantan perdana menteri begitu juga jabatan perdana menteri seringkali disi oleh mantan gubernur bank sentral. Gubernur bank sentral kerap diberhentikan oleh perdana menteri yang notabenenya sering orang separtai. Ini menandakan bahwa bank sentral menjadi komoditi politik penguasa. Akibatnya bank sentral tidak independen terhadap kepentingan pemerintah. Namun secara hukum hal ini dibenarkan karena peraturan (undang-undang) di Islandia memang membolehkan gubernur bank sentral diberhentikan oleh perdana menteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai laporan menunjukkan bahwa independensi bank sentral berkaitan dengan tingkat inflasi dan perekonomian bangsa. Nagara yang mempunyai bank sentral independen relitif lebih bisa mengkontrol inflasi dalam jangka panjang. Salah satu kajian yang terkenal adalah yang dilakukan oleh Cukerman pada 2004. Menurutnya, secara teoritis tuntutan independensi bank sentral terkait dengan bias dalam menilai inflasi oleh pengendali moneter. Hal ini dikarenakan kebijakan moneter tidak berada di satu tangan. Selain secara teoritis Cukerman juga melihat secara empiris. Dalam kenyataanya kemelut politik sering berujung pada mundurnya (dimundurkan) gubernur bank sentral. Tugas-tugas pengendalian moneter dan harmonisasi kebijakan ekonomi dengan pemerintah pasti terganggu. Karenanya agar guncangan politik tak menggangu kinerja ekonomi maka salah satu caranya ada;ah dengan membuat bank sentral menjadi independen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan Bank Sentral Islandia,  pemecatan Oddson tak lepas dari intervensi politik Johanna Sigudardottir, Perdana Menteri Islandia pengganti Haarde. Dalam pernyataannya di televisi Islandia Rikisutvarpio (RUV) Oddsson menuding Perdana Menteri Johanna sengaja ingin menjatuhkan jabatannya demi kelangsungan kekuasaan Johanna. Menurut Oddsson, usahanya sudah maksimal dalam menjaga perekonomian islandia agar tidak terpuruk lebih dalam. Sebagai gubernur bank sentral ia telah memperingatkan pada akhir musim semi 2007 agar pemerintah dan bank komersial lain untuk mengerem hasrat bisnisnya dan menurunkan kebutuhan mereka sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jalan Panjang Landsbanki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kustiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parlemen Islandia mengesahkan Undang-Undang Perbankan No 5 Tahun 2009 hasil amandemen dari Undang-Undang Perbankan No 36 Tahun 2001 bulan lalu (26/2). Undang-undang perbankan terbaru ini mengatur penunjukan satu gubernur bank sentral sementara dan satu deputi gubernur bank sentral sementara. Amandemen ini sebagai tindakan atas pemecatan David Oddsson dari jabatannya sebagai gubernur bank sentral Islandia. Keputusan kebijakan moneter bank sentral akan diambil alih oleh Komite Kebijakan Moneter. Namun ini masih menjadi perdebatan, versi lain menyebutkan direksi bank akan diambil oleh gubernur bank sentral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Mei 2001, Undang-undang Perbankan dibuat. Isi utama yang terkandung dalam undang-undang baru ini adalah “Kebijakan moneter dilakukan hanya untuk membuat harga tetap stabil. Dengan persetujuan Perdana Menteri, bank sentral memiliki otoritas untuk mengadopsi target inflasi sebagai kerangka untuk melakukan kebijakan moneter. Inflasi ditargetkan terjadi di bulan Maret 27 tahun 2001 melalui deklarasi oleh bank sentral dengan pemerintah. Dengan Undang-undang, bank senntral akan mempromosikan program lainnya, seperti sebuah sistem keuangan yang aman dan efisien, termasuk sistem pembayaran, atau tugas lainnya yang berkaitan dengan bank sentral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas membuat kebijakan moneter adalah hak dewan yang terdiri dari tiga gubernur bank sentral. Mereka akan ditunjuk oleh perdana menteri selama tujuh tahun dan kemungkinan akan dilakukan pengangkatan kembali untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;Terlepas dari kontroversi di atas Undang-undang perbankan terbaru akan menghapus dewan gubernur bank sentral Islandia bersamaan dengan tiga dewan gubernur dan pimpinan dewan gubernur. Dalam Undang-undang terbaru juga menyatakan tentang penunjukan Svein Harald Oygard sebagi gubernur sementara dan Arnór Sighvatsson sebagai ketua ekonom bank sentral sementara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islandia memiliki sejarah panjang terkait kebanksentralannya. Perkembangan sistem keuangan Islandia tidak lepas dari evolusi ekonomi dan politik masyarakat miskin  kota  dari ketergantungan terhadap Danish Crown. Pemerintah berinisiatif mengembangkan  perbankan Islandia. Bank pertama yang didirikan adalah Landsbanki Islands (Bank Nasional Islandia di tahun 1885. Bank mulai menerima pemodal dengan surat-surat  berharga yang bebas ditukar ke Danish Crowns. Bank kedua, Islandsbanki (Bank Islandia) adalah perusahaan pribadi dengan Danish Crowns sebagai investornya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan bisnis bank dimulai tahun 1904 dan dioperasikan di bawah lembaga  istimewa  yang memperbolehkan pembayaran utang dengan emas. Setelah menjadi negara kedaulatan di tahun 1918, politikus menentang pinjaman bank ke luar negeri. &lt;br /&gt;Kebijakan moneter tidak berjalan lancar setelah perang terjadi. Landsbanki menawarkan utang pada tahun 1927, sama halnya bank komersial dengan penguasaan pasar (market share) lebih dari separuh deposito di bank. Langkah penting yang diambil untuk mengubah situasi di tahun 1951 ketika pos-pos keuangan dibekukan dan dilikuidasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1961 langkah akhir diambil untuk menentukan otonomisasi Landsbanki sebagai bank sentral. Pada tahun inilah perbankaan Islandia berkembang. Bank sentral Islandia didirikan di bawah Undang-undang Parlemen pada bulan April 1961. &lt;br /&gt;Dengan hasil keputusan menunjuk dewan gubernur dengan tiga anggota untuk mengendalikan  bnak sentral Islandia. Alpingi (parlemen Islandia) juga memilih tujuh dewan pengawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski secara formal independen bank sentral tetap membutuhkan payung hukum untuk mendukung kebijakan ekonomi.pemerintah. Hal ini dimaksudkan karena bank waktu itu tidak dapat keputusan untuk membuat perubahan penting seperti menurunkan suku bunga, yang biasanya dilakukan oleh pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama enam puluh tahun tidak ada masalah berat yang muncul saat bank dan pemerintah berkoordinasi.  Perubahan terjadi saat inflasi di tahun 70-an, dimulai dengan krisis minyak, dan kebijakan moneter semakin menambah  ketegangan. Tingkat bunga, melalui kebijakan pemerintah, adalah upaya untuk menjaga inflasi yang berangsur turun.&lt;br /&gt;Perubahan radikal dalam kebijakan moneter tidak diambil sampai 1981 ketika langkah pertama diambil untuk meregulasi suku bunga. Dua tahun kemudian,1986, Undang-undag Perbankan direvisi, menghilankan peran bank untuk melakukan regulasi suku bunga bank komersial dan bank tempat menabung. Undang-undang Perbankan tahun 1986 semakin menguatkan posisi Inpektorat Perbankan Bank Sentrla, departemen pengawas yang juga bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap institusi keuangan non-perbankan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6972379999829344056?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6972379999829344056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6972379999829344056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6972379999829344056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6972379999829344056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/05/korban-intervensi-politik.html' title='Korban Intervensi Politik'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7030234315982136550</id><published>2009-03-06T04:28:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T04:33:00.276-08:00</updated><title type='text'>Yoga untuk Keseimbangan Tubuh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Kustiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoga bukan sekadar olah tubuh. Ada proses penyelarasan fisik dan spiritual di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pikiran dan tubuh Anda tidak lagi mampu berkomunikasi dengan baik, waspadalah. Karena jika diabaikan, hal itu dapat menurunkan kualitas dan produktivitas kerja. Ketidaksinkronan pikiran dan tubuh juga dapat menyebabkan stress yang kemudian berpengaruh pada ketahanan tubuh. Jika tubuh tak lagi bugar besar kemungkinan penyakit akan mudah datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, segera cari solusi. Salah satu di antaraya adalah dengan beryoga. Yoga  berkembang di India kuno sejak 3000 SM lalu, berasal dari bahasa sansekerta kuno yuj yang berarti penyatuan (union), yakni penyatuan antara atman dan brahman (yang maha kuasa). Yoga dipercaya dapat memberikan efek positif untuk mengenal tubuh dan Tuhanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa macam aliran yoga; Jnana yoga, karma yoga, bhakti yoga, yantra yoga, tantra yoga, mantra yoga, kundailini yoga, hatha yoga, raja yoga,dan masih banyak lagi.Pemilihan aliran yoga ditentukan faktor kebutuhan dan tingkat level.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Indonesia aliran yoga yang lebih banyak diminati adalah hatta yoga. Aliran ini menekankan pentingnya pernapasan untuk mengendalikan tubuh, pikiran,dan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan olahraga lain yang mementingkan kesehatan dan kebugaran fisik, yoga  menciptakan kesinambungan mental, pikiran, dan tubuh. Karena bukan merupakan olahraga kompetisi, yoga tidak dilakukan dengan latihan keras. Dan seperti dikemukakan pembawa acara radio dan host program TV Shahnaz Haque, berlatih yoga lebih baik dengan kesadaran, bukan dengan keterpaksaan atau karena ada tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tiga anak ini menekuni yoga di Selebrity Gym sejak dua tahun lalu. Tentu ada instruktur yoga yang memandunya. Dari pengenalan yoga itulah Shahnaz mengaku memperoleh banyak manfaat. “Banyak manfaat yang bisa didapat dari olahraga yoga. Selain tubuh sehat, jiwa dan pikiran kita jadi tenang,” kata Shahnaz kepada Stabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahnaz memaparkan, Yoga memiliki tiga komponen yakni napas, pikiran, dan tubuh. Dan yang terpenting adalah fokus. Misal, saat beryoga pikiran kita ternyata tidak fokus, maka proses yoga  dapat dikatakan gagal. “Jadi dari ketiga komponen ini yang paling penting adalah fokus,” tegas Shahnaz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana respons Shahnaz terkait fatwa haram yoga yang dikeluarkan MUI? “Saya bisa memaklumi itu. Karena dalam ritualnya ada mantra yang harus dibaca dan didalami. Tapi bagi saya yoga tetaplah sebuah olahraga yang menyehatkan dan menenangkan pikiran. Jadi untuk ritual lain saya tidak menafsirkan itu sebagai sesuatu yang harus saya yakini. Olahraga ya olahraga,” kata Shahnaz istri penggebug drum Gilang Ramadhan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahnaz mengakui, setelah ikut yoga dirinya memiliki cara pandang berbeda dalam menghadapi dan memecahkan sebuah persoalan. Manfaat lainnya tubuh menjadi lentur, sehat, dan antara jiwa raga seimbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Moni, instruktur sekaligus owner Bikramyogajakarta, jumlah peminat yoga dari tahun ke tahun semakin bertambah. Studio yoga yang didirikan pada tahun 2005 ini memiliki yoga kurang lebih 4.000 hingga 5.000 peserta dari  berbagai kalangan dan usia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studio yang dikelola Moni ini hanya fokus menerapkan 26 aliran yang dilakukan dalam suhu panas 42 derajat Celsius. Menurut Moni, studio yoga yang dikelolanya tidak profit oriented. “Ada kebahagiaan tersendiri ketika ada seseorang yang datang untuk melakukan perubahan. Jadi tidak semata-mata mencari keuntungan bisnis sebanyak-banyaknya” ujar Moni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak alasan orang berlatih yoga. Ada yang ingin hidup sehat, menurunkan berat badan, membentuk tubuh, menghilangkan gangguan kesehatan seperti stress, susah fokus, dan susah tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pujiastuti Sindu, master yoga yang mukim di Bandung dan pendiri klab yoga di Bandung Yoga Leaf, olahraga ini memberikan segudang manfaat. Jika ingin mendapatkan ketenangan pikiran dan kesehatan mental, beryoga adalah keputusan paling tepat. Kombinasi gerakan, pengaturan napas, dan konsentrasi dapat melahirkan energi positif dan mengalirkannya ke dalam tubuh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya  Hidup Sehat dan Seimbang dengan Yoga, Uji- demikian ia biasa dipanggil- mengatakan yoga bisa menjadi panduan menuju  hidup sehat, damai, emosi  seimbang, dan kebahagiaan. “Jika ingin memiliki hidup berkualitas kita harus bisa menyeimbangkan antara mental, pikiran, dan tubuh” kata Uji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7030234315982136550?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7030234315982136550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7030234315982136550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7030234315982136550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7030234315982136550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/03/yoga-untuk-keseimbangan-tubuh.html' title='Yoga untuk Keseimbangan Tubuh'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6590071664766447895</id><published>2009-03-06T04:25:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T04:26:53.218-08:00</updated><title type='text'>Peta Baru Amerika</title><content type='html'>(The Pentagon’s New Map)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Kustiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sangka negara adidaya yang memiliki pertahanan pemerintahan yang tak tertandingi bisa teperdaya oleh teroris? Salah satu gedung kebanggaan Amerika —Pentagon- runtuh hanya dalam hitungan waktu 30 menit oleh bom yang diledakkan teroris lewat sebuah pesawat jet. Peristiwa 11 September itu cukup mengejutkan dan meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Amerika. Pasca peristiwa tersebut berbagai upaya dilakukan Amerika baik dengan memperketat keamanan ataupun  mengecam terorisme dan mem-blow up isu-isu tersebut ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pentagon’s New Map menyajikan informasi penting dengan perspektif yang berbeda. Pisau analisis Thomas PM Barnett cukup tajam untuk membedah apa saja titik kelemahan Amerika dalam menerapkan strategi keamanan dan pertahanan Amerika. Barnett mengulas Amerika dengan cermat.  Tak hanya itu, Barnett cukup berani mengkritik pemimipin negara karena langkah politik. yang diambil salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pentagon's New Map merupakan buku yang paling banyak dibicarakan di tahun 2004.&lt;br /&gt;“Penggabungan luar biasa antara konsep Tom Friedman tentang globalisasi dan Carl von Clausewitz tentang perang. Buku ini cukup berani mengkritik pemimpin negara yang sedang berkuasa” tulis David Ignatius di The Washington Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal penting yang perlu digarisbawahi dari buku ini adalah upaya keras menerapkan strategi jitu Amerika di abad dua puluh satu. Sebuah buku yang menghadirkan gagasan cerdas, Barnett menamai globalisasi di mana negara sebagai penyumbang sejarah dan menjelaskan perlunya pengarusutamaan informasi untuk memperketat keamanan tidak hanya di negara Amerika tapi juga negara di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang professor dan analis senior di US Naval War College, Barnett  tidak asing dengan budaya kerja Pentagon dan  Departemen Dalam Negeri (keduanya memercayai Barnett sebagai peneliti di lembaga pemerintahan tersebut) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang layak dijadikan referensi untuk mengubah peta perpolitikan dan pertahanan Amerika menghadapi abad baru selanjutnya. Tentu mengubah dan membenahi strategi negara tidak seperti membalik telapak tangan. Butuh analisis dan membaca peta lebih saksama. Dan tidak ada kata terlambat bagi Amerika untuk memulai. Tidak hanya penting bagi Amerika, konsep dalam buku Barnett ini cocok diaplikasikan di seluruh negara di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barnett berpendapat teroris dan globalisasi telah diterapkan dari dulu untuk mengakhiri perang 30 tahun di Eropa yang terjadi 400 tahun lalu [Thirty Year’s War (1618–1648) merupakan salah satu perang paling berbahaya dalam sejarah Eropa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan Barnett merupakan tantangan bagi Amerika untuk terus membenahi strategi keamanannya. Waspada dan menyusun rencana baru merupakan langkah penting. Jika saat ini aman, bisa jadi esok ada serangan. Sebab bom waktu bisa meledak di suatu waktu, hanya persoalan waktu dan kesempatan yang menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barnett menulisnya dengan gaya dialogis. Di samping bahasannya yang proporsioanal karya Barnett ini juga sangat jelas, dengan struktur bahasa yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehariannya Barnet bekerja sebagai penasihat di sekretariat departemen pertahanan Amerika selain seorang analis, editor Esquire, dan penulis kolom mingguan di The Scripps Howard News Service. Barnett mendapatkan gelar doktor dalam bidang ilmu politik di Harvard University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***********&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6590071664766447895?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6590071664766447895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6590071664766447895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6590071664766447895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6590071664766447895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/03/peta-baru-amerika.html' title='Peta Baru Amerika'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6912593574362469397</id><published>2009-03-06T04:12:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T04:15:57.770-08:00</updated><title type='text'>Amerika Pasca-Bush</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Great Powers: America and the World After Bush)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh:  Kustiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi setelah Bush tak lagi menjabat sebagai presiden? Apakah Amerika akan tetap dingin terhadap negara-negara lain di dunia atau sebaliknya? &lt;br /&gt;Setelah pelantikan Barrack Hussain Obama sebagai presiden Amerika 20 Januari lalu, banyak masyarakat dunia baik sahabat maupun musuh Amerika menaruh harapan besar. Harapan akan terciptanya kedamaian dunia dan kebijakan Amerika yang berpihak pada kepentingan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Bush memang tak hanya meninggalkan setitik nila bagi negaranya dan negara-negara lainnya. Tapi juga telah meresahkan masyarakat luas terkait pilihan dan keputusannya yang kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok saja peristiwa Irak. Pasukan Amerika dikerahkan dan intimidasi tak henti-hentinya dilakukan  untuk membuat Saddam mengaku dan jera. Dan keputusan diambil, Saddam harus segera dipenggal dengan alasan telah menyimpan senjata pemusnah massal yang membahayakan dan pada rezimnya telah melakukan pembunuhan massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa lainnya adalah tuduhan Amerika terhadap Iran tentang nuklir. Amerika khawatir Iran telah menyimpan dan mengembangkan teknologi nuklir. &lt;br /&gt;Ahmadinejad, presiden Iran yang dikenal teguh dengan prinsip dan ideologinya ini keukeh menyatakan, bahwa Iran memiliki hak untuk mengatur negaranya sendiri tanpa campur tangan Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Irak adalah salah satu dari lusinan persoalan yang sedang dihadapi pemerintahan Bush. Namun terlepas dari semua itu, invasi AS ke Irak lebih membahayakan perdamaian dunia dan stabilitas global daripada program nuklir Iran. Bahkan perekonomian Amerika yang semakin terpuruk lebih mengkhawatirkan masyarakat Amerika sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bush dikenal manusia bertangan besi. Dia mengadopsi ideologi ayahnya, Goege Bush, “bergabung menjadi kawan atau lawan”, menerapkan  kebijakan yang banyak tidak menguntungkan negara dunia ketimbang menguntungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Great Powers: America and the World After Bush, buah karya Thomas PM Barnett &lt;br /&gt;memberikan analisisnya yang berani tentang pemerintahan Bush. &lt;br /&gt;Analis Amerikanis ini dikenal sebagai orang yang optimistis. &lt;br /&gt;Meski negara luas telah mengecam berbagai kebijakan Bush, baginya tak ada yang tak bisa dibenahi.&lt;br /&gt;Penggabungan yang luar biasa tentang globalisasi dan segala tantangan yang akan dihadapi pasca-Bush membuat buku ini menarik untuk dibaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barnett punya alasan, bahwa selama Amerika mau belajar dari masa lampau, tidak mungkin negara superpower ini tidak kembali berjaya dan menjadi kiblat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita adalah simbol manusia modern,” kata Barnett dalam bukunya tantang apa yang seharusnya kita lakukan dalam menghadapi era globalisai. Ia mengevaluasi kegagalan pemerintahan Bush, menawarkan preskripsi untuk membenahi atau melakukan pembelaan  bahwa sampai saat ini Amerika  tidak melakukan sesuatu apa pun yang benar dan  membiarkan semua ide menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab pertama buku ini Batnett memulainya dengan celaan “The Seven Deadly Sins of Bush-Cheney”. Dan pembaca akan lebih terpikat lagi dengan ide brilian Barnett pada bab-bab selanjutnya. &lt;br /&gt;Barnett juga menyarankan tak ada salahnya Amerika berkaca dan belajar dari kesuksesan China dalam menghadapi krisis dan mendongkarak sistem perekonomiannya yang pernah terpuruk. Maka, kita tunggu perubahan apa yang akan terjadi pasca-pemerintahan Bush.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6912593574362469397?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6912593574362469397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6912593574362469397' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6912593574362469397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6912593574362469397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/03/amerika-pasca-bush.html' title='Amerika Pasca-Bush'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7166515731003949189</id><published>2009-02-24T04:25:00.001-08:00</published><updated>2009-02-24T04:28:42.408-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SaPn7L_ZmnI/AAAAAAAAADk/oQbIV_EjhVs/s1600-h/IMG_1394.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SaPn7L_ZmnI/AAAAAAAAADk/oQbIV_EjhVs/s320/IMG_1394.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306339789989583474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sosok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Permintaan Aneh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya apa pengalaman mengesankan saat manggung, Waljinah tertawa renyah.&lt;br /&gt;“Jadi gini,” kata Waljinah. “Selesai manggung saya duduk sebentar untuk istirahat. Nah, waktu itu ada ibu hamil datang ke saya minta perutnya dielus-elus. Lalu saya tanya, kenapa minta saya elus? Katanya kalau nanti anaknya lahir suaranya biar kayak saya,” lanjutnya terkekeh saat mengisi acara diskusi “Langgam Keroncong Riwayatmu Dulu, Langgam Campursari Riwayatmu Kini” di Jln Veteran Minggu kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Waljinah, selama permintaan penonton  nggak neko-neko akan ia turuti. Maestro langgam campursari yang biasa dikenal dengan Walang Kekek-nya ini bahkan merasa senang jika bisa mengabulkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai di situ saja. Ada pengalamn lain yang membuat ia geli. Pernah ada penonton datang padanya minta diludahi. Pasalnya waktu itu penontonnya sedang sakit, siapa tahu ludah Waljinah manjur. Ada-ada saja. Kustiah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7166515731003949189?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7166515731003949189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7166515731003949189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7166515731003949189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7166515731003949189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/02/sosok-permintaan-aneh-saat-ditanya-apa.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SaPn7L_ZmnI/AAAAAAAAADk/oQbIV_EjhVs/s72-c/IMG_1394.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1938319823501333408</id><published>2009-02-24T01:37:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T01:42:31.666-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kalau Anda Ambeien&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kustiah &lt;br /&gt;Kustiah@jurnas.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ambeien bisa berakibat anemia, mengabaikannya bukan tindakan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Duduk memang memberikan kenikmatan tersendiri. Apalagi dikakukan setelah beraktivitas di luar ruangan. Tentu duduk merupakan obat mujarab untuk menghilangkan rasa lelah. Dan awam mengenal duduk berlama-lama sebagai salah satu penyebab penyakit ambeien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pendapat tersebut dibantah Aru Sudoyo, dokter ahli penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM). "Ambeien terjadi akibat pembuluh darah vena di permukaan rektum (dubur) melebar yang disebut ambeien. Mirip terjadinya pelebaran pembuluh darah di tungkai atau biasa kita sebut varises," katanya menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemoroid atau ambeien berasal dari dua suku bahasa Latin, yakni "haem" yang berarti darah dan "rheo" berarti mengalir. Hampir setiap orang memiliki ambeien atau hemoroid, yang tidak melulu menimbulkan rasa sakit. Biasanya rasa sakit muncul jika ambeien telah membesar menjadi benjolan yang berbentuk kantung atau balon berisi darah segar kadangkala keluar lendir atau mukus. Benjolan sendiri muncul karena sering mengedan. Tekanan feses (tinja) yang menggesek kulit dinding anus mengakibatkan pelebaran permukaan pembuluh di sekitarnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemahnya dinding pembuluh darah yang terletak tepat di bawah permukaan usus bagian ukung (rektum, dekat anus) bisa menjadi salah satu penyebab ambeien dan menimbulkan rasa sakit. "Ambeien yang muncul sebagai benjolan dapat membesar. Benjolan yang semakin membesar biasanya berisi darah segar membentuk seperti selang. Jika tekanan meningkat dan pengejanan terjadi terus-menerus akan mengakibatkan kantung tersebut pecah. Dan bisa terjadi pendarahan," kata Aru.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambeien memang tak semenakutkan penyakit kronis lainnya sepeti kanker atau tumor. Namun, tetap tidak boleh diabaikan saja, apalagi menyepelekannya. Karena, ambeien dengan benjolan yang sudah membesar dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Keluhan seperti anus terasa panas selepas buang hajat, gatal, dan kulit anus terasa lembap membuat hidup si penderita tidak nyaman.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, potensi tumbuhnya benjolan merupakan ancaman. Jika benjolan yang berbentuk kantung atau balon tersebut pecah, pendarahan akan terus terjadi. Akibat pendarahan yang terus-menerus ini akan mengakibatkan penderita terserang anemia (kurang darah). Sedangkan anemia menyebabkan risiko-risiko lain, seperti badan lemah, letih, lesu, dan tidak bertenaga. Bayangkan, bila kondisi ini terjadi pada mereka yang dalam usia produktif. Berapa kerugian yang mesti ditanggung lembaga, perusahaan, atau bahkan aegara bila kualitas sumber daya manusianya terganggu.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Aru, guna menghindari atau menyembuhkan penyakit ambeien ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, dengan konsumsi makanan berserat. Makanan berserat dapat memudahkan feses turun dengan lancar sehingga seseorang tak perlu melakukan pengejanan. Namun, jika pendarahan masih terjadi konsumsi makanan berserat sebaiknya dihentikan dulu sampai pendarahan berhenti. Mengangkut barang-barang berat (semisal angkat besi) tidak dianjurkan, kecuali melakukannya dengan teknik yang benar. &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tak Harus Dioperasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Kustiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK mengobati ambeien tidak harus selalu dengan cara operasi selama benjolan masih belum terjepit anus atau tidak berdarah masif. Namun, jika ambeien sudah pada kondisi kritis semisal darah terus mengucur, pengobatan bisa dilakukan dengan cara   menyuntikkan obat atau terapi aklerosing. Atau dengan cara mengikat kantung dengan karet gelang agar pendarahan berhenti. Tentus saja pengikatan dengan karet ini dilakukan oleh doketr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr Cahyo Adi Nugroho dalam www.mer-c.org, pengobatan eksternal juga bisa dilakukan dengan cara mengompres dengan cairan hangat dan dimasukkan perlahan-lahan, dapat juga diberi salep anus dan suppositoria (ini sebagai analgetik saja, bukan sebagai pengecil benjolan). Untuk terapi tindakan lainnya bisa dengan cara skleroterapi, yakni menyuntikkan larutan kimia ke jaringan submukosa di bawah hemoroid supaya terjadi jaringan parut, biasanya untuk hemoroid yang besar dan prolaps.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan gejala, hemoroid dapat dibagi dalam empat level. Pertama, ada hemoroid, selaput lendir bengkak, belum ada prolaps (juluran keluar anus). Kedua, muncul prolaps waktu mengedan yang bisa masuk kembali ke dalam anus secara spontan. Ketiga, muncul prolaps dan untuk masuk kembali perlu dibantu tangan. Keempat, prolaps yang tak dapat dimasukkan kembali ke anus. Bila sudah mencapai level tiga dan empat, cara operasi bisa dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyembuhkan hemoroid perlu pengaturan diet makanan dan cara buang air besar. Diet yang dianjurkan adalah diet cukup serat, sekitar 30 gram per hari, minum yang cukup, dan mengurangi makanan yang berbumbu berlebihan misalnya pedas. Sampai saat ini belum ada penjelasan tegas apakah ambeien merupakan penyakit keturunan. Namun, seringkali penyakit ini ditemukan lebih tinggi pada suatu keluarga dibandingkan keluarga lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1938319823501333408?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1938319823501333408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1938319823501333408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1938319823501333408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1938319823501333408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/02/kalau-anda-ambeien-ambeien-bisa.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-8524243884946230834</id><published>2009-01-29T04:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T04:47:15.093-08:00</updated><title type='text'>Kematian</title><content type='html'>Kustiah**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati atau tidak bernyawa. Tapi lebih tepatnya wafat untuk mengabarkan berita buruk atas kecelakaan maut yang terjadi di dekat tempatku bekerja sore itu. Manusia datang, berkerumun. Satunya berkomentar, lainnya mengintip dengan telapak tangan yang ditutupkan di mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore menjelang malam. Bahkan sore sudah serupa dengan warna aspal, gelap. Kerumunan manusia semakin melebar dan keramaian tak terelakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mampu menahan rasa penasaran, aku segera melompat menuju kerumunan. &lt;br /&gt;Kulihat tubuh terkulai di atas tanah tanpa alas apa pun. Rambut sebahu telah bercampur tanah. Muka pucat. Mata terpejam dengan kedua tangan tersedekap di atas perut. Separuh tubuhnya tak bisa kulihat dengan jelas. Sebatas perut hingga kaki telah tertutupi koran. Hanya ujung jari-jari kakinya yang tampak. Tak jauh dari tubuhnya, sendal tergolek tanpa pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi sibuk mengeja, mengabari, berdesas-desus. Manusia berkerumun terpaku, gelisah. Hatiku tak kalah gelisahnya. Ingin kutanyakan kepada siapa pun, apa yang terjadi?, bagaimana bisa terjadi?, bagaimana selanjutnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mundur. Lalu kembali pada sebuah tubuh yang tak kukenal. Kupandangi, sisanya lagi  hatiku bergetar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh itu kini sendiri. tanpa nyawa yang menggerakkannya. Tak ada keinginan atau kemarahan, apalagi penyesalan. Tubuh itu kini pasrah. Sendiri bersama alam yang diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya kulihat sunyi. Usianya mungkin tak jauh dari usia ibuku. Yang hidupnya sedang bergulat untuk anak-anaknya. Mungkin dia sendiri tak ingin meninggalkan anak-anaknya di rumah dengan jerit tangis tak rela. Atau melihat suaminya terkejut dengan kepergiannya yang  mendadak, tanpa pamit dan kecupan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggui. Hingga akhirnya mobil ambulans datang menjemput. Mengangkatnya dan entah akan membawa tubuh itu ke mana. Kulihat tanah bekas perempuan tadi terbaring. Darah kental meluber. Segera laki-laki datang dengan membawa pasir dan menumpahkannya ke atas darah kental. Di ujung aspal, darah masih terlihat berkilauan. Merah bercampur hitam aspal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan. Tenangkanlah raga tubuh yang baru saja Kau ambil Ruhnya. Tenangkan pula Ruhnya. Tabahkan hati anak-anak dan suaminya. Saudara-saudara dan orang-orang yang mengenalnya. Mungkin kepergian ini tak ia kehendaki, dengan pedih dan sakit yang ia rengguk di pinggir jalan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya. Engkau senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Mu. Maka tak ada kesalahan dan yang disalahkan. Jika semua telah Kau kehendaki,,maka aku hanyalah menjadi penonton-Mu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah jalan ini menjadi saksi atas ketidakberdayaan tubuh menahan sakit. Ketakberdayaan manusia yang pada akhirnya memang akan kembali kepada-Mu. Biarlah aku mengingat kenangan pahit ini tiap memijak jalan yang telah menjadi saksi nyawa hamba-Mu terenggut. Yang bisa jadi tanpa dampingan siapa-siapa, tanpa air putih terteguk, atau air mata menetes, nyawa pergi meninggalkan tubuh. Semua telah terjadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-8524243884946230834?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/8524243884946230834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=8524243884946230834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8524243884946230834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8524243884946230834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/01/kematian.html' title='Kematian'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1648009520983960826</id><published>2009-01-11T22:57:00.001-08:00</published><updated>2009-01-11T22:57:28.526-08:00</updated><title type='text'>Anak Yatim</title><content type='html'>Oleh: Kustiah***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tunggu ya. Besok datang ke rumah pukul satu siang. Ingat kan rumahku blok A4 nomor 6. Tahu kan perumahan seberang?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Insya allah bu, besok saya ke sana. A4 nomor  6 ya,” katanya dengan mata bulatnya, &lt;br /&gt;meyakinkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan pagi  selepas bangun tidur aku langsung menuju dapur. Rumah sepi. Nur, yang biasa menanak nasi dan bertugas belanja pergi ke pasar pagi sekali untuk kulakan barang dagangannya. Kulongokkan kepalaku ke kamar sebelah. Kulihat Soleh masih tidur terlelap. Mungkin dia masih kelelahan setelah bulu tangkis semalam, pikirku. Mengurungkan niat untuk membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat. Aku punya janji bertemu seseorang siang ini. Maka setelah bersih-bersih di kamar mandi, segera kunyalakan kompor untuk memasak menyiapkan sarapan sekaligus membuatkan bakwan untuk tamuku nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang memasak jantungku berdebar campur haru. Masih terngiang-ngiang suara anak perempuan kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Assalamualaaikuuuuuuuum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Assalamualaikuuuuuuuuum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut hati seperti mengumpul air dan merembeskannya ke dalam mataku. Di sudut mataku tiba-tiba terasa perih karena muncul rembesan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, apa mungkin aku mau menstruasi setelah jeda tiga bulan?,” aku membatin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Apa mungkin aku tidak hamil. Tentu tidak”. Aku tertawa kecut. Sadar betul bahwa itu tidak mungkin. Begitu dua bulan tidak menstruasi aku dan suami langsung membeli tespek. Lagi-lagi aku harus menerima kenyataan dan kekalahan. Entah dengan suamiku. Yang kulihat dari raut mukanya adalah dia sedang berusaha menenangkan dan mendamaikanku dengan keadaan. Hasilnya jelas, negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasa sedikit mulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah, keluarlah jika ingin keluar. Aku siap melihat warna merah di celana dalamku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Soleh masih juga belum keluar dari kamar. Dan aku membangunkannya untuk sholat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar langkah kaki terseret di luar rumah. Kubuka pintu. Dan kudapati Nur baru pulang dari pasar dengan jagungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Nur aku ceritakan pertemuanku dengan anak perempuan kecil itu. Tengah malam begitu aku pulang dari pertemuan RW di rumah tetangga seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak cukup kuat menahan haruku seorang diri. Juga aku ingin mengatakan ke Nur bahwa hidup kita sebenarnya sangat beruntung dan banyak diberikan berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bersyukurlah kita Nur, masih memiliki orang tua lengkap di saat kita belum siap jika ditinggalkan. Dan kita masih tahu dan mengenal wajah bapak ibu kita,” kataku ke Nur dengan mata merembes dan hati pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku nggak bisa membayangkan Mbak. Hatiku juga seperti tersayat mendengar cerita Mbak Tik tadi,” kata Nur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami diam di saat malam telah menjelang pagi. Mataku masih juga terjaga, tak merasakan kantuk sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mbak, aku tidur di luar aja ya.Biar besok bisa kulakan pagi-pagi sekali. Kalau tidur di dalam kamar biasanya aku susah bangun pagi. Siang biar aku bisa menemui anak perempuan kecil itu,” kata Nur sedikit meminta izin dan berpesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu. Aku akan melarangnya tidur di luar ruangan. Tanpa kasur dan selimut. Selain aku tak mau seluruh ruangan rumah yang hanya ada tiga ruang ini menjadi tempat tidur. Tidur ya di ruang tidur. Ruang keluarga yang juga sebagai ruang tamu tak boleh digunakan sebagai ruang tidur kecuali terpaksa. Misal jika ada tamu yang mesti tidur di dalam ruangan, otomatis dua saudara sepupu laki-itu mesti tidur di luar. Untung sampai saat ini belum pernah ada tamu yang menginap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya,” jawabku singkat sambil menutup mata dengan selimut dan bantal memaksa tidur di dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Nur pulang dari pasar aku ingin menceritakan pertemuanku dengan anak  perempuan kecil itu kepada Soleh. Antara iya dan tidak karena berbagai pertimbangan. Karena hati ini tak bisa menahan haru dan senang akan pertemuanku siang ini aku berhasil memulai mengatakannya. Meski aku bisa menebak apa yang akan di katakan Soleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Nur yang hatinya lembut dan kata-katanya tersususn enak dan menenangkan, Soleh justru sebaliknya. Sifatnya keras. Antara kritis dan kesoktahuannya tipis sekali dibedakan. Kata-kata yang diucapkannya seperti tanpa peduli dengan hati yang mengajaknya bicara. Biasa ceplas-ceplos tapi minim wawasan. Dan hatinya sangat sensitif. Jika diluruskan Soleh segera masuk kamar mengabaikan penjelasan apa pun.Tapi dia banyak ide dan mau mencoba banyak hal meski kadang sering menyepelekan orang lain.  Jarang aku berkata-kata dengannya jika tidak penting setelah berkali-kali mendapat jawaban dan respons yang tidak mengenakkan. Hanya Nur saja yang mampu menjadi teman dekatnya meski tidak jarang konflik terjadi. Untung Nur tahu itu. Diam baginya adalah jawaban tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya kang Soleh. Anak perempuan kecil itu nanti siang mau ke sini. Aku memintanya datang jam satu siang,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya kalau yang dikatakannya itu benar. Bisa saja sampeyan ditipu. Mbak percaya saja begitu,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tahu apakah anak perempuan itu menipuku, jujur atau tidak. Aku bisa melihat kebohongan dan kejujuran dari matanya,” kataku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ooo, jadi mbak tahu kalau ada orang tidak jujur. Tapi takut mengatakannya. Tidak berani bilang ke orang itu kalau dia bohong”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudahlah,,malas saya membahasnya. Iya, mungkin aku orang bodoh yang gampang percaya orang lain. Sudah, sudah, tak perlu dilanjutkan lagi pembicaraan ini. Aku sudah menduga itu yang akan kau katakan kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Soleh masuk kamar. Entah apa yang dilakukannya. Dan Nur datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu merayap. Akhirnya selesai juga aku memasak. Dan kami sarapan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jam berapa dia datang Mbak,” tanya Nur sambil menyuapkan nasi pertama ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nanti jam satu,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sempat ragu apakah dia bisa datang siang ini atau tidak. Mendung tebal. Dan aku tidak yakin dia ingat alamat rumah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pertama. Mengingat alamat orang yang tidak ia kenal. Tentu dia tidak akan hapal mukaku. Sayang,,malam itu aku tidak membawa pulpen untuk mencatatkan alamatku. Sebelumnya aku menawarkan agar anak perempuan itu menelponku. Tapi apa mungkin. Biasanya telpon ke HP kan mahal, pikirku malam itu. &lt;br /&gt;Ah, aku hanya bisa berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azan zuhur berkumandang. Itu artinya jam satu siang tinggal sejam lagi. Hujan mulai rintik. Dan Nur kembali masuk rumah setelah menanam pohon singkong dan kangkung di lahan taman yang belum terurus  di samping rumah.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mondar-mandir. Membuka pintu dan menutupnya kembali. Mengambil kain pel dan mengelapkannya ke lantai yang basah karena hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam bergerak. Dan saat ini pukul satu tet. Nur kulihat keluar. Dia meminta izin untuk menjemput anak perempuan itu di depan gang perumahan setelah merasa telah melihat anak kecil berkerudung lewat saat Nur menanam kangkung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi aku melihat anak kecil berkerudung lewat. Apakah anak itu Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa tak kau tanya dia mau ke mana?”&lt;br /&gt;”Kau itu jangan keterlaluan diamnya. Lihat, jika kelihatannya dia bingung tanya dia mau ke mana,” pekikku tak tertahan. Dan Nur segera keluar setelah aku berkata tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu mungkin tak akan kutemui lagi. Setelah niatku ingin memintanya bekerja dan tinggal bersamaku. Atau memasukkanya ke sekolah menengah pertama di daerah Tebet sana. Sama seperti yang kulakukan terhadap dua saudara sepupuku laki-laki ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa usiamu sekecil ini meminta-minta,” tanyaku menatap mata anak perempuan yang tampak lelah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke mana orang tuamu? Berapa saudaramu?”.&lt;br /&gt;“Rumah di mana? Masih sekolah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di sudut kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hatiku merembes jika ingat jawabannya yang lugu yang aku yakin dia tidak berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku hanya ingin mengamati apa saja dan bagaiman yang dilakukan peminta-minta. Kuamati dia dari jarak tiga rumah di depanku. Aku tahu, anak perempuan itu pasti tahu telah aku amati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamualaikuuuuum”&lt;br /&gt;“Assalamualaikuuuuum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu berdiri di depan rumah jauh dari pintu. Jika rumah itu berpagar dia cukup berdiri di luar pagar. Jika rumah belum berpagar maka dia akan berdiri di lima langkah dari pintu rumah. Suara salam dikeraskan. Jika nasib baik, pintu pemilik rumah akan terbuka dan tangan dengan uang yang saya tak tau nilainya menjulur. Lalu anak perempuan itu akan mendekat dan mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih mengamati tapi juga tak melepaskan pandanganku ke ponsel yang sedang mengirim pesan. Aku ada janji dengang pengurus RW di rumah temanku malam itu. Karena ini pertama kali aku ke rumahnya dan belum tahu alamatnya maka kukirim pesan agar ia mengirimkan  alamatnya segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan itu sudah berdiri di lain rumah. Kali ini sudah tiga rumah tak membukakan pintu dan memberinya uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia melewatiku yang berdiri di tengan jalan gang yang sepi. Pintu rumah di blok ini memang telah tertupup semua. Maklum malam itu udara cukup dingin dan waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Tiga langkah di depanku, entah kenapa kakiku mengikutinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dik, aku mau tanya”.&lt;br /&gt;Tiba-tiba mulutku kubuka. Ponsel masih di tangan. Belum aku masukkan ke saku karena masih menunggu balasan dari temanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rumahnya mana?,” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Leuwipanjang bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mana itu. Jauh dari sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya jauh bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berapa ongkos dari sini ke rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dua puluh ribu bu, naik angkot.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terus berangkatnya jam berapa dari rumah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mulai jalan jam satu siang”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Jalan kaki dari jam satu siang,” mataku mendelik tidak percaya. Tapi berusaha percaya dan mendengaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masih punya kakak, orang tua?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bapak sudah meninggal waktu saya tuju bulan di dalam kandungan. Ibu sakit lumpuh di rumah, ditungguin sama kakak yang berusia 19 tahun. Kakak yang kedua 24 tahun dan kakak pertama 29 tahun bekerja diajak temannya di Jakarta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya rapat setelah menjelaskan panjang lebar kepadaku. Tak kalah rapatnya, mulutku bahkan terkunci menelan ludah. Terasa pahit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu kamu-minta-minta. Sekecil ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam. Kepalanya tetunduk. Badannya bergoyang sedikit. Dan otomatis tas rangsel yang menggantung menutupi dada dan perutnya ikut bergoyang. Tangannya memegang lembaran kertas, seperti peminta pada umumnya. Membawa kertas bertuliskan berapa ribu yang pemberi berikan. Kerudungnya tidak kumal amat, meski lusuh sedikit. Rok panjangnya menutupi mata kaki dan hanya terlihat sendal dan kakinya yang hitam. Bajunya panjang dan longgar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat wajahnya kecokelatan matang. Mungkin karena jalan siang sepanjang hari  terkena sinar matahari. Matanya sendu dan bulat. Tubuhnya kurus, persis seperti adik perempuanku sewaktu duduk di kelas satu SMP. Secepat kilat aku merasa kangen ke adikku yang sedang menempuh sekolah menengah atas di sebuah pondok pesantren di ujung Pati sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu pulangnya jam berapa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nanti jam sembilan jam sepuluh bu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah dapat berapa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Delapan ribu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Delapan ribu dari jam satu siang?,” mataku kembali mendelik.&lt;br /&gt;”Lalu ongkosnya nanti bagaimana, kan itu belum cukup”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat tirai jendela rumah di depanku dibuka. Mungkin karena percakapan kami agak terdengar keras. Dan aku memelankan suaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau kerja?”&lt;br /&gt;”Di mana bu?”&lt;br /&gt;”Ya di rumahku,” diam aku berpikir. Mulutu sekonyong-konyong menawarinya kerja tanpa aku tahu apa yang akan dikerjakannya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kerja apa bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Em,,emmm...pokoknya kerja. Bisa membantu saudaraku jualan jagung atau mau jualan jus?,” serta merta aku mencoba mencari ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nanti setiap minggu bisa pulang menengok ibu. Dan aku gaji”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebulan sekali aja bu. Biar uangnya ngumpul. Kira-kira gajinya berapa bu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Emm,emm tiga ratus ribu. Adik makan dan kebutuhan hidupnya ibu tanggung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atau mau sekolah. Sudah sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lulus SD. Tidak punya ongkos buat sekolah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ooo, ya sudah. Nanti aku sekolahkan. Emmm,,em, gampanglah itu. Atau supaya lebih jelas bagaimana jika besok adik ke rumah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh, jam berapa bu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisanya jam berapa? Jam satu siang juga boleh. Gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya allah saya ke sana. Rumahnya di mana bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”O ya,. Tahu kan perumahan seberang,,Blok A, sama dengan perumahan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ooo yang seberang jalan bu ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya,ya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biasanya semalam dapat uang berapa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak tentu bu, kadang dua puluh. Tapi di perumahan seberang stasiun, ada ibu yang meminta saya datang setiap tanggal 20. Ngasih 200 ribu. Ada yang meminta saya datang tanggal 30 ngasih seratus”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tiap bulan datang ke sana?” ah lega, pikirku. Berarti dia masih bisa makan enak. Paling tidak selama sebulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah makan?” aku berniat mengajaknya makan ke rumah. Atau aku ajak ke lapak tempat dua saudara sepupuku laki-laki berjualan. Memberinya roti bakar atau jagung bakar. Atau memberinya uang saku untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia menolaknya. Dan memilih melanjutkan perjuangannya. Kulihat dari belakang  baju dan rok yang besar menutupi tubuhnya yang kurus. Dan mungkin juga kakinya yang kecil tapi kuat karena jalan berkilo-kilo meter sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana nasibmu ke depan nak. Sedang di usiamu yang belia engkau harus mengabiskan waktumu untuk terus berjalan dan meminta orang mengasihanimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya perlahan-lahan lenyap. Tapi suaranya masih bisa kudengar. Tentu isakan tangisku tak mampu kau dengar. Karena malam telah menelannya. Dan hanya hatiku saja yang merasakan pedih dan mataku yang perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuhan aku titip kebaikan untuk anak perempuan yatim ini. Aku janji akan memeliharanya dan menengok ibunya yang lumpuh. Aku janji, akan kusekolahkan anak yatim ini jika esok ia datang kepadaku.,” doaku penuh harap sementara kakiku terus melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tak juga reda. Nur juga telah kembali dari depan gang menunggu anak perempuan itu muncul. Kutengok jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga. Kulihat langit masih mendung. Hati berdebar masih menyisakan harapan akan terdengarnya sapaan anak perempuan yatim itu ,,”Assalamialaikuuuuuuum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kustiah. Lahir di Blora 10 Mei. Penulis cerpen, saat ini bekerja sebagai penyelaras bahasa di sebuah koran harian di Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1648009520983960826?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1648009520983960826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1648009520983960826' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1648009520983960826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1648009520983960826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/01/anak-yatim.html' title='Anak Yatim'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3859789463237471959</id><published>2009-01-11T22:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T22:55:24.306-08:00</updated><title type='text'>Kangen</title><content type='html'>Oleh: Kustiah**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi telepon yang hanya berada tiga meter di depanku. Sambil kusandarkan tubuhku di tembok kamar, mataku tertuju pada telepon genggam yang tergolek di atas meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”You become the meaning of my life”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu milik Micheal Learn To Rock  mengalun sayup-sayup dari laptop di atas kasur. Aku berdiri menuju ruang yang paling aku sukai di antara ruang-ruang lain di rumahku. Sebuah ruang kecil tanpa atap dan perkakas apa pun kecuali dua pot kembang dan batu koral. Di ruang ini aku merasa ada tempat yang menampung kesepianku. Bebas menghirup udara segar dan menatap awan tanpa terhalang atap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyucup air di gelas yang kupegang dengan kedua tanganku kulihat dua pot kembang. Satu pot kembang kantil yang tumbuh besar dan subur kudapat dari seorang teman kerja di kantor. Satu  kembang yang kedua kuperoleh dari taman di kantor tempatku bekerja .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan mengharap-harap telepon berbunyi. Satu jam lalu suamiku menelfonku, tapi entah kenapa aku masih menunggu suaranya di ujung sana. Sudah seminggu lebih ini dia berada di luar kota untuk menyelesaikan tugas akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan gelisah saling mendesak di relung hati dan jiwa. Aku sulit mengendalikannya. Antara kangen, sepi, dan beberapa persoalan saling lompat dan tindih. Handuk kulingkarkan pada leherku karena baju yang kukenakan berkerah terlalu rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mengingat di mana aku lebih sering sendiri. Menyulam sepi dan mengetik setiap kata di memori otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik di Garut, Semarang, Yogyakarta, maupun di Jakarta bagiku makna sepi tetap sama. Tak ada yang berubah. Sepi, air mata, dan janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, apakah ada hubungannya antara kehadiran atau keberadaan. Terkadang dengan serampangan aku menerjemahkannya antara waktu menjelang menstruasi dengan keadaan jiwa yang memang benar-benar dirundung sepi. Tak ada penaklukan kecuali berdamai pada diri dan keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu juga bukan lebih baik. Tapi sangat berarti jika aku memaknainya sebagai pelaku yang menaklukkan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah suamiku berkelindan. Ingat saat berdiskusi menjadi saat menyenangkan. Atau bangun tidur melihatnya tertatih menghampiriku di dapur dengan mata setengah terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masak apa Ma?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara parau dan rambut tebal hitam yang tak teratur hanya mengenakan kaus dalam putih dan celana sebatas lutut menambah penampilannya seperti anak lima tahunan yang berlari mendekati ibunya yang sedang memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sebelum bangun, ia akan memanggil dan mencariku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami, ibu, adik, simbah, dan semua orang yang ada di pikiranku menghampiri. Saling berganti dan memeras air mata. Semakin aku ingin bertemu semakin air mata ini berderai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perasaan apakah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mencoba memberi toleransi dengan menuliskannya di dalam laptopku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya harapan yang mampu menghidupiku dengan baik. Dengan sepi, air mata, dan janji aku yakin jiwaku baik-baik saja. Dengan ribuan janji dan untaian doa aku terus menanamkan benih kebaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3859789463237471959?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3859789463237471959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3859789463237471959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3859789463237471959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3859789463237471959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/01/kangen.html' title='Kangen'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-5957279674503074557</id><published>2009-01-07T00:26:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T00:30:19.632-08:00</updated><title type='text'>Menuju Stasiun</title><content type='html'>Oleh: Kustiah**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  sebuah jalan kulewati waktu siang dan malam. Gang sempit yang lebih banyak orang dan rumah saling berjejal ketimbang tanah atau jalan lapang.. Aku lebih memilih jalan ini meski lebih banyak bau, sering berpapasan, dan tak kurang saling bersenggolan. Terkadang pun aku harus menunggu odong-odong lewat terlebih dahulu, atau melewati riuhnya anak-anak bermain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan itu tak ada sisi kanan atau kiri. Aku selalu menyebutnya tengah jalan. Karena di tengahlah aku bisa berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati gang sempit saat malam hari lebih menyenagkan ketimbang siang. Selain aku tak perlu membuka payungku, selalu saja ada yang menarik yang bisa aku amati di waktu malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan ini kulihat gadis-gadis remaja bergandengan tangan, berbicara keras diselingi tawa lebar kadang berderai. Melangkah ke depan lagi kulihat sepasang mata melotot mengamati betis hingga paha melenggok,,tak lain milik gadis-gadis itu. Kulihat mereka masih seusia adik perempuanku yang sedang sekolah menengah atas, sekitar 17 tahunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin saja aku salah. Di Jakarta, tubuh bisa mengelabui. Badan bongsor dengan dandanan centil belum tentu dikatakan remaja. Bisa saja mereka berusia 13-an tahun atau sedang sekolah menengah pertama. Yang kupersoalkan bukanlah umur, tapi lebih pada kepintaran mereka berdandan yang bisa membelalakkan mata laki-laki yang saat itu mungkin sedang stres atau kelelahan sepulang kerja. Aku tersenyum melihat bapak setengah tua itu masih melotot. Melangkah ke depan lagi kulihat seorang gadis muda, terkaanku sedang duduk di kelas satu menengah pertama. Sedang asyik menempelkan ponsel ke kuping yang di jepit dengan bahu kirinya. Tangannya kulihat sibuk memainkan sebuah kayu mengorek tanah. Bicaranya enteng, terdengar bahasa anak muda Jakarta, ”Lu, gue, dan kemudian centil Namur tampak serius”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanku memasuki gang sempit itu memang sengaja kupelankan. Aku merasa tidak sendiri. Mereka di sepanjang jalan itu seperti dekat dan kukenal. Mungkin karena aku melewatinya sepanjang hari. Dan selalu menebar senyum pada ibu-ibu yang selalu duduk-duduk di setiap sisi jalan setiap aku lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli dikatakan sok kenal. Bagiku mengatakan permisi dan senyum adalah tindakan yang membuat hati dan mukaku nyaman. Seolah mukaku yang kencang sedikit kendur. Mulutku yang tidak rata dengan pipiku terasa tenggelam dan enak. Jika mulutku tenggelam ke dalam aku lebih merasa hidungku tampak mancung. Kemudian merasa percaya diri bahwa aku tidaklah jelek amat Aku kembali tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah demi langkah tak terasa mendekati jembatan yang menghubungkan aku dengan stasiun. Tempat di mana aku harus segera bersiap-siap merasakan ketaknyamanan. &lt;br /&gt;Tapi kurasa masih jauh. Paling tidak seratus langkah lagi untuk menjangkaunya. Dan aku masih menikmati gang sempit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat terdengar suara riuh anak-anak, langkah lebih kupelankan. Mereka sedang asyik bermain lompat karet. Memenuhi jalan. Hampir tak ada sedikit pun sela bagiku untuk lewat. Karet yang ditali memanjang dibentangkan dipegang dua anak perempuan. Majulah satu per satu baik anak laki-laki maupun perempuan untuk melompaati tali karet itu. Jika ingin menang dan bisa terus melompat maka tali itu tak boleh tersentuh baik oleh kaki maupun tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku terhenti. Sekadar lewat aku harus menunggu hingga mereka benar-benar sadar bahwa ada orang lain yang ingin lewat.&lt;br /&gt;”Hoi,,biahrkan ibu lewat dulu. Minggir-minggir”, kudengar teriakan ibu-ibu tak jauh dari tempat anak-anak bermain. Dan melangkahlah kakiku. Dan aku kembali tersenyum pada anak-anak dan menyapa ibu-ibu. Menganggukkan kepala tanda terima kasih telah mengingatkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutengokkan kepalaku ke kanan dan kekiri. Awas akan kondisi gang sekitar. Saat kepalaku kutengokkan ke kiri, masih  kulihat seperti hari-hari lainnya, seorang kakek tua dengan baju sama seperti kemarin sedang tertunduk lesu. Tubuhnya kecil. Di perutnya dibenamkan entah apa ditutupi bajunya yang longgar. Sehingga tampaklah perutnya membuncit. Suatu kali aku pernah memergoki lelaki tua itu membuka baju longgarnya yang lusuh. Dan di keluarkanlah sesuatu dari balik bajunya. Seperti kain yang dililit-lilit membentuk ikatan tali tampak seperti tambang dek yang biasa digunakan di kapal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut kakek itu putih, panjang sebahu. Mukanya penuh kerutan. Kulit tua tapi tak muncul sedikit pun raut kesedihan. Mulutnya datar dengan kumis dan janggut panjang tak terurus. “Tentulah bapak ini tampan waktu mudanya” aku membatin. Tak ada alasan aku takut dengannya. Meski tatapannya kosong. Lebih sibuk dengan gelang-gelang yang melingkar di tangannya. Sesekali senyum-senyum sendiri. Aku tetap minta permisi kepadaanya. Aku tahu ada yang salah. Entah kakek tua itu paham atau tidak, tapi aku telah berhasil untuk tidak takut dan lari darinya. Kutinggalkan kakek itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh meter melangkah, kali ini kulewati laki-laki kira-kira berumur 40-an. Pandangannya menerawang. Meski aku tahu dia mengambil posisi enak dengan berbaring di sebuah kurs panjang. Kubuyarkan lamunanya,,”Permisi pak”, kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O ya,ya,,silakan bu,” jawabnya kaget. Kembali aku tersenyum. Kali ini aku sudah berada di ujung gang. Tepat di balik pintu besi yang biasa ditutup saat tengah malam. Di balik pintu besi itu pula ada warung rokok milik seorang nenek tua. Buru-buru kulangkahkan kakiku. Khawatir jika ada motor melintas. Karena pada ujung gang itu ada kelokan jalan. Juga tempat di mana tukang ojek mangkal. Maka aku tak ingin nasibku sial dengan menyerahkan tubuhku untuk disenggol motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di ujung gang berarti aku sudah melewati jembatan yang menghubungkan aku dengan stasiun. Begitu sampai di jembatan ini biasanya suamiku mengingatkan. ”Lebih baik setiap hari engkau lewat jalan gang tadi. Nyawamu tidak terancam dari serempetan bus atau motor”, pintanya yang berkali-kali diulang dan diulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku gang ini tidak sekadar  jalan sempit yang kumuh. Melainkan jalan tengah yang memberikan kenyamanan ketimbang melewati trotoar jalan umum yang lumayan lebar. Aku tak perlu ketakutan jika tiba-tiba ada motor di belakangku. Biasanya di gang ini pengendara akan lebih pelan dan menunggu pejalan kaki memberinya jalan. Berbeda dengan trotoar jalan besar itu. Meski telah berada di trotoar tempat pejalan kaki berjalan, tidak jarang ada motor meraung-raung di belakangku. Atau saat aku melompat menghindari lubang selokan menganga, aku merasa seperti ada mulut ular di dalamnya siap menelan kaki dan mengunyah kakiku dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ngungggg,,ngungg”. Bunyi kereta lebih jelas terdengar. Dan tinggal lima puluh langkah lagi kakiku segera menjejak stasiun tempat kereta kutunggu. Biasanya aku harus bersiap-siap menutup hidung. Meski tak ada bau menyengat seperti gang yang kulewati belum lama ini. Aku merasa mual. Bukan ada bau busuk truk tempat sampah yang mangkal di  samping stasiun itu. Tapi asap rokok yang mengepul. Di antara jari mereka. terjepit rokok dengan berbagia aroma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begini rasanya aku ingin kembali ke kantor tempatku bekerja melewati gang-gang sepit yang kumuh menyapa mereka. Atau segera aku ingin sampai di rumahku yang sepi dan lengang. Tapi tak mungkin kuhindari asap itu kecuali menutup hidungku rapat-rapat. Menahan sesak lebih baik ketimbang berpikir tidak realistis. Karena bagaimana pun juga tubuhku butuh istirahat. Jiwaku butuh imaji. Pikiranku butuh kejernihan. Lalu kuhempaskan napasku jauh-jauh. Menunggu kereta dan menyiapkan diri berjejal dengan berbagai ukuran tubuh dan aroma. Aku telah terlatih karenanya. Hingga tak kurasakan lagi mana yang kusebut wajar dan tidak. Bagiku bedesakan di dalam kereta sama halnya bekejaran  dengan motor yang tak terkendali di jalan  itu. Bahkan aku merasa lebih aman di dalam kereta meski tanpa penerangan. Itulah yang kusebut ketidakwajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bermotor aku bisa leluasa bernapas, di dalam kereta jangan kira aku bisa berdiri tenang. Untuk bernapas aku harus mencari celah yang biasa aku dapatkan dari ketiak manusia menjulang tinggi dengan tangan panjang terangkat ke atas pepegang pada gelang-gelang kereta. Aku mencoba menghirup napas meski bercampur bau keringat.&lt;br /&gt;Aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara air mata dan keringat saling mendahului. Maka menangis tak ada gunanya. Aku hanya bisa bertahan hingga kereta ini berhenti di stasiun ke-16.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-5957279674503074557?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/5957279674503074557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=5957279674503074557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/5957279674503074557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/5957279674503074557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/01/menuju-stasiun.html' title='Menuju Stasiun'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-8312316271829633317</id><published>2009-01-04T01:00:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T01:01:24.572-08:00</updated><title type='text'>Penjual Kacang</title><content type='html'>Oleh: Kustiah**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan rintik. Langit tergores hitam samar-samar. Mungkin gerimis belum cukup menerpa sore ini saja. Bisa jadi hingga larut malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututupi daganganku dengan lembaran plastik. Seperti malam lalu, aku akan menunggu hingga penumpang kereta terakhir datang untuk menghabiskan dagangan.&lt;br /&gt;Kuusap mukaku dengan ujung lengan bajuku. Hari ini aku lupa membawa payung. Lupa telah menyusahkanku. Sering aku marah pada diri sendiri karena lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku lupa membawa kantong plastik untuk bungkus dagangan. Dan sangat terpaksa aku harus mengeluarkan uang untuk membeli kantong plastik kembali. Padahal jika tidak lupa, uang yang aku keluarkan untuk beli kantung plastik bisa aku gunakan untuk membeli lauk dan ongkos sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku kesal karena lupa. Lupa telah banyak merugikanku. Di lain waktu aku lupa membawa payung. Alhasil aku harus menahan dingin sepanjang sore hingga tengah malam karena bajuku basah kuyup akibat kehujanan saat berangkat berdagang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya aku membenci lupa. Tapi apa mau dikata. Antara keinginan untuk tidak lupa dengan ketidaksadaran saling mendahului. Maka aku harus lebih bersabar lagi menghadapi kepikunanku di saat aku masih muda. &lt;br /&gt;Maka aku berpesan dalam hatiku. Jika tiba-tiba ingat sesuatu aku tak boleh menyia-nyiakannya. Harus segera melakukan jika tidak ingin menyesal. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seperti malam lalu. Aku tanpa payung. Untungnya hanya gerimis. Air jatuh tak sebesar hari kemarin. Aku mencoba menaksir sisa dagangan. Kira-kira masih ada sepuluh bungkus lagi. Satu bungkus kacang  seharga tiga ribu rupiah. Jika pembeli hanya meminta dua ribuan maka jumlahnya akan bertambah atau sekitar dua puluhan bungkus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Surni. Ibu biasa memanggilku Sur saja. Tanpa Ni di belakangnya. Aku tinggal bersama ibuku di sebuah desa nan dingin. Orang biasa menamai desa tempat tinggal kami desa hujan. Karena hampir bisa dipastikan desa kami diguyur hujan atau gerimis sepanjang hari. Kata orang-orang pintar itu karena desa kami berada di dataran tinggi dengan banyak pohon. Dan kata orang-orang pintar lagi itu karena desa kami sangat rimbun. Bahkan kami lebih sering merasakan kedinginan ketimbang panas. Maka tak heran jika banyak orang kota mulai banyak menempati lahan-lahan kosong di desa kami untuk tempat tinggal mereka.  Saat aku tanya ke ibu dari mana mereka datang, ibu mengatakan bahwa mereka dari kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itulah cerita kecil yang aku ketahui tentang tetangga-tetangga baruku. Kata ibu lagi, mereka lebih suka tinggal di desa dingin dan rimbun seperti di desa kami. Di kota, tambah ibu menjelaskan udara panas dan pengap. Jalanan macet dan bau selokan di sepanjang jalan menyengat. Aku tidak tahu kapan ibu pergi ke kota sampai ia bisa menceritakan keadaan kota demikian detail. Aku pun tahu kota hanya dari koran-koran yang tidak sengaja aku baca. Biasanya para penumpang kereta melemparkannya begitu saja di dekatku lalu aku memungut dan membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang membuatku bertanya-tanya dalam hati, mengapa tetanggaku tidak menyukai pohon. Bukankah mereka menyukai dingin dan rimbun?. Dulu sewaktu aku melewati jalan menuju rumah, pohon-pohon rindang seperti hantu raksasa. Saat malam hanya ada gelap dan jalan berkerikil yang aku lalui. Hanya sinar lampu dari rumahku samar-samar menerangi. Dan jika langkahku telah mendekati rumah, dengan segera aku berlari kencang karena takut. Aku merasa ada seseorang  yang mengikutiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda lagi saat siang hari. Jika tidak gerimis, sepulang sekolah aku biasa jalan dengan teramat pelan. Karena aku makan mangga yang kuambil dari tegalan tetangga. Jika ketahuan ibu aku akan habis dimarahi. Maka dengan jalan pelan-pelan di bawah rimbun pohon nan sejuk aku bisa menghabiskan mangga hasil jerih payahku. Itulah salah satu kenangan tak terlupakan yang aku miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, pohon-pohon itu telah tiada. Aku hanya bisa mengenangnya. Tak bisa lagi mengulang masa indah memahat cerita untuk esok. Tetanggaku telah menebangnya untuk dibangun rumah bergaya spanyol. Dengan hiasan pohon-pohon bonsai yang ditanam dalam sebuah pot plastik. Dan sekeliling halaman hanya ada keramik mengilat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku tanya ibu tentang sebuah kotak putih dengan kabel besar bertuliskan LG yang menempel di dinding rumah tetangga, ibu bilang bahwa itu alat pendingin ruangan. “Jika kamu kegerahan kamu bisa menyalakannya. Tidur akan menjadi nyaman dan pulas,” kata ibu. Sayangnya lagi aku tidak bisa membayangkan apa yang telah ibu katakan. Berada di dalam rumah keramik berdinding tembok seluruhnya dengan udara dingin. Ah, pasti mereka tidak pernah keluar rumah. Merasakan udara luar yang dingin menusuk tulang. Apalagi harus ditambahi alat pendingin. Apa karena pintu mereka tidak pernah dibuka maka mereka kepanasan? Kataku membatin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ibu tahu kotak putih menempel di dinding itu apa.  Suatu hari tetangga baruku mengundang ibu datang ke rumah mereka. Kata ibu mereka meminta ibu membantu memasak untuk syukuran rumah baru mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah sekarang aku tinggal bersebelahan dengan orang kaya yang bentuk rumahnya bergaya spanyolan. Yang warna keramik halamannya lebih bagus dari dinding rumahku. Tanaman dalam pot plastiknya pun tak pernah kulihat sebelumnya. Aneh-aneh. Ada yang berbentuk ayam. Rumput hijau yang tampak lembut pun memenuhi tanah yang menghampar. Semuanya kecil dan tampak indah dan cantik. Seperti selaras dengan model rumah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibandingkan dengan bentuk rumahku seperti langit dan bumi. Di depan rumahku berjajar pohon mangga. Di bawahnya ada bayam, kemangi, dan daun ubi jalar. Sedang di luar pagar menjulang pohon randu. Tapi memang benar kata ibu, rumah ini sebelumnya milik seorang duda yang ditinggal anak-anaknya ke kota. Dan diubahlah sedikit-sedikit di sana-sini oleh bapak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jarak rumahku dengan stasiun tempat aku berjualan sekitar tiga kali lebar lapangan sepak bola yang ada di desaku. Aku biasa menempuhinya dengan berjalan kaki. Kadang jika tidak ada pekerjaan membantu memasak di rumah tetangga ibu akan mengantarku ke stasiun. Daganganku setiap hari sepulang sekolah adalah lima kilo kacang tanah rebus. Setiap hari ibu membelanjakannya setiap pagi untukku. Mengayuh sepeda menuju pasar selepas mengantarku  ke sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tinggal berdua saja di rumah ujung jalan yang berdinding setengah bawah bata dan setengah atas kayu. Bapak yang membelikan untuk kami sebelum aku lahir. Aku sendiri belum pernah bertemu bapak  hingga usiaku menginjak lima belas tahun. Suatu kali saat aku tanyakan perihal bapak, ibu menjawab bahwa bapak pergi mencari uang di pulau seberang. Dan aku percaya apa yang sudah ibu katakan. Meski aku pernah mendengar cerita lain dari tetanggaku bahwa bapak sudah menikah jauh sebelum menikahi ibuku. Dan ia kembali ke pangkuan anak istrinya.&lt;br /&gt;Suatu kali aku mencoba menanyakan bapak sekali lagi. Dan ibu menjawabnya dengan linangan air mata. Kemudian  menceritakannya padaku  panjang lebar. Itulah keputusan besar ibu yang  menceritakan sejarah hidupnya kepadaku. Mungkin karena aku  dianggapnya telah cukup matang untuk mengetahui semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah aku hanya menyayangi ibuku selain kakek tua yang berjualan lontong tahu di samping tempatku berjualan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat jam yang menempel di dinding stasiun  menunjukkan pukul 10. Malam bertambah dingin. Aku menggeserkan daganganku ke tembok agar lebih hangat. Sepiring lontong tahu pemberian kakek telah habis kukunyah. Kakek penjual sendiri pun telah pulang tadi setelah azan isya. Di stasiun tinggal para penjual buah dan aku saja. Karena gerimis penjaga stasiun yang bertugas menarik karcis hanya terlihat berdiri di samping pintu stasiun saja. Biasanya jika tak hujan atau gerimis ia akan berbincang denganku. Menunggu penumpang terakhir turun atau sekadar menemaniku sambil mengobrol. &lt;br /&gt;Sama sepertiku, sama-sama menunggu penumpang kereta terakhir. Jika ia menunggu penumpang kereta terakhir turun untuk memeriksa karcis, aku menunggu penumpang kereta terakhir untuk daganganku. Barangkali sebelum memutuskan melangkahkan kaki menuju rumah masing-masing mereka ingin mengemil kacang. Membeli dagangan yang kugelar setelah zuhur tadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutunggu kereta terakhir datang. Jika tidak terlambat kereta akan sampai stasiun tempatku berjualan pukul sebelas malam. Menunggu hingga tengah malam datang menjemput.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-8312316271829633317?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/8312316271829633317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=8312316271829633317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8312316271829633317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8312316271829633317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/01/penjual-kacang.html' title='Penjual Kacang'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-2665227468938016463</id><published>2009-01-01T07:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T07:09:42.820-08:00</updated><title type='text'>You must be Better than Years Ago</title><content type='html'>Do What You Can Do,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-2665227468938016463?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/2665227468938016463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=2665227468938016463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2665227468938016463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2665227468938016463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2009/01/you-must-be-better-than-years-ago.html' title='You must be Better than Years Ago'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3083661363657238034</id><published>2008-12-18T05:16:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T05:18:24.627-08:00</updated><title type='text'>Kini Aku Mengerti</title><content type='html'>Kini aku mengerti..&lt;br /&gt;Mengapa sendiri lebih menyenangkan&lt;br /&gt;Meski terkadang menunggumu juga melelahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku mengerti..&lt;br /&gt;Mengapa tiap kali kita berbicara tidak pernah ketemu&lt;br /&gt;Karena ternyata kita menyebut diri aku dan kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku mengerti ..&lt;br /&gt;Kenapa menangis menyenangkan&lt;br /&gt;Karena aku tidak selalu bisa mengerti tentangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah mimpi ada di depan mata &lt;br /&gt;Dan aku kejar entah sampai sejauh apa..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3083661363657238034?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3083661363657238034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3083661363657238034' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3083661363657238034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3083661363657238034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/12/kini-aku-mengerti.html' title='Kini Aku Mengerti'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-5720319188280041435</id><published>2008-11-17T01:33:00.001-08:00</published><updated>2008-11-17T01:34:35.662-08:00</updated><title type='text'>Di Suatu Hari nan Indah</title><content type='html'>Tak ada yang istimewa pada pertemuan kali itu. Hanya senyum simpul dan tatapan redup yang sebentar tertunduk dan sebentar tenggelam dalam diam. Lelaki itu datang pada awal tahun tepat saat aku mengharapkan kedatangannya.&lt;br /&gt;Yang kuingat dari hari itu adalah  matanya yang bulat seperti bulan tenggelam dalam air kali di samping rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 September.. entah di tahun ke berapa kita pergi mendaki bukit yang tak terjal amat. Ada beberapa kawan yang menyertai pertemuan kita. Berhenti pada bebatuan bukit dan berbicara di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu engkau tak keberatan aku ajak bicara di sini,” ucapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita memulai dengan berbicara antara aku dan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang diam-diam kupandangi wajahmu. Dan jantungku hampir berhenti saat aku kau pergoki telah mencuri pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lain karena aku tak memiliki keberanian menatap tajamnya matamu. Engkau tak akan melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarkan aku mencari keyakinanku Nggi. Aku tak yakin kau mampu meyakinkanku”&lt;br /&gt;Perjalanan telah lama aku tempuh. Namun berkali-kali kandas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tak kau lanjutkan kejaran cintamu dengan perempuan yang kau idamkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku diam. Memberi jeda. Tak lama kau merespons apa yang aku katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah mengenalmu lama. Meski tak pernah berhasil menemukan wajahmu, aku telah tahu sinar dan kedalaman hatimu. Percayalah. Aku bisa kau percaya untuk meyakinkanmu.&lt;br /&gt;Dan benar. Aku menemukanmu persis seperti yang aku bayangkan dan kutemui dalam mimpiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin sore berembus tipis. Kulihat kabut mulai beranjak merapat menuju kaki bukit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita turuni jenjang bukit menuju pos terakhir rombongan kita. Meski pertemuan bukanlah awal, dan perpisahan bukanlah yang terakhir. Aku menghendaki perpisahan. Karena pada saat itulah harapan tumbuh untuk bertemu denganmu di suatu hari nan indah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-5720319188280041435?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/5720319188280041435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=5720319188280041435' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/5720319188280041435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/5720319188280041435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/11/di-suatu-hari-nan-indah-tak-ada-yang.html' title='Di Suatu Hari nan Indah'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3290548597842374038</id><published>2008-11-17T01:08:00.001-08:00</published><updated>2008-11-17T01:08:54.068-08:00</updated><title type='text'>Dirimu, Diriku</title><content type='html'>Diam-diam aku menyimpan rindu. Pada hijaunya sawah dan perawannya jalan yang sering kulewati. Bersama ketiga sahabatku,,dengan ribuan semangat bersaudara.&lt;br /&gt;Canda tawa tak pernah lepas. Sedih pun luruh jika bersama mereka. &lt;br /&gt;Tidak jarang bahkan, kami bolos kuliah hanya untuk bertandang ke kos teman yang lain. Tapi yang lain boleh iri jika kita selalu membuat takjub teman sekelas karena presentasi mata kuliah. Tentu bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini kangen terhadap mereka berkelindan tak menentu. Membicarakan hal yang ringan bersama mereka menjadi serius dan berat. &lt;br /&gt;Kami telah berpisah terhitung sepuluh tahun. Dan barangkali Shinta telah menyekolahkan anak pertamanya ke Sekolah Dasar. Dan Lia, tentulah anaknya akan masuk sebuah Taman Kanak-kanak. Aat, sahabatku yang hitam manis itu. Ia sangat perfeksionis untuk seorang laki-laki. Tak sembarang memilih orang menjadi teman hidupnya. Aku sendiri heran dibuatnya. Yang dipilihnya memang sederhana seperti yang ada dalam pikiranku..cerdas, baik, dan pengertian. Tak perlu ganteng, hanya cakap dan berkepribadian tentunya. &lt;br /&gt;Sulit memang. Tak semudah teorinya Eric Fromm atau Lutfi,,ternyata sampai usia kepala tiga lebih pun kami sulit menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sore ini aku sering menghabiskan waktuku di beranda. Membacai kata-kata yang pernah kugoreskan pada berlembar-lembar kertas. Tersenyum dan kadang lebih banyak mengernyitkan dahi. &lt;br /&gt;Dan kenangan tak tinggal diam dalam sebuah kertas. Ia mengajakku berkelana mengunjungi masa lalu yang telah beranjak. &lt;br /&gt;Tentulah aku takkan menjadi perempuan yang menyedihkan begini jika aku menjalani hidup biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;Pekerjaan lebih banyak menyita waktuku dari pada kesenangan-kesenangan lainnya. &lt;br /&gt;Tak sempat olehku memikirkan laki-laki dengan serius. Hati dan otak ini lebih banyak menilai dan membaca yang dekat denganku.&lt;br /&gt;Betapa hidup telah kubuat seserius ini.&lt;br /&gt;Teman-teman dengan anak-anak dalam pangkuannya sering menanyaiku soal yang mereka anggap keanehan itu.&lt;br /&gt;“laki-laki seperti apa lagi yang hendak engkau terima Tia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begitu aku akan susah menjelaskan apa yang jadi kehendakku. Dan tak mungkin aku jelaskan panjang lebar mengenai pilihan-pilihanku. Karena pertanyaan itu tidak untuk mengetahui jawaban beserta penjelasannya. Yang dibutuhkan hanyalah aku mengikuti jejak mereka. Menikah yang penting berjenis kelamin laki-laki,ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh pedih. Hingga akhirnya harus mempertahankan ikatan pernikahan dengan sekam yang membara di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tak kulanjutkan lagi membacai surat-surat lama yang tertimbun tumpukan buku tahunan lalu. Hanya membutuhkan komputer untuk menghilangkan penat dan rasa rindu pada sahabat-sahabatku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar memang. Terasa hidup demikian sunyi tanpa sahabat yang dengan setia dan rela menghabiskan waktunya bersamaku.&lt;br /&gt;Datanglah ingatanku pada laki-laki gondrong ceking dengan dandanan tak pernah necis.&lt;br /&gt;Ketidaksengajaanlah pertemuan itu sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang awalnya datang dari satu mulut ke mulut lain. Hingga perjodohan sesama kawan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian datanglah ia mencegatku untuk berbicara lebih banyak dan dekat. Tepatnya di sebuah pertemuan perwakilan mahasiswa se-nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bolehkah aku mengundangmu untuk ngobrol malam ini di depan pendopo,” ia memulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak bisa kutolak  karena aku memang tak bisa mengatakan tidak untuk hal baik. Dan ku iyakan saja ajakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebanyak ini kau ajak kawan-kawanmu sekadar menemuiku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Mereka tak percaya padaku bahwa aku juga sanggup berkenalan dengan seorang perempuan. Sepertimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah perbincangan yang dibuka dengan perkenalan. Dan diskusi tak bisa dihindarkan lagi. Karena kami sama-sama memiliki kebiasaan, kesukaan, dan semangat yang sama. Hingga kami tak merasai bahwa pagi telah mengirim embun dan angin dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perbincangan di tengah malam laki-laki gondrong itu seperti telah mengiisap shabu. Ketagihan dan ketagihan. Dan di malam-malam seterusnya kami berdiskusi hingga mata tak mampu membelalak lagi.&lt;br /&gt;Di hari lainnya kami menghabiskan waktu tidak di dalam Simposium tapi di beberapa narasumber. Kami keranjingan untuk menemui dan mewancarai. Hanya diperlukan kesabaran untuk mendengarkan cerita, kisah kebesaran yang telah lalu. Dan kami berdua dengan satu kawannya kembali menuju wisma tempat kami bertemu awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,,betapa aku telah merasa mengenalnya lebih setelah jabatan tangan kala itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa kilo jalan yang telah kita susuri. Dan entah berapa ribu kata yang telah kita untai dan rangkai bersama. Bertemu denganmu seperti tak habis topik pembicaraan. Tak pernah bosan mendengar dan mengucap. Itulah yang kurasakan selama dekat denganmu. &lt;br /&gt;Selalu kutemukan semangat baru dan kudapat energi baru....dan akhirnya tak ada lagi kata pencarian. Yang ada adalah membangun dan mengerti,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3290548597842374038?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3290548597842374038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3290548597842374038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3290548597842374038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3290548597842374038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/11/dirimu-diriku.html' title='Dirimu, Diriku'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7426331393509200447</id><published>2008-11-17T00:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T00:39:37.638-08:00</updated><title type='text'>Gerimis di Tepi Jendela</title><content type='html'>Aku menunggu pada tepi jendela yang sedikit terbuka. Gerimis pun tak kunjung reda meski telah mencurah berjam-jam lamanya. Lampu-lampu telah kunyalakan. Dan semua pintu telah aku tutup. Aku masih berdiri pada tepian jendela yang tak sepenuhnya aku buka. Aku khawatir pada petir yang terus menyambar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga engkau baik-baik saja di mana pun berada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti permintaan atau lebih tepatnya doa, aku memandangi pintu gerbang halaman dengan tak henti-hentinya mulutku berkomat-komit. Berharap pintu itu segera kau buka dan aku akan merasa lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun harapan itu kembali kosong.  Sedang petang terus meredup. Awan ikut mewarnai gelap. Jam dinding berdentang enam kali. Aku keluar dari kamar menuju teras rumah. Biasanya engkau akan bahagia jika aku yang membukakan pintu. &lt;br /&gt;Kutunggui beberapa menit dengan memperhatikan jatuhnya air pada pucuk-pucuk bunga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku menyerah pada dingin dan kembali kututup daun pintu menuju sofa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemericik air mengantarkanku pada lamunan. Karena sendiri, aku lebih banyak berpikir  jika tidak dikatakan melamun. Pikiran beranjak mundur. Dan perasaan bersalah mengaliri darah di seluruh tubuhku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersalah telah mendiamkanmu karena rasa kesal yang tak bisa kutahan. Dan saat engkau pergi bekerja seperti sedianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran kecil itu membuatku tak nyaman. Meskipun engkau akan tetap memperlakukanku dengan baik. Seolah-olah tak terjadi apa-apa engkau akan mengawali pembicaraan dengan menceritakan aktivitasmu selama seharian penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu kelebihanmu, pikirku. Bisa melupakan pertengkaran dengan segera. &lt;br /&gt;Berbeda degan aku yang lebih sering memendam dan menyimpannya. Menunggu waktu yang tepat untuk segera mengatakannya. Tak jarang keluar protes dan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kali ini. Karena seminggu ini Engkau tak pernah bertanya bagaimana kabarku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pekerjaanmu lebih bisa menuntutmu ketimbang sekadar bertanya bagaimana keadaan istrimu. Dan tentu kau akan memilih kesenanganmu akan pekerjaan-pekerjaan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kau jawab apa yang telah aku katakan. Dan kau kembali dengan muka masam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bukankah aku yang seharusnya marah dan bermuka masam,” tambahku. Kau masih juga tak menghiraukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku tak bisa merendahkan suaraku. Apa pun namanya, aku lebih tidak suka Engkau diam seribu kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, besok aku akan pergi mengunjungi seorang kawan. Akan kutinggalkan pekerjaanku untuk sementara waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu menunggu lama. Sudah kupastikan kau akan mengatakan atau melakukan sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi saja. Senangkan dirimu jika kau merasa tersiksa berada di rumah ini” katamu dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta merta aku menuju kamar. Mengemasi kopor dan buku yang hendak aku bawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku benar-benar tak perlu merasa bersalah jika harus pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jendela ini menjadi saksi tiap datang sedihku. Dan aku akan berada di tepiannya membuang pandangan ke luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kita berakhir dengan rasa sakit yang kutanggung. Entah berapa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selalu ada maaf, entah berapa banyak yang aku miliki. Hingga kita lupa pada pertengkaran lusa, dan lusa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medio Desember&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7426331393509200447?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7426331393509200447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7426331393509200447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7426331393509200447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7426331393509200447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/11/gerimis-di-tepi-jendela.html' title='Gerimis di Tepi Jendela'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-957221725073911088</id><published>2008-10-22T02:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T02:52:02.621-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SP7zYU1d0UI/AAAAAAAAADA/CA5-n0pmw1w/s1600-h/Poppy+Sudarsono.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SP7zYU1d0UI/AAAAAAAAADA/CA5-n0pmw1w/s320/Poppy+Sudarsono.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259909014050689346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;POPPY DHARSONO:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERPOLITIK KARENA PANGGILAN HATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, meski akhirnya gagal di tingkat Komisi Pemilihan Umum. Tahun depan Poppy berencana mengikuti hajatan politik mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Daerah Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang melatarbelakangi Poppy terjun ke dunia politik? Seberapa jauh kesiapannya? Berikut wawancara Kustiah dengan perempuan kelahiran Garut, 57 tahun lalu ini di sela-sela acara pembukaan sebuah galeri di Jakarta Selatan beberapa pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa yang membuat Anda tertarik terjun ke dunia politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih karena panggilan hati. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang serius untuk membesarkan bangsanya. Memang political will dari pemerintah sudah ada, hanya saja masih ada hambatan. Soal skill dan sumber daya manusia. Di negara kita ini banyak politisi, tapi jarang yang benar-benar berbuat konkret untuk masyarakat. Semua mengatasnamakan rakyat, tapi ujung-ujungnya lebih mementingkan kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berniat membantu masyarakat lemah. Selain dengan perbuatan nyata, ada kebijakan yang lebih memihak kehidupan mereka. Khususnya pemberdayaan orang-orang lemah, membantu orang-orang yang secara ekonomi dan sosial belum terbantu. Misalkan saja usaha industri kecil. Saat ini belum banyak yang mengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah untuk tujuan itu harus melalui dunia politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Membantu secara langsung. Sebenarnya apa yang saya lakukan saat ini adalah melanjutkan apa yang sudah saya lakukan kemarin-kemarin. Mendirikan usaha kecil untuk masyarakat yang memiliki skill dan (merupakan) sumber daya masyarakat yang bagus tapi, tidak ada yang mewadahinya. Mengembangkan usaha-usaha kecil. Kebetulan saya kan terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia yang sudah melakukan pendampingan terhadap usaha-usaha industri kecil. Ada 150 orang anggota lebih yang melanjutkan program ini. Dan sudah berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagaimana respons keluarga dan teman-teman Anda saat mengetahui Anda terjun ke politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sangat mendukung. Salah satunya membantu mempersiapkan buku dan peluncurannya. Sharing tentang bagaimana usaha-usaha kecil bisa berkembang dan membantu mengerjakannya. Mereka sangat men-support.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Persiapan apa saja yang sudah Anda lakukan untuk rencana pencalonan Anda di DPD tahun depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama fokus dengan buku. Saya ingin mendokumentasikan perjalanan 30 tahun berkarya sebagai desainer. Buku saya lebih banyak bercerita tentang sejarah kain-kain Nusantara. Kain yang kita olah ternyata masih up to date dengan fashion-fashion yang sedang ngetren saat ini. Tiga Desember nanti akan di-launch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tetap mempersiapkan kampanye. Satu tahun mengurusi persiapan pilkada yang gagal tahun lalu cukup membuat saya terbantu. Meski gagal, saya masih bisa melanjutkan network yang saat itu sudah saya bangun, konstituen-konstituen juga masih intens. Kami sudah mempersiapkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berapa banyak dana yang Anda gunakan untuk pendaftaran calon kepala daerah tahun lalu dan persiapan pencalonan DPD tahun depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pencalonan pilkada tahun lalu saya habis banyak. Cost politic memang tidak sedikit. Kurang lebih saya habis satu miliar. Ini untuk cost politic lho, bukan money politic. Tidak ada pelican-pelicin. Yang begitu-begitu lebih baik saya tidak usah aja deh. Ya namanya juga berpolitik. Kalau untuk pencalonan DPD ini saya baru habis 400 juta (Rupiah). Untuk ongkos pergi ke daerah bersama teman-teman. Saya kan perginya tidak sendiri. Ada teman-teman pendukung yang menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Apa penyebab Anda gagal di pilkada Jawa Tengah tahun lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, saya sebenarnya ingin cerita. Tapi of the record aja ya …. Biasa, politik itu kan selalu identik dengan biaya mahal. Nah, ini yang membuat saya lebih baik tidak melanjutkan saja. Kalau untuk kebutuhan konkret membantu masyarakat mungkin saya masih toleransi, ini sudah lain ceritanya. Kalau secara kualifikasi saya tidak ada masalah. Ya karena faktor lainnya itu, yang bagi saya bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Apa saja aktivitas Anda selain bergiat di dunia politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih seputar persiapan peluncuran buku Redifining Heritage. Ada rencana buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah diakses. Judul dalam bahasa Indonesia “Memakna Ulang Pusaka Budaya”. Saat ini saya kan banyak waktu. Kalau dulu bekerja perlu waktu panjang, sekarang sudah tidak lagi. Apalagi waktu yang saya habiskan tidak sedikit, 30 tahun. Masak (saya) masih tetap membutuhkan waktu 12 jam untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia desain bagi saya adalah profesi karena hobi. Saat ini saya melakukannya di waktu-waktu sela. Kan tidak perlu waktu lama. Kalau ada waktu 12 jam saya hanya membutuhkan waktu enam jam untuk menyelesaikannya. Kalau teman-teman selesai bekerja waktunya digunakan untuk bermain golf, saya menggunakannya untuk bekerja. Sekarang kebalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Program apa saja yang sudah Anda siapkan jika Anda terpilih di DPD nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembangkan industri kecil. Pasca-gempa di Yogyakarta dan Klaten beberapa tahun lalu membuat industri kecil kain pertenunan di Klaten terpuruk. Saya sudah memulainya dengan membantu industri usaha ini agar bisa bergerak kembali. Yang kedua, saya ingin menerapkan program Grameen Bank. Di Indonesia program ini sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah memulai di Jawa Barat yang teman-teman namakan “Kawan Cempaka”. Yang kami bantu kebanyakan perempuan semua. Di Subang hampir 2.000 perempuan yang sudah menerima pinjaman model Grameen Bank ini. Membantu orang kan tidak melihat daerah. Meski saya pencalonanya nanti di Jawa Tengah, saya melihat di daerah Subang banyak sekali masyarakat yang membutuhkan. Rencananya nanti akan diperluas. Industri usaha kecil di Klaten kan sudah mulai bergerak. Tinggal nanti kita lihat daerah lainnya lagi yang membutuhkan bantuan. Sebenarnya di Indonesia banyak banget SDM yang sudah memiliki skill bagus. Hanya pemberdayaannya saja yang belum maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pendapat Anda tentang keterlibatan perempuan dalam dunia politik dewasa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting sekali. Nasib sebuah bangsa tidak akan baik jika mengabaikan kaum perempuan. Saat ini banyak kok perempuan Indonesia yang memiliki skill bagus. Tingkat pemahaman dan pendidikan terhadap politik juga tak kalah dengan laki-laki. Kalau ada kesempatan kenapa tidak diambil. Perempuan di Indonesia jika diberdayakan dan diberi kesempatan yang sama seperti laki-laki, (maka) saya yakin persoalan bangsa tidak akan (jadi) sepelik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu dukung kemauan dan upaya pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan. Caranya, pendidikan politik terhadap kaum perempuan harus digalakkan. Pengelolaan usaha industri kecil ditingkatkan. Umpamanya begini, kalau ingin membuat hancur sebuah bangsa caranya gampang, timpangkan saja kaum perempuannya. Artinya, betapa pentingnya keterlibatan perempuan. Bangsa ini tidak akan pernah berhenti ditimpa masalah dan krisis jika para perempuannya tidak ikut terlibat menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama: Poppy Dharsono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat/Tanggal Lahir: Garut, 8 Juli, 1951&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan: Akademi Sinematografi, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Ecole Superieur de la Mode (ESMOD), Guarre-Lavigne, Paris, Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier: Designer Poppy Dharsono Studio (1977). Direktur dan Pemilik of Poppy Dharsono Fashion Studio (1977 - sekarang). Komisaris PT Panin Nusamas (1980 - Sekarang). Presiden Komisaris PT Rana Sankara (1986 - sekarang). Presiden Direktur PT Poppy Dharsono Cosmetics (1989 - sekarang). Presiden Komisaris PT Prima Garis Moda (1998 - sekarang). Presiden Komisaris PT Indotex LaSalle International College (1999 - sekarang). Presiden Komisaris Indonesia International Fashion Institute (2004 - sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi: Vice President Indonesian Apparel Manufacturers Association (1987 - 1991) Chairperson of the Compartement of Small Scale Businessman and Industry,&lt;br /&gt;The Indonesia Chamber of Commerce and Industry (1988 - 1998). Anggota Dewan Pertimbangan - Federation of Citizen Entrepreneurs of Indonesia (1988 - 1955). Ketua - Indonesia House Foundation (1990 - sekarang). Ketua - Society of International Development (SID) (1990 - sekarang). Ketua - Asosiasi Fashion Desainer Indonesia (1993 - sekarang). Chairperson of the Indonesian Garments &amp; Accessories Suppliers Association (1995 - sekarang). Koordinator Tourism and Trade Development, Indonesia Chamber of Commerce and Industry US Committee (1995 - sekarang). Vice Presiden The Indonesian Chamber of Commerce &amp; Industry, Coordinating Social Welfare Affairs (1998 - sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan: Penghargaan oleh Departemen Pendidikan &amp; Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan. Penghargaan oleh Lembaga Kerja sama Ekonomi Sosial &amp; Budaya Indonesia-China untuk kontrisbusinya. Penghargaan oleh Surabaya Stock Exchange atas kontribusinya sebagai pembicara di ‘Stock Market &amp; Venture’ Seminar. Adikarya Wisata penghargaan oleh Departement Pariwisata, Jakarta atas dedikasinya sebagai fashion desainer. Penghargaan oleh Metropolitan Mal Bekasi Management atas kontribusinya dalam Eksebisi Industri Kecil. Penghargaan oleh DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia atas kontribusinya dan dedikasinya sebagai entrepreneur. Penghargaan oleh KADIN atas kontribusi dan komitmen-nya dalam bisnis. (dimuat di Jurnas/Jumat,17 Oktober 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-957221725073911088?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/957221725073911088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=957221725073911088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/957221725073911088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/957221725073911088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/10/poppy-dharsono-berpolitik-karena.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SP7zYU1d0UI/AAAAAAAAADA/CA5-n0pmw1w/s72-c/Poppy+Sudarsono.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7433840617236347592</id><published>2008-09-15T00:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T00:07:51.105-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SM4Juxqhs1I/AAAAAAAAAC4/PJiWC9oFmo0/s1600-h/sawh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SM4Juxqhs1I/AAAAAAAAAC4/PJiWC9oFmo0/s320/sawh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246141315143545682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Oleh: Kustiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah mengingatkanku pada masa kecil dan remaja. Kebahagiaan saat mengantar makanan untuk bapak. Bermain layang-layang. Dan mencari belut kala sore. &lt;br /&gt;Telah lama aku tak merasakan bau tanah sawah saat diguyur hujan. Bau segar khas alam perdesaan. Hamparan hijau padi dan beningnya bulir-bulir embun di atas daunnya. Aku begitu menikmati masa kecil dan remajaku yang menyenangkan. Sayang, perjalananku menjadi petani kecil hanya sampai kelas tiga sekolah menengah pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Waktu itu umurku delapan tahun. Dan baru saja ibuku memberiku seorang adik perempuan mungil. Menjadi anak pertama laki-laki tentulah aku yang menjadi andalan bagi kedua orang tuaku. Maka, tak jarang aku yang menyelesaikan pekerjaan rumah jika ibuku meminta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecilku meninggalkan kenangan indah. Yag mungkin tak dirasakan anak-anak jaman sekarang. Menaiki kerbau milik bapak sudah hampir menjadi kebiasaan rutin saat ikut bapak ngluku. Dan aku bangga melakukannya. Apalagi ada bapak yang menjagaiku dari belakang. Jadi aku tak perlu takut jatuh atau terbawa lari oleh kerbau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tak akan diizinkan bapakku menaiki punggung kerbau. Selain bahaya, pekerjaan bapakku akan terganggu. Tapi aku tak kurang akal. Melihatku membawa rantang dari rumah dan mendengar rengekanku, bapak tak tega. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan wajibku sepulang dari sekolah memang mengantarkan  makanan untuk bapak di sawah. Karena tak ada orang lain lagi yang disuruh mengantarkannya. Apalagi bapak orang rajin. Jika pekerjaannya belum selesai, tak akan ditinggal meski perut keroncongan. Walhasil, ibu memintaku mengirim nasi setiap kali bapak bekerja di sawah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Anakku hanya mendengar cerita saja tentang masa kecilku yang bahagia. Mereka sesekali menanyakan bagaimana rasanya berada di punggung kerbau atau apakah  kerbaunya masih hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, kami tinggal di kota. Di perumahan yang berjubel. Hampir tak ada lahan persawahan atau bunyi suara kerbau di lingkungan rumah kami. Tentulah anak-anakku penasaran. Dan mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan waktu kecil hanya saat berlibur ke rumah kakek neneknya di kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Aku meninggalkan kampung halaman saat hendak memasuki kelas satu sekolah menengah atas. Bapak mengirimku ke sebuah pondok pesantren untuk sekolah dan belajar mengaji. Meski bukan keluarga santri, keluargaku dibesarkan dari orang-orang yang paham agama. Maka ketika anak-anakya telah lulus SMP, segera mereka mengirimnya ke sebuah pondok pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan kilo dari rumah, membuatku tak mungkin sering pulang dan bermain di sawah bersama bapak. Apalagi kegiatan sekolahku berjubel. Setelah pulang sekolah-kami menyebutnya sekolah umum—aku harus mengikuti sekolah mengaji. Kalau pun ada libur aku pulang sehari atau dua hari saja, selebihnya hari liburku aku gunakan untuk menyelesaikan hafalan mengaji. Begitu seterusnya hingga tiga tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus SMA aku melampiaskan waktu liburanku di rumah dan membantu bapak di sawah. Meski hanya sebentar-karena harus mempersiapkan kuliah—aku  benar-benar tak ingin kehilangan kenanganku. Aku pergi ke sawah menyusul bapak. Sekarang bapak tidak dengan kerbaunya, melainkan dengan mesin traktor. Saat kutanya kemana kerbaunya, bapak menjawab, ” Kerbau bapak jual saat kamu berangkat ke pesantren. Karena tak lagi ada yang mengambilkan rumput dan merawatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memiliki dua kerbau. Setiap sore aku mengambilkan rumput buat mereka. Tentu bapak akan kewalahan jika harus juga mengurusi kerbau. Untuk ngluku bapak menggantinya dengan tenaga  traktor. Yang menurut bapak tak perlu repot mengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sebenarnya bapak menyesal telah menjual kerbau itu. Pasalnya, pakai traktor bapak harus merogoh kantong lebih dalam untuk biaya solar dan onderdil jika ada yang rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Praktis sih praktis, uangnya itu loh yang nggak praktis,” kata bapak. ”Coba kalau kerbaunya tidak bapak jual, mungkin bapak sudah memiliki banyak tabungan,” kata bapak terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar jika bapak berkata demikian. Selesai SMA bapak masih ingin melanjutkanku ke jenjang lebih tinggi. ”Meski bapak tidak kaya, kamu tetap harus sekolah,” kata bapak saat itu. Dan berangkatlah aku ke Jakarta setelah seminggu berada di rumah. Di Jakarta aku numpang pada pamanku, adik bapak yang sedang dinas di kejaksaan Jakarta. Karena menumpang, aku tidak ingin merepotkan dan mengecewakan mereka. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, aku membersihkan rumah terlebih dahulu meski tanpa diminta. Aku merasa sudah beruntung bisa ikut tinggal di rumah sewaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering merasa tidak enak dengan istri paman, aku meminta izin untuk pindah ke asrama mahasiswa. Tentu alasanku bukan karena tidak betah, tapi karena kuliah semakin padat dan aku banyak tugas. Dan pamanku mengizinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan aku tidak pernah absen menerima kiriman dari bapak di kampung. Meski tidak banyak, uang itu cukup untuk makan dan fotokopi. Bapak memang seorang petani ulet. Hampir seluruh waktunya hanya untuk sawah. Tidak ada acara ngopi sembari ngobrol di warung seperti orang-orang di kampung kebanyakan. Sepulang dari sawah bapak langsung menuju surau depan rumah kami. Setelah itu istirahat siang. Dan sore harinya pekerjaan di sawah masih menunggu. Juga tidak heran jika tengah malam tiba, bapak tak ada di rumah. Sumur di sawah perlu pengawasan saat pengairan. Jadi kami sudah terbiasa mendengar bapak terbangun dan siap-siap pergi ke sawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya  mengapa aku begitu bangga memiliki seorang bapak yang tak kenal lelah. Bahkan sekali pun aku tak pernah mendengar bapak mengeluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kami sangat sederhana. Meski sebenarnya kami juga tidak kekurangan. Bapak sebenarnya mampu membeli motor baru. Membeli televisi besar dan mengeramik lantai rumah kami seperti tetangga-tetangga lainnya.Tapi semua itu tidak bapak lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah kami hanya ada motor butut yang dibeli saat aku berumur sembilan tahun dan televisi hitam putih empat belas inci.Motor butut itu bapak beli untuk keperluan ibu. Seminggu sekali ibu harus belanja ke kota untuk mengisi warung kecil di depan rumah kami. Dan satu-satunya hiburan dan barang istimewa setelah motor butut adalah kotak hitam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kami juga tidak mewah. Dindingnya dari papan jati dengan lantai bata merah yang diplester. Sewaktu aku kecil, lantai rumah kami sering di penuhi padi atau  tumpukan kacang tanah. Jika musim panen padi atau kacang tanah, siang hari sepulang sekolah biasanya ibu memintaku menjemur padi di halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kami memang jauh dari mewah. Tapi semangat bapak agar anak-anaknya mengenyam bangku sekolah lebih tinggi dibandingkan siapa pun. Di kampung kami, bisa lulus sekolah menengah atas itu sudah kebanggaan. Bukan apa-apa, kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak masih rendah. &lt;br /&gt;”Sekolah tinggi-tinggi, toh nanti juga nganggur. Buat apa menghabiskan uang,” kata Lek Sukir tetangga kami. Teman-teman seangkatanku lebih memilih merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan karena tidak bisa melanjutkan sekolah. Sebagian lagi memilih tetap tinggal di kampung membantu bapak ibunya bertani. Bukan berarti ongkos yang dikeluarkan untuk biaya hidup lebih kecil. Mereka –anak-anak-itu harus dibelikan motor sebagai ganti agar mereka mau tetap tinggal.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak jarang, sawah yang menjadi ladang hidup mereka harus dikorbankan untuk ditukarkan dengan motor. Yang lainnya lagi, siang malam bekerja di sawah. Setelah panen mereka harus setor ke perkreditan motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku bersyukur memiliki bapak yang cara berpikirnya lebih maju dari siapa pun. Selain tak mau bermewah-mewah, bapak lebih memilih memiliki tabungan untuk anak-anaknya sekolah dibanding memiliki barang yang sebenarnya tak membantu banyak itu. Perjuangan bapak benar-benar tidak sedikit. Sampai saatnya aku selesai kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar sarjanaku berasal dari hasil keringat bapakku berpanas-panasan di sawah. Bapakku tak sedikit pun takut menjadi petani, karena dianggap miskin. Toh aku lulus kuliah juga.&lt;br /&gt;Bahkan dari hasil tani itu, saat ini aku bisa bekerja  sebagai dosen di salah satu universitas di kota. Jika saat kuliah empat bulan sekali aku dikirimi uang, sekarang giliranku mengirimi uang untuk bapak dan ibu di kampung. Selama aku kuliah tak satu pun sawah terjual. Bahkan bapak bisa menyisihkan tabungan dari hasil panen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sebenarnya tak ada pekerjaan yang lebih indah selain menjadi petani di kampung. Memiliki sawah yang membentang hijau, kandang yang diisi sapi untuk ngluku, dan  anak-anakku menaiki punggung sapi dengan tawa ceria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengusulkan itu pada istriku untuk kembali ke kampung. Merawat anak-anak, mengajar dan bertani. Apalagi istriku yang juga seorang pengajar, tentulah ia bisa mengabdikan hidupnya untuk masyarakat kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 14 September&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7433840617236347592?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7433840617236347592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7433840617236347592' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7433840617236347592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7433840617236347592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/09/sawah-oleh-kustiah-sawah-mengingatkanku.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SM4Juxqhs1I/AAAAAAAAAC4/PJiWC9oFmo0/s72-c/sawh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3685563640890007519</id><published>2008-09-14T23:56:00.001-07:00</published><updated>2008-09-14T23:56:58.164-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Oleh: Kustiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini mata kananku sedikit berair dan kedutan. Menurut emak, kedutan di mata kanan tandanya akan bertemu kekasih atau orang yang kita  sayangi. “Jika mata sebelah kanan kedutan, janganlah kamu terlalu khawatir. Karena itu pertanda baik,” kata Emak sewaktu masih hidup. “Khawatirlah jika yang kedutan itu mata kirimu. Segeralah ambil air wudhu dan berdoa agar peristiwa buruk tak terjadi. Hanya doa yang bisa menggagalkanya. Karena, jika yang kedutan mata sebelah kiri, itu pertanda akan ada bahaya datang. Pertanda kamu akan menangis,” lanjut Emak suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak memang mahir dalam urusan mengartikan pertanda. Entah itu benar atau tidak kami tidak pernah mempermasalahkannya. Dan kami sebagai anak-anaknya selalu percaya. Di kemudian hari kami mengatakan yang sama kepada anak-anak kami. Meski kami dan anak kami berbeda cara pandang. Kalau dulu, saat Emak mengartikan pertanda dan mengatakannya kepada kami, kami percaya dan membenarkan dengan menghubung-hubungkan peristiwa yang telah ataupun yang akan terjadi. Sedangkan saat ini sungguh jauh berbedaa. Saat aku mencoba mengatakan hal yang sama kepada anak-anakku seperti yang Emak katakan kepada anak-anaknya, mereka segera berkata, “Ibu kuno, hari gini masih percaya mitos. Bisa jadi mata kedutan akibat kelilipan atau lelah. Ah, ibu mah percaya saja apa yang dikatakan orang jaman dulu” kata anak-anakku. Setelah itu, hanya sampai generasi kami saja yang percaya pada arti pertanda-pertanda itu. Sedang anak-anak kami tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan suara tokek yang sepanjang siang mengganggu istirahatku. Maka, Lastri yang akan mencari sapu ijuk bergagang panjang yang biasa digunakan membersihkan sawang untuk mengusir tokek itu. Kembali aku ingat kata Emak. Jika tokek bersuara di penuwun rumah pada siang hari, itu tandanya akan datang tamu agung. Aku mencoba mengingat-ingat, adakah seseorang yang aku tunggu hingga mata kananku terus bergerak-gerak. Atau siapakah gerangan tamu agung yang hendak berkunjung ke rumah nenek tua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sia-sia Emak mewariskan ilmu menafsirkan tanda. Yang membuatku selalu merasa optimistis dan bertawakal. Ternyata, pun pertanda itu benar atau tidak, ia telah mengalirkan pengharapan pada tubuh tua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian ingat anak-anak dan cucu-cucuku. Sebentar lagi lebaran datang. Pastilah yang akan datang dan menjadi tamu agung itu mereka.   Setelah bulan puasa yang kutunggu-tunggu telah tiba, sekarang giliran hari lebaran yang kuharapkan segera datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusiwi bukan, jika hari yang ditunggu telah datang maka hari lain yang ditunggu lagi. Meskipun aku tahu,  sebenarnya tidak ditunggu pun hari itu akan datang juga. Bukankah waktu terus merambat, merayap, dan mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa aku begitu antusias menunggu lebaran datang. Kamar-kamar mulai aku bersihkan. Bunga-bunga aku sirami dan aku ganti potnya dengan yang baru. Dan seluruh dinding telah aku cat dengan warna bagus dan terang. Tak lupa, aku minta Lastri membantuku membuat kue kesukaan anak-anak dan cucu-cucuku. Ayam kampung peliharaanku juga telah aku siapkan. Mereka paling suka, jika pulang tersedia ayam kampung untuk dipanggang. Karena saya tahu, di tempat tinggalnya di kota sana tentu ayam kampung sulit dicari. Kalau pun ada, pasti jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu demikian tiap tahun menjelang lebaran. Aku menyambutnya dengan penuh sukacita sebagai seorang ibu, mertua,dan nenek bagi anak, mantu, dan cucu-cucuku. Aku ingin mereka tetap perpandangan baik terhadapku. Berusaha sebisa mungkin membuat mereka betah dan kerasan. Meski saat mereka datang, aku juga menyimpan sedih, karena itu artinya mereka juga akan secepat mungkin pergi. Jika begitu, aku harus ingat bahwa kebahagiaan tiada yang kekal. Apa yang aku tunggu-tunggu  membuat perpisahan semakin mendekat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah anak-anak dan cucu-cucuku berpikiran sama sepertiku. Menunggu waktu itu dan menganggapnya istimewa seperti yang aku rasakan. Dalam hati aku mengiyakan, “Pastilah mereka juga sama denganku. Menunggu hari lebaran datang. Bertemu neneknya dan bermain di halamn rumah kampung nan luas. Yang tentu tak dimiliki anak-anakku yang berumah di kota dengan halaman dan taman yang tak cukup buat berlarian hingga berkeringat.”. Juga bukan karena alasan hari-hari berpuasa akan segera usai, aku menggu lebaran datang. Aku mengharapkannya karena pada hari lebaranlah anak-anak beserta cucu-cucuku datang menjengukku. Menghangatkan rumah yang selama setahun sepi. Tak ada jeritan anak kecil atau derai tawa anak-anakku yang saling ejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berumah tangga, hanya setahun sekali saja mereka datang menjengukku. Karena selain jaraknya yang tidak dekat, ongkosnya banyak, biasanya alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku maklumi itu. Toh, sebagai orang tua aku tidak boleh manja dan menyusahkan anak-anakku. Bukankan lebih dari cukup mereka memperhatikanku. Setiap setahun sekali mereka menyisihkan waktu menjengukku. Dan setiap bulannya selalu mengirimiku uang atau paket tanpa aku minta. Mungkin sebagai penebus karena mereka tak bisa mendampingiku di saat usiaku telah senja. Atau itulah bentuk bakti anak-anakku yang semasa kecil kubesarkan, dan saat telah besar mereka ingin mencurahkan kasih sayangnya padaku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang kulahirkan pertama kali beristrikan seorang perempuan Palembang. Karena pekerjaannya juga di sana, maka menetaplah ia di tanah seberang bersama keluarganya. Sedang anakku yang kedua bersuamikan lelaki Papua.  Semenjak lulus sekolah menengah atas anak perempuanku ini ikut budhenya yang menjadi dosen di salah satu universitas di Papua. Dan saat ini anakku yang kedua mengajar juga di salah satu universitas di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anakku telah meninggalkan tanah tempat lahirnya sejak mereka lulus SMA. Walhasil, aku dan suamiku saja yang menempati rumah besar ini. Suara anak-anak telah lama tak kami dengar. Jika kangen atau ingin tahu kabar, kami  hanya bisa mendengar suaranya di ujung sana lewat telepon. Jadi, sebenarnya aku tidaklah kaget dengan kesendirian dan keheningan. Karena aku telah terbiasa mereka tidak hadir di rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun lalu aku tidak merasa kesepian karena ditemani suamiku yang seorang pensiunan guru. Meskipun kami sama-sama pensiunan guru, kami tidak pernah menganggur. Kegemaran membuat kue di waktu muda tak bisa membuatku diam. Sewaktu jadi guru, berangkat ke sekolah untuk mengajar aku tak lupa membawa kue kering untuk dititipkan di warung dekat sekolah dan  kantin sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan suamiku, di sore hari usai mengajar kami membuatnya bersama-sama. Dan tak terasa, aku memiliki tabungan dari hasil jualanku. Anak-anaku dibesarkan dan disekolahkan dari jerih payah pembuatan kue itu. Sebagai seorang guru gaji kami tak seberapa. Hanya cukup untuk pengobatan Emak ke dokter dan membeli gula non-kalori.  Emak memiliki penyakit diabetes, maka pengobatan  harus rutin agar penyakitnya tak mengganggu organ lain. Selebihnya, yang menopang kehidupan kami agar terus berjalan adalah berjualan kue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai  anak pertamaku dibaiat menjadi sarjana, Emak meninggal. Emak  jatuh dari ranjang saat hendak bangun. Tiga tahun kemudian menyusul suamiku menghadap Yang Kuasa karena kecelakaan terserempet bus saat mengantar kue dagangan. Dan empat tahun sudah aku ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Sebatangkara. Satu-satunya yang menjadi teman dan yang senantiasa menghiburku  hanyalah Lastri. Lastrilah yang mengurusi semua keperluanku selama ditinggal anak-anak dan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering anak-anakku memintaku tinggal bersama salah satu dari mereka. Agar aku tak kesepian. Selain sudah tua, anak-anakku ingin aku ada yang merawat. Tapi tawaran itu aku tolak karena aku tidak ingin menyusahkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah alasannya mengapa aku begitu bersemangat tatkala menyambut hari lebaran. Aku membayangkan seperti setahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Rumah ini begitu penuh orang. Kejaran anak-anak. Riuh tawa dan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya setahun sekali anak-anak dan cucu-cucuku datang. Sungguhlah aku rela menunggui lebaran selanjutnya, karena pada saat itulah rinduku terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 11 September&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3685563640890007519?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3685563640890007519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3685563640890007519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3685563640890007519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3685563640890007519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/09/lebaran-oleh-kustiah-beberapa-hari-ini.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1493772415617364984</id><published>2008-09-14T23:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T23:51:41.099-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Nasibku Malang di Keretaku Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sih yang tidak kenal  kereta? Hampir semua lapisan masyarakat tahu dan pernah naik “ular besi” ini atau sekadar tahu bentuk kereta. Moda transportasi ini cenderung menjadi pilihan saat bepergian, alasannya selain kereta tidak kenal macet ongkosnya juga murah meriah. Dibanding dengan alat transportasi lainnya kereta memang dikenal paling bisa dijangkau oleh kalangan kelas bawah. Maka tak salah jika penumpang kereta tidak pernah pindah ke lain pengangkut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayangnya, pilihan masyarakat penumpang untuk tidak meninggalkan kereta tidak  bersambut manis. Jumlah penduduk yang semakin bertambah (yang  asumsinya penumpang kereta juga semakin bertambah) membuat kereta menjadi alat transportasi yang tidak bersahabat bagi  penumpang. Tak jarang jumlah penumpang yang melebihi kapasitas gerbong membuat kenyamanan dan keamanan terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang telah ada penambahan gerbong oleh PT Kereta Api Indonesia. Namun penambahan itu dirasa kurang karena tetap saja tidak sebanding dengan banyaknya jumlah penumpang. Selain keamanan dan kenyaman, yang sering menjadi persoalan calon penumpang adalah para calo yang bergentayangan di sekitar stasiun. Meski PT KAI telah menyediakan penjualan tiket secara online, tetap saja  tiket cetakan PT KAI ini beredar di tangan calo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari menjelang lebaran membuat penjualan tiket  di stasiun Gambir bertambah ramai. Dan menurut pengamatan tak ada perbaikan pelayanan. Dari tahun ke tahun selalu sama. Antre, tertipu, dan nelangsa tatkala berada di atas kereta. Pemandangan klasik masih saja terlihat. Para calon penumpang yang telah berjam-jam mengantre ular-ularan sepanjang 500 meter, di lain waktu bisa lebih panjang. Kadang, bahkan lebih sering mereka harus menelan pil pahit. Mereka harus bubar dari antrean karena tiket telah habis. Jika begini para calo segera merapat. Menawarkan tiket ke calon penumpang yang kecewa karena tidak bisa mendapatkan tiket. Ada sebagian yang rela mengeluarkan ongkos dua kali lipat lebih mahal, lainnya memilih membeli tiket di atas kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memilih beli tiket di atas kereta jangan harap bisa masuk ke dalam kereta. Di sana ada beberapa petugas yang siap menanyai tiket kereta. Tentu setelah itu kita digiring ke petugas kereta api yang melayani penjualan tiket secara ilegal. Meski yang ditawarkan adalah tiket ilegal tanpa tempat duduk, tetap saja kita harus membayar dengan harga tiket yang legal. Jika digambarkan tiket ilegal ini serupa dengan tiket parkir yang di keluarkan oleh Pemda DKI. Tak ada stempel, tanggal atau logo PT KAI. Yang ada hanya coretan tangan tergesa-gesa. Di tempat pelayanan ini tak ada meja atau perkakas apa pun. Dua petugas laki-laki berdiri dan dikitari tiga sampai empat petugas. Di sinilah orang yang tidak beruntung mendapatkan tiket berkerumun membeli tiket. Kurang lebih sekitar 30-an orang selam tiga sesi. Setibanya di dalam kereta api, para calon penumpang ini  bersiap-siap menyiapkan koran untuk sekadar duduk atau meringkuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah kejanggalan pelayanan kereta api kembali tampak. Di satu sisi puluhan orang telah rela mengantre berjam-jam tapi  tanpa hasil karena tiket habis. Sementara itu, banyak sekali para calon penumpang baru tiba-tiba menempati kursi kosong di dalam kereta api. Ternyata usut-punya usut, penjualan tiket kereta api dilaksanakan kembali saat lima menit sebelum kereta berangkat. Kami pun menyimpulkan bahwa PT KAI telah berlaku curang. Kami mengira bahwa penjualan itu dilakukan karena tiket yang di jual para calo tidak laku, maka diserahkan kembali ke petugas penjualan kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dipertanyakan kembali, dengan buruknya pelayanan  PT KAI apakah kereta masih akan  menjadi pilihan masyarakat? Dilihat dari banyaknya penumpang kereta api, sebenarnya tak relevan jika PT KAI mengalami kebangkrutan. Maka evaluasi di pihak internal PT KAI sendiri patut dilakukan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1493772415617364984?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1493772415617364984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1493772415617364984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1493772415617364984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1493772415617364984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/09/nasibku-malang-di-keretaku-sayang-siapa.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7607470471978980661</id><published>2008-08-03T07:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-03T08:20:58.942-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kegelisahan Seorang Cendekiawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Jalan Lain Manifesto Intelektual Organik&lt;br /&gt;Penulis : Mansour Faqih&lt;br /&gt;Penerbit : INSISTPress dan Pustaka Pelajar, Yogyakata&lt;br /&gt;Cetakan I : September 2002&lt;br /&gt;Tebal : xxiv + 364 halaman&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga-lembaga finansial internasional (IFIs) yang diatur oleh Organisasi Perdagangan Global (WTO). Globalisasi tidak ada sangkut pautnya dengan kesejahteraan rakyat ataupun keadilan sosial di negara-negara dunia ketiga, melainkan lebih didorong motif kepentingan pertumbuhan dan akumulasi kapital berskala global. Korban dari proses globalisasi tersebut adalah rakyat miskin negara-negara dunia ketiga yang tidak memiliki modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara kritis, ia mengkritik intelektual Indonesia yang mendukung terhadap proses dehumanisasi. Para cendekiawan yang dulu sekolahnya disubsidi oleh keringat rakyat, justru kini memihak pada privatisasi dan penghapusan subsidi para rakyat miskin, serta sibuk mencari argumen untuk pembenaran terhadap proses penyingkiran rakyat. Para ekonom dan sosiolog menjadi juru bicara yang fasih paham neoliberal dan mendesakkan kebijakan kepada pemerintah yang berakibat pada marginalisasi orang miskin kota dan desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sedikit intelektual yang "berontak" dari pemikiran mainstream yang sedang mengancam kehidupan manusia dan melakukan proses dehumanisasi secara terbuka, untuk kemudian merenungkan dan merefleksikannya. Mansour Faqih, penulis buku ini adalah salah satu jenis intelektual yang sedikit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan pertama pada bagian pertama, misalnya yang berjudul "Kelas: Teori yang Banyak Disalahpahami" merupakan kajian pembuka yang mendudukkan teori kelas sebagai urat nadi dari teori-teori dan analisis aliran Marxisme secara proporsional. Ia tidak hanya berhenti pada Marxisme klasik yang mendasarkan analisis kelas pada determinisme ekonomi yang membagi masyarakat dalam dua kelas yakni kelas borjuis (majikan) dan kelas proletar (buruh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meminjam analisis pascastrukturalisnya Althusser, Mansour Faqih menguraikan kelemahan-kelemahan Marxisme klasik/tradisional yang melihat kelas dari "determinisme ekonomi" dan yang mereduksi kelas ke dalam persoalan sempit sebagai "basis" ekonomi dalam suatu mode production. Dalam analisisnya lebih jauh, ia melihat bahwa teori kelas bukan hanya sekadar relasi eksploitatif antara buruh-majikan, tapi juga proses eksploitasi yang melibatkan negara dan sektor non buruh lainnya. Yang menikmati surplus value bukan saja kapitalis (majikan), tapi juga didistribusikan kepada semua sektor masyarakat melalui pajak ke negara, bunga bank, dan gaji para manajer dan lain sebagainya (hal. 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian cita-cita masyarakat tanpa kelas dalam perspektif kelas, bukan tidak adanya kepemilikan harta pribadi, tapi masyarakat tanpa eksploitasi atau sistem sosial tanpa "pencurian" struktural. Untuk menciptakan sistem sosial yang adil, Mansour memberikan resep bahwa tidak cukup hanya melakukan perubahan hubungan mode of production saja, tetapi diperlukan transformasi sosial yang lebih luas lagi terhadap sistem sosial yang tergantung pada surplus value tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, agenda gerakan sosial yang mencita-citakan keadilan sosial, pasca runtuhnya rezim Orde Baru menghadapi ujian berat: apakah gerakan-gerakan yang mereka lakukan itu mampu mentransformasikan relasi sosial politik untuk menjadi relasi yang lebih adil dan berwatak emansipatoris ataukah lebih berupa reformasi sosial.&lt;br /&gt;Setiap agenda perubahan semestinya, selain melihat pada kebutuhan praktis maupun strategis kaum miskin dan pinggiran dalam masyarakat, juga selayaknya memfokuskan diri pada reformasi kebijakan yang menyangkut nasib kaum miskin dalam masyarakat sekaligus transformasi terhadap sistem dan struktur sosial (hal. 43-44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mansour Faqih juga mengulas tentang "Pengetahuan yang Memberdayakan dan Membebaskan" (hal. 49-70). Ia menilai ilmu-ilmu sosial yang menjadi rujukan dalam proses transformasi sosial yang dihasilkan oleh negara-negara Barat yang dominan dan dikirimkan kepada rakyat dunia ketiga pada dasarnya bukanlah pengetahuan yang netral dan bebas nilai. Pengetahuan pembangunan, yang lahir bersamaan dengan berdirinya Orde Baru, tidak hanya didasarkan pada ideologi Barat yang positivistik, tetapi juga didasarkan pada hasrat untuk mengendalikan dan menguasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, proses transformasi sosial seharusnya tidak menelan mentah-mentah konsep dan teori sosial Barat yang positivistik dan cenderung kapitalistik. Karena itu, dalam proses transformasi yang diperlukan adalah memahami setiap adat dan tradisi, melakukan pemberdayaan terhadap nilai-nilai yang sudah adil, dan melakukan transformasi budaya di dalamnya. Dalam proses transformasi budaya ini memungkinkan kita memiliki pluralisme budaya dan memberikan ruang untuk setiap masyarakat adat menciptakan sejarah mereka sendiri. Hanya dengan strategi transformasilah bisa terjamin terjadinya proses demokratisasi baik antar relasi di dalam masyarakat adat sendiri maupun hubungan antara masyarakat adat dengan dunia luar mereka (hal. 67-68).&lt;br /&gt;Di bagian kedua, penulis buku ini mengulas gagasan pemikiran tokoh-tokoh kritis seperti Paulo Freire, Antonious Gramsi, Michael Faucoult dan Muammar Khadafi. Gagasan besar para tokoh tersebut dijelaskan dengan bahasa yang sederhana, dan mencoba dikontekstualkan dalam konstalasi politik ekonomi Indonesia yang carut marut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perspektif kritis, ideologis, dan dekonstruktif, Mansour Faqih membongkar selubung-selubung hegemonik ilmu pengetahuan, teori-teori sosial, dan berbagai konsep pembangunan yang menindas rakyat. Kritiknya yang tajam terhadap kapitalisme dengan berbagai metamorfosanya, tersebar di hampir setiap tulisan. Ia memberikan cara baca kritis terhadap realitas sosial yang timpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kegelisahan seorang intelektual organik ini sangat bermanfaat bagi mereka yang aktif terlibat dalam mewujudkan sistem sosial yang lebih demokratis, adil, dan egaliter. (Kustiah Mahasiswi Bahasa Inggris IKIP PGRI Semarang). (Pikiran Rakyat, 2002)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7607470471978980661?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7607470471978980661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7607470471978980661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7607470471978980661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7607470471978980661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/08/kegelisahan-seorang-cendekiawan-judul.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-8152422437485466796</id><published>2008-08-03T00:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:39.967-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SJVd15FoTRI/AAAAAAAAACw/TGzIgpjhnM0/s1600-h/menuang+minyak+dari+kubangan+ke+drum+untuk+dimasak.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SJVd15FoTRI/AAAAAAAAACw/TGzIgpjhnM0/s320/menuang+minyak+dari+kubangan+ke+drum+untuk+dimasak.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230189722699582738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Emas Hitam di Balik Bukit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kustiah &lt;br /&gt;kustiah@jurnas.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat merasa terberkahi dengan adanya tambang minyak swadaya di daerahnya. Tak terbebani harga monopoli Pertamina.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan terjal dengan udara panas mengiringi perjalanan menuju Wonocolo, sebuah desa di Kecamatan Kediwan Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Jauh dari perkotaan membuat &lt;br /&gt;Wonocolo tak ubahnya desa-desa lain di kawasan perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Gersang, berdebu, kering, dan panas. Tak ada lagi gambaran desa yang teduh dan adem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya setelah pembalakan hutan secara besar-besaran di tahun 1998, hutan di kawasan Blora Jawa Tengah hingga Wonocolo dan sekitarnya mendadak gundul. Hanya beberapa pohon yang masih tampak kokoh. Usianya ratusan tahun. Biasanya pohon yang selamat dari penebangan liar ini berada di lokasi permakaman. Entah karena pohon itu dianggap keramat atau alasan lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Blora-Wonocolo pernah dikenal dengan kelebatan hutan jatinya. Tak heran jika warga menggantungkan hidup dari hutan. Pak Parjan misalnya. Lelaki 58 tahun ini setiap hari menghabiskan siang di hutan. Berbekal gantar (bambu panjang yang di ujungnya terselip sebilah arit atau pisau yang diikat tali), dia mengambil daun jati. Selanjutnya, di pagi buta, Pak Parjan memikul daun jati yang telah dimasukkan ke dalam karung, dan membawanya ke pasar kota yang jaraknya kurang lebih 12 kilometer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan lain yang mengandalkan pohon jati di hutan adalah sebagai blandong. Pak Subakri, lelaki gempal berkulit hitam legam ini adalah seorang blandong yang mewarisi pekerjaan itu dari orang tuanya. Setiap siang, ia beserta rombongan mencari pohon jati yang usianya sudah puluhan tahun, lantas me-ngeret kulit pohon jati menggunakan bendo (golok besar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari setiap pohon biasanya didapat dua atau tiga lembar kulit pohon sepanjang dua setengah meter, tergantung dari besar kecilnya pohon. Dalam sehari Pak Subakri biasanya me-ngeret tiga sampai empat pohon. Usai di-keret, kulit pohon dikeringkan, dan siap dijual. Kulit pohon kering tersebut biasa digunakan warga sebagai dinding rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** &lt;br /&gt;Kemakmuran hutan Wonocolo memang tinggal cerita. Perubahan peta politik di tahun 1998 meletupkan perilaku tak bertanggung jawab oknum Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) yang memangkas habis pohon-pohon jati Wonocolo. Akibatnya tinggal 10 persen dari masyarakat yang bisa terus bergantung hidup dari hutan sebagaimana Pak Parjan dan Pak Subakri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pohon-pohon jati musnah dan hutan menjadi gersang, banyak warga kini beralih profesi. Yang memilih bertani, mereka memanfaatkan lahan gersang dengan menanami jagung. Hanya beberapa orang yang tetap bertahan mengandalkan hutan. Yang lainnya berpindah profesi, bergabung di pertambangan minyak tradisional sebagai kuli pikul. &lt;br /&gt;Wonocolo tidaklah sulit dijangkau. Sekitar dua setengah jam dari Kota Cepu ke utara menempuh jalan beraspal sepanjang 30 meter, disambung jalan terjal berbatu 7 meter. &lt;br /&gt;Dari jarak 500 meter sudah terdengar keramaian aktivitas sumur minyak. Setidaknya di daerah gersang berbukit itu ada lebih dari 25 sumur minyak beserta pengolahannya. Di masing-masing sumur terdapat satu mobil timba buatan Inggris atau biasa disebut truk tronton. Tronton tua tanpa roda tersebut dipergunakan mesinnya untuk menarik dan menceburkan suling yang telah dililiti tambang. Suling dari besi itu akan membawa minyak mentah atau biasa disebut dengan lentung ke permukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap tempat pengambilan minyak ada empat sampai lima orang. Dua orang bertugas menggerakkan mesin tronton, satu orang menumpahkan minyak  ke kubangan tanah, dan satu atau dua orang lainnya mengalirkan minyak dari kubangan atas ke kubangan bawah. Kubangan-kubangan itu dibuat untuk menyaring minyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan tempat pengeboran minyak yang ramai, tempat pemasakan minyak yang berada di lembah justru tampak sepi. Hanya dua atau tiga orang yang bertugas di dapur pertambangan ini. Dua atau satu orang bertugas mengambil minyak mentah di tempat pengeboran, dan satu orang memasak minyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu waktu sepuluh jam untuk membuat minyak itu siap digunakan. Delapan jam untuk memasaknya, dilanjutkan dua jam proses pendinginan. Mereka biasanya mulai memasak dari pukul 8 pagi hingga pukul 16. Selesai minyak mentah ini dimasak, didapatlah bensin, solar, dan bensin campur solar yang masing-masingnya ditampung dalam drum-drum (satu drum = 220 liter). Dalam sehari, didapat satu hingga dua drum minyak hasil olahan yang siap dijual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** &lt;br /&gt;Sumur-sumur yang usianya sudah ratusan tahun itu kini milik Pemkab Bojonegoro melalui badan pengelola yang dioperasikan dengan sistem sewa ke perorangan. Sedangkan para pekerjanya dibayar dengan sistem upah, rata-rata Rp15—25 ribu per hari. Hanya dengan menjadi pekerja tambang inilah anak-anak mereka bisa sekolah meski hanya sampai SD atau SMP. Pekerjaan ini pula yang membuat dapur mereka tetap mengepul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah krisis ekonomi, minyak hasil jerih payah warga Wonocolo ini dirasakan betul manfaatnya, tidak hanya oleh warga setempat tetapi juga warga di kecamatan sekitarnya. Selain karena tak mengenal kehabisan stok, harga minyak Wonocolo murah meriah, jauh dari harga Pertamina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kenaikan harga BBM awal tahun lalu, saat Pertamina menjual bensin Rp4.200 per liter, harga bensin Wonocolo hanya Rp2.800 per liter. Solar dari Pertamina seharga Rp4.000 per liter, solar Wonocolo Rp2.200 per liter. Harga minyak Wonocolo juga berubah-ubah, mengikuti perubahan harga yang dipatok Pertamina. &lt;br /&gt;Soal kualitas, jangan ditanya. Bensin-solar Wonocolo tak kalah mutunya. Bahkan sebagian petani lebih memilih bensin Wonocolo ketimbang bensin keluaran Pertamina. Pasalnya bensin Wonocolo mengandung solar, sehingga para petani tidak perlu mengeluarkan uang lebih banyak lagi membeli solar untuk mencampuri bensin sebagai bahan bakar traktor mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit kisah tentang Wonocolo memang bukan lagi menjadi rahasia perorangan saja. Menurut cerita para pekerja, di tahun 1879 saat pendudukan Belanda, sumur-sumur minyak di  Wonocolo ini dikuasai secara turun-temurun oleh seorang saudagar kaya yang sekaligus menjabat sebagai Lurah Wonocolo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan berubah setelah Indonesia merdeka. Memang awalnya sumur-sumur minyak ini sempat menjadi rebutan antara Pertamina dan warga sekitar. Tetapi setelah berlangsungnya negosiasi antara pihak Pertamina dengan warga setempat, sumur-sumur tersebut dibebaskan, dan diserahkan sepenuhnya kepada pengelola setempat. Meskipun tak lagi ada hutan lebat, masyarakat Wonocolo tetap bisa mengais rezeki dari sumur minyak yang entah sampai kapan dapat terus ditimba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-8152422437485466796?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/8152422437485466796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=8152422437485466796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8152422437485466796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8152422437485466796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/08/emas-hitam-di-balik-bukit-kustiah.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SJVd15FoTRI/AAAAAAAAACw/TGzIgpjhnM0/s72-c/menuang+minyak+dari+kubangan+ke+drum+untuk+dimasak.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7291966207566376038</id><published>2008-07-30T05:48:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T05:49:10.679-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perpisahan&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pergi untuk menyembunyikan lukaku. Bukan untuk meninggalkanmu seperti persangkaanmu padaku. Meski kemudian engkau menelfon memintaku untuk kembali.&lt;br /&gt;“bulan di sini terang iyang. Kenapa engkau tak segera kembali. Tahukah kamu aku begitu kangen” ucapmu lewat telefon kala itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan aku kembali pada kebimbanganku apakah benar aku akan meninggalkanmu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kembali aku pada kenangan saat pertama kita bertemu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku duduk pada sudut sofa biru yang warnanya sedikit memudar. Begitu juga dengan teman-temanku. Mereka bersandar sembari membaca termasuk aku, dan sebagian lagi bercerita. Terdengar salah satu kawan menceritakan perjalanannya ketika pulang. Maklum, kami anak perantauan yang sedang belajar di kota . Maka jika ada di antara kita pulang kampung cerita-cerita menarik dan lucu menghiasi perjumpaan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku masih malu-malu waktu itu. Barangkali karena usiaku paling muda diantara mereka, selain perempuan satu-satunya. Tak jarang saling ejek pun tak terelakkan. Tak tahan karena mendengar cerita lucu salah satu kawanku tawa tak bisa aku tahan. Serta merta aku pun mengomentarinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku ingat betul, engkau tak berbasa-basi menertawakanku habis-habisan. Padahal di antara kita tak saling mengenal. Kau katakan logat jawaku membuatmu geli. &lt;br /&gt;Aku tak biasa jika orang menertawakanku tanpa permisi, maka tak mau kalah aku ganti mengejekmu. Dan begitu selanjutnya. Hingga akhirnya aku menanyakan identitasmu pada temanku dan engkau sebaliknya. &lt;br /&gt;Perjalanan demi perjalanan secara tak sengaja kita lalui bersama.&lt;br /&gt;Dan rasa ingin tahu tentang dirimu lebih mendesak. Hari ke hari, bulan ke bulan selanjutnya adalah rasa melindungi dan menghargai. Hingga saatnya engkau menjengukku di kala aku sakit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kenangan memang menyebabkan luka. Dan jujur sering kali justru karena kenangan itu aku merasa tak mampu lagi melanjutkan perrjalanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iyang,, rumah seperti apa yang akan kita bangun,,,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Air mata tak terasa menetes. Aku kembali tak memiliki daya untuk bersembunyi di balik luka. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata-katamu tak ada indikasi merayu atau membualiku. Aku tahu bahkan memahamimu melebihi tahumu tentangku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daeng,,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin engkau tak perlu tahu ternyata hingga saat ini aku masih menyimpan kenangan itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Minggu lalu aku berkunjung ke kotamu. Menemui jalan-jalan yang pernah kita lalui. Tak ada bekas,, aku tahu. Bahkan masjid tempat kita menunggu azan itu telah dipugar. Padahal kita bersepakat desain masjid itu begitu unik dan menarik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian kususuri jalan menuju kampus tempatku belajar, tempat kita bertemu di akhir pekan seusai kelasku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tahu jalanku salah. Meninggalkanmu tanpa menemuimu. Sekadar ucapkan maaf. Kita tahu janji yang kita buat ternyata hanya menjadi pengingat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau lebih baik kita tak pernah tahu bagaimana keadaan kita. Biarlah aku melumat kenangan itu bersama pahitnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7291966207566376038?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7291966207566376038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7291966207566376038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7291966207566376038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7291966207566376038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/perpisahan-aku-pergi-untuk.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7988395238040310474</id><published>2008-07-30T05:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T05:43:32.915-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertemuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita pernah bertemu sebelumnya. Saat itu kulihat engkau sedang duduk menikmati bukumu di bawah rimbunnya pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian aku lupa-lupa ingat bahwa aku telah mengenalmu lebih dari seorang sahabat. Pernah bersama duduk di bawah pohon yang sama yang pernah kau duduki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Mei kudatangi kembali tempat pertemuan kita kali pertama. Papan panjang yang dinaungi pohon itu telah ditumbuhi jamur. Di bawahnya daun-daun kering berserak seolah hendak tak ingin berpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengisak. Bahkan pohonnya tak sekuat ketika kita melempar pandang kepenatan. Kita sama-sama  tak sengaja saling melihat. Bahkan juga tak pernah terpikir bahwa engkau akan menjadi sumber bahagia dan deritaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kusesali adanya pohon, bangku, dan pertemuan di sore itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7988395238040310474?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7988395238040310474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7988395238040310474' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7988395238040310474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7988395238040310474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/pertemuan-kita-pernah-bertemu.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-9172141815623058839</id><published>2008-07-24T01:09:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T01:13:20.292-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buku adalah Temanku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku menjadi temanku dan pastilah (penjara) ini merupakan tempat tenang untuk belajar....Selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja. (Muhammad Hatta-dalam suratnya dari Oven Digul 1934)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-9172141815623058839?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/9172141815623058839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=9172141815623058839' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/9172141815623058839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/9172141815623058839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/buku-adalah-temanku-buku-buku-menjadi.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1239357274191795557</id><published>2008-07-20T07:20:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T07:23:07.220-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketenaran Penari Tayub&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh HENDRIYO WIDI/Kompas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartono, pelatih tari tayub, segera menyelinap masuk ke gubuk Sri setelah Jayem, ayah Sri, pergi mencari rumput. Kemudian terdengar suara Kartono membangunkan Sri, si penari tayub kondang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Kartono dan Sri berdialog beberapa saat, terdengar suara Sri, ”Aku kangen, &lt;br /&gt;Mas... Aku kangen....” Ucapan itu segera disusul dengan suara amben atau tempat tidur kayu ambruk, ”Gedubrak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama, Sri keluar sembari membenahi pakaian dan menyeka gincu yang belepotan di pipi kanannya. Di belakangnya, Kartono keluar sembari menyeka keringat di sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian salah satu cuplikan pentas teater kampung ”Ledhek Mendres”, Jumat (4/7) sore, di Desa Mberan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Lakon yang merefleksikan kisah ketenaran penari tayub itu merupakan ujian penciptaan gelar pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dari dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung Subayono, warga Desa Dluwangan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon itu mengambil tempat di halaman gubuk seorang warga Desa Mberan. Nuansa pedesaan menjadi sangat kentara ketika di sekitar gubuk itu terdapat jerami, lincak atau kursi panjang terbuat dari bambu, sabit, beronjong, kambing, dan sepeda onthel.&lt;br /&gt;Untuk memperkuat simbol penari tayub, jarit, selendang tari, dan pakaian Sri, disampirkan di memean atau tempat jemuran terbuat dari tali yang melintang dari batang pohon sampai tiang penyangga gubuk. Tak lupa pula, suara radio yang memutar tembang-tembang Jawa terkadang terdengar sayup-sayup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pementasan itu, Subayono didukung sejumlah dosen ISI Surakarta dan warga Blora yang terbiasa menyambangi pergelaran tayub. Ia juga meminta penari tayub Blora Sri Katon untuk menjadi pemeran utama ”Ledhek Mendres”.&lt;br /&gt;Sekitar satu setengah jam, para penonton disuguhi dialog-dialog Jawa khas pedesaan Blora. Sketsa-sketsa erotisme, seks, kekuasaan, kritik-kritik sosial, dan dagelan atau senda gurau pedesaan, menjadi alur apik teater kampung atau rakyat itu.&lt;br /&gt;Transformasi tayub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Sri, anak petani miskin bertransformasi diri menjadi penari tayub kondang Desa Mberan. Ia hidup bergelimang harta benda. Derajatnya sebagai bocah ndeso seketika itu juga naik menjadi penari pujaan para lelaki berpangkat maupun tak berpangkat.&lt;br /&gt;Berkat kelimpahan harta dan derajatnya yang terangkat, Sri mempunyai kekuasaan terhadap ayah dan tiga lelaki yang mendekatinya. Jayem, sang ayah, acap kali mengeluh lantaran Sri sering membantah nasihat-nasihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di kepenakke anak kok gak gelem, leh! Aku ki wis kerja ben keluarga ki kecukupan. Direwangi sikil nggo ndas, ndas nggo sikil! (Disejahterakan anaknya kok tidak mau! Saya ini sudah bekerja keras supaya keluarga kecukupan! Sampai-sampai kaki untuk kepala dan kepala untuk kaki!),” kata Sri ketika berdialog dengan Jayem.&lt;br /&gt;Nasib yang sama dialami Joko, pacar Sri. Pria tegap berbadan besar dan sangar itu tunduk ketika Sri meminta apa saja. Joko juga selalu menerima uang saku ratusan ribu rupiah dari Sri. Tak mengherankan jika lelaki yang ditakuti kaumnya itu justru takut kepada Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yen kowe digoda, aku mesti nesu. Toh-tohane nyawaku! (Kalau kamu digoda, saya pasti marah. Taruhannya adalah nyawa saya!),” kata Joko kepada Sri.&lt;br /&gt;Subayono mengatakan, penari tayub itu adalah perempuan perkasa. Ia bukan simbol seks saja, melainkan tulang punggung keluarga. Ia menghidupi orangtua, sanak saudara, suami, dan anak-anaknya melalui menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penari tayub yang terlahir sebagai bocah ndeso, semula selalu gelisah menginginkan perasaan cinta, ingin kaya, dan dihormati atau memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi. Ambisi itu tidak lagi terbendung ketika mendapatkan kesempatan.&lt;br /&gt;Menurut Subayono, untuk menjadi penari tayub, seorang gadis desa menempuh tiga proses. Awalnya, mereka ngenger atau ikut penari tayub yang sudah tenar dengan harapan mendapat limpahan rezeki.&lt;br /&gt;”Laku nyelup”&lt;br /&gt;Kemudian mereka nyantrik atau berlatih tari kepada pelatih tari perempuan atau kepada penari tayub tenar. Untuk menyempurnakan profesi, mereka nyelup atau berhubungan seks, terutama dengan orang-orang yang mempunyai jabatan tinggi.&lt;br /&gt;”Laku nyelup itu dipercaya dapat mengangkat derajat ledhek atau penari tayub menjadi seorang yang laris. Orang menyebut ledhek mendres,” kata Subayono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penari itu, lanjut dia, bertransformasi menjadi perempuan yang memiliki kuasa. Kekuasaan itu dapat menjungkirbalikkan kekuasaan kaum lelaki. Buktinya, banyak pedagang beruang dan para pejabat tunduk dengan kecantikan dan pesona seorang ledhek begitu mereka ketiban sampur atau terjerat selendang penari tayub.&lt;br /&gt;”Mereka mengubah citra perempuan sebagai kanca wingking yang selalu bekerja di dapur, sumur, tempat tidur, dan tidak boleh pulang malam, menjadi perempuan mandiri yang menentukan nasib sendiri,” kata Subayono.&lt;br /&gt;Dosen penguji sekaligus pengajar metodologi penciptaan dan penelitian ISI Surakarta Prof Rustopo mengatakan, nilai lebih dari ”Ledhek Mendres” adalah kristalisasi pengalaman Subayono. Ia menjadi pengamat partisipan untuk membedah dan menceritakan kembali kehidupan para penari tayub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Fokus pertunjukan itu adalah realitas ketenaran seorang penari tayub dengan latar belakang kehidupan kampung yang semirip mungkin dengan aslinya,” kata dia.&lt;br /&gt;Perubahan gaya hidup Sri, anak desa menjadi penari tayub, begitu kentara. Dengan uang dan pesonanya, ia bisa membeli apa pun, termasuk ”membeli” keluarga dan para lelaki pengagumnya.&lt;br /&gt;Seks dan erotisme penari tayub, lanjut Rustopo, digarap Subayono tidak dengan cara blak-blakan atau terbuka. Meskipun begitu, para penonton sudah bisa membayangkan atau mengimajinasikan garapan itu.&lt;br /&gt;Subayono sendiri mengakui penggarapan ”Ledhek Mendres” membutuhkan proses lama. Ia mulai mengadakan penelitian sejak tahun 1988 dan dua tahun terakhir ia mengangkat penelitian itu sebagai materi utama ujian penciptaan pascasarjana.&lt;br /&gt;”Saya hanya ingin mengubah image masyarakat tentang ledhek atau penari tayub. Mereka sebenarnya adalah perempuan perkasa yang menjadi jenderal dan penopang hidup keluarga,” ujarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1239357274191795557?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1239357274191795557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1239357274191795557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1239357274191795557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1239357274191795557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/ketenaran-penari-tayub-oleh-hendriyo.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-2797651282123254351</id><published>2008-07-19T03:00:00.000-07:00</published><updated>2008-07-19T03:01:37.537-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Bulan di Ufuk Senja&lt;br /&gt;Aku melihatmu dalam keremangan&lt;br /&gt;Saat senja tak bisa kugapai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendiri adalah kenikmatan&lt;br /&gt;Kala ramai tak bisa kumaknai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekatlah &lt;br /&gt;Kita bercerita tentang langit biru&lt;br /&gt;Kita berbagi kesunyian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini tak lagi indah&lt;br /&gt;Apalagi damai seperti pertama kita datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah, cukup,,,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-2797651282123254351?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/2797651282123254351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=2797651282123254351' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2797651282123254351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2797651282123254351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/bulan-di-ufuk-senja-aku-melihatmu-dalam.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-8699072461415950679</id><published>2008-07-15T00:40:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:40.316-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHxVv169d6I/AAAAAAAAACo/zRPsfxsrBPA/s1600-h/menikah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHxVv169d6I/AAAAAAAAACo/zRPsfxsrBPA/s320/menikah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223143948259522466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk sahabatku Fajri dan istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menikah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah adalah bersama-sama menjadi tua&lt;br /&gt;Dan bersama-sama menjadi bijak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah adalah bagaimana mengerti pasangannya&lt;br /&gt;Dan bagaimana menerima pasangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah adalah memberi yang terbaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah adalah memulai dan mengakhiri dalam bersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menikah adalah indah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kalian menjadi sepasang cinta yang bisa menghadapi terpaan hidup bersama-sama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-8699072461415950679?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/8699072461415950679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=8699072461415950679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8699072461415950679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8699072461415950679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/untuk-sahabatku-fajri-dan-istri-menikah.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHxVv169d6I/AAAAAAAAACo/zRPsfxsrBPA/s72-c/menikah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-583312619818046954</id><published>2008-07-09T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T01:04:07.367-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung boleh menggulung langit&lt;br /&gt;Menjadikannya percikan tangis&lt;br /&gt;Mendulang nestapa bagi yang sedang lara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berdiri &lt;br /&gt;Di antara lelehan tawa &lt;br /&gt;Dan ribuan kata&lt;br /&gt;Yang lamat menjadi buih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-583312619818046954?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/583312619818046954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=583312619818046954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/583312619818046954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/583312619818046954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/mendung-mendung-boleh-menggulung-langit.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3926870319233075825</id><published>2008-07-09T00:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-09T00:30:42.361-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Jakarta, 12 07;22.18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sudut di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggumu pada ujung senja&lt;br /&gt;Bersama dingin yang menyergapku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutunggu kau pada pojok lorong sebuah tikungan&lt;br /&gt;Bersama gerimis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai kubacai apa yang kubawa&lt;br /&gt;Sesobek kertas coretanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai kuayunkan langkahku&lt;br /&gt;Dengan dada gemetar dan gemuruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak apa&lt;br /&gt;Aku akan tetap menunggumu &lt;br /&gt;Meski tidak lagi di sebuah tikungan jalan&lt;br /&gt;Tempat kita menjanjikan kebersamaan dan pertemuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya,&lt;br /&gt;Kita mengawali dan mengakhirinya di sini&lt;br /&gt;Ketika hujan rintik dan kemudian reda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3926870319233075825?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3926870319233075825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3926870319233075825' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3926870319233075825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3926870319233075825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/jakarta-12-0722.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-2745786998622584696</id><published>2008-07-08T21:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:40.528-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHRCny7pr0I/AAAAAAAAACI/mwTYuknLPQs/s1600-h/kmpg+naga2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHRCny7pr0I/AAAAAAAAACI/mwTYuknLPQs/s400/kmpg+naga2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220871119483547458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kampung Naga nan Eksotis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada salahnya Anda rehat sejenak. Memanjakan mata menikmati pemandangan alam. Pepohonan rindang, hijau yang menawarkan ketenteraman. Gemericik air kali, serta keheningan alam yang akan membawa kita merasa kembali ke kampung halaman. Tentu semua yang ditawarkan alam tersebut tidak ada di daerah perkotaan. Kalaupun ada pastilah itu tidak alami, alias rekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana nyaman tersebut hanya bisa Anda temui salah satunya di Kampung Naga. Kampung ini bukan tempat huni naga. Melainkan sebuah kampung yang terletak antara  perbatasan Kota Garut dan Tasikmalaya. Tepatnya di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya. Jika  ditempuh dengan bus, dari Jakarta hanya memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Atau 90 kilometer dari Kota Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki kampung ini terlebih dahulu Anda harus melewati ratusan undakan tangga. Menuju perkampungan, di sepanjang perjalanan Anda hanya akan menemukan sawah dan kolam yang berada di sebelah kanan dan kiri. Dan pemandangan alam yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berada di lembah subur, kampung ini dibatasi hutan keramat tempat para leluhur Kampung Naga disemayamkan-yang berada tepat di sebelah barat. Dan di sebelah selatan sawah-sawah penduduk terhampar luas.&lt;br /&gt;Sedangkan sebelah utara dan timur dibatasi Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray daerah Garut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membedakan Kampung Naga dengan perkampungan lain adalah tradisi yang dipegang teguh oleh warga. Masyarakatnya secara turun-temurun hanya akan mengikuti adat istiadat yang diwariskan leluhurnya. Tanpa berusaha menyimpangkan ataupun menggantinya. Misalnya, warga Kampung Naga tidak akan mengganti daun kelapa atau aren sebagai atap rumah menjadi genteng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski zaman semakin modern, masyarakat Kampung Naga sama sekali tidak tertarik untuk mengikutinya. Saat berkunjung ke Kampung Naga tidak satu pun saya temukan televisi atau sepeda motor di rumah penduduk. Jauh berbeda dengan kampung lain yang menganggap dua benda tersebut adalah penting. Alasannya, televisi untuk mendapatkan informasi sedangkan motor adalah alat transportasi. Meski tanpa dua benda itu atau barang-barang modern lainnya, masyarakat Kampung Naga tampaknya tetap mampu berkreasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah yang membentang itulah yang menghidupinya. Hampir semua warga bekerja sebagai petani. Selebihnya mereka memanfaatkan waktu luangnya menggarap kerajinan tangan untuk dijual kepada pengunjung yang berwisata ke kampungnya. Tidak perempuan tidak laki-laki bagi mereka adalah pekerjaan untuk dikerjakan bersama-sama. Semisal, ibu akan pergi ke sawah mencabut rumput yang tumbuh di sela tanaman padi sementara bapak mencangkul. Atau, para bapak akan ikut mengerjakan kerajinan tangan jika pekerjaan di sawah telah usai. Begitu arifnya masyarakat Kampung Naga sampai-sampai tidak pernah terjadi kekerasan dalam rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan lainnya dari daerah yang hanya seluas 4 hektare ini adalah pada bentuk bangunan yang kesemuanya sama. Mulai dari masjid, rumah, ataupun balai pertemuan. Semuanya menghadap ke selatan atau ke utara. &lt;br /&gt;Barangkali ada benarnya bahwa adat istiadat itu harus tetap dipegang teguh. Agar pembedaan kelas tidak terjadi dan kehidupan bisa berjalan harmonis.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan letak kampung yang strategis--- tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Garut dan Tasikmalaya-- Anda  tentunya tak perlu menunda-nunda lagi untuk segera ke sana. Dan Anda dijamin tidak akan rugi mengunjunginya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-2745786998622584696?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/2745786998622584696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=2745786998622584696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2745786998622584696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2745786998622584696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/kampung-naga-nan-eksotis-tidak-ada.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHRCny7pr0I/AAAAAAAAACI/mwTYuknLPQs/s72-c/kmpg+naga2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3140216532413389525</id><published>2008-07-07T01:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:40.694-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH7Gwp0SdI/AAAAAAAAAB4/QhRZvq2vvss/s1600-h/pulang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH7Gwp0SdI/AAAAAAAAAB4/QhRZvq2vvss/s320/pulang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220229536657197522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanah yang menghendakiku tinggal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman yang menghamparkan rumput hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada ladang yang menanti kedatanganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi itu membangunkanku dari kegelisahan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap dengan harap yang hampir pudar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali teringat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana ibu menetekiku pada susu yang kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peluh dan cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut jika esok aku tak mampu merasainya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, perempuan perkasa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa halus sungguh nuranimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sayangmu aku merasa memang terlahir untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pemungkiran apa pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kupandangi Engkau layu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keriput yang tak bisa kau hindari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata lelah dengan pesan sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,, Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merasa sendiri jika begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih memandangimu yang berada di bingkai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3140216532413389525?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3140216532413389525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3140216532413389525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3140216532413389525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3140216532413389525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/pulang-akhirnya-aku-pulang.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH7Gwp0SdI/AAAAAAAAAB4/QhRZvq2vvss/s72-c/pulang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6825130139763183066</id><published>2008-07-07T01:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:40.984-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH1g1O5KPI/AAAAAAAAABg/zEU2P_O62mw/s1600-h/diam-buih-ombak.com"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH1g1O5KPI/AAAAAAAAABg/zEU2P_O62mw/s320/diam-buih-ombak.com" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220223387493279986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hendak mengingatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam senyap dan gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski wajahmu hanya membayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mampu menyentuhmu lebih dari cukup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah sekali lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berbincang tentang gerimis malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menelan sunyi dan resah hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diam tak lagi indah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6825130139763183066?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6825130139763183066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6825130139763183066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6825130139763183066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6825130139763183066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/diam-aku-hendak-mengingatmu-dalam.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH1g1O5KPI/AAAAAAAAABg/zEU2P_O62mw/s72-c/diam-buih-ombak.com' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-7319101218526565628</id><published>2008-07-06T23:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:41.363-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH5ae7SIDI/AAAAAAAAABw/WA9UYHjdBsQ/s1600-h/t291_SC_Spiritual_Capital.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH5ae7SIDI/AAAAAAAAABw/WA9UYHjdBsQ/s320/t291_SC_Spiritual_Capital.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220227676472746034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENJADI KAPITALIS RINGAN TANGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Danah Zohar &amp; Ian Marshall&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: Helmi Mustofa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: Mizan, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan: I, Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal: 254 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi: Kustiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis biasanya diidentikkan dengan pendapatan dan keuntungan –kalau bisa sebesar-besarnya dan secepat-cepatnya. Sejalan dengan itu, para pebisnis digambarkan sebagai orang-orang yang mementingkan diri sendiri, serakah, egoistis, oportunistis, berpikir jangka pendek, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam kenyataannya, tidak semua pelaku bisnis memiliki sikap-sikap tersebut. Dalam buku Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, Danah Zahar dan Ian Marshall, menceritakan kisah “lain” seorang pelaku bisnis bernama Mats Lederhuasen. Ia adalah Chief Executive McDonald’s Swedia. Dalam usia 30-an, ia sudah berada di puncak karir, memiliki keluarga yang harmonis, dan berlimpang uang, tapi ia tidak bahagia. Ia bimbang dengan pilihan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mats sangat prihatin dengan keadaan dunia, khususnya tentang krisis lingkungan yang mendera dunia dan tentang runtuhnya masyarakat. Kata Mats, “Perusahaan-perusahaan besar seperti McDonal’s tidak cukup banyak melakukan sesuatu untuk semua itu.” Lebih lanjut ia mengatakan, “Saya hanya mencari uang. Saya habiskan sepuluh hingga dua belas jam setiap hari untuk bekerja pada McDonal’s, dan saya tidak mengabdikan diri untuk hal-hal yang sangat saya pentingkan. Saya ingin memiliki arti. Namun, saya tidak tahu bagaimana caranya. Saya hanya tahu bahwa saya ingin menjadi bagian dari solusi, bukannya menjadi bagian dari masalah” (hlm. 111).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebimbangan itu, Mats menetapkan tiga opsi. Yakni tetap bekerja di McDonald’s, meninggalkan McDonald’s untuk menjadi konsultan independen, atau pergi ke biara di Tibet untuk bermeditasi. Pilihan Mats jatuh pada opsi yang pertama, yakni tetap bekerja di McDonald’s. Lalu Mats menulis surat ke Jack Greenburh, CEO McDonald’s, untuk menyatakan keprihatinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan, Mats diundang ke Chicago untuk berdiskusi dan mendapatkan promosi yang tidak pernah ia bayangkan, menjadi Vice President Strategy yang bertanggung jawab untuk “mendongkrak perubahan”. Pada posisi itu Mats digaji sebagai “tukang kritik perusahaan”. Mats menjalankan upaya menentang organisme yang dimodifikasi secara genetik, kampanye untuk pembuatan kandang ayam yang lebih luas, dan komitraan dengan Conservation International untuk menanggulangi kerusakan ekosistem bumi dan merancang sumbangan McDonald’s dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan (hlm. 128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan yang dirasakan Mats, keprihatinannya, dan kebutuhannya yang mendalam untuk melakukan sesuatu guna menjadikan hidupnya melayani tujuan yang penuh makna itu, menurut Danah Zahar dan Ian Marshall, adalah tanda-tanda “kecerdasan spiritual (SQ)” yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan yang menyebabkan seseorang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai makna dan nilai hidup, dan hal itu menjadikannya ingin melibatkan hidupnya dalam jenis-jenis pengabdian demi perkara yang lebih tinggi atau lebih dalam. Kecerdasan hati nurani yang memberi manusia akan moralitas dan kesadaran akan yang sakral, satu kesadaran bahwa hidup punya dimensi lebih dalam ketimbang semata-mata “mendapatkan dan menghabiskan” modal material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat buku ini, penulis buku best seller SQ ini menawarkan pandangan baru dalam dunia bisnis. Menurutnya, budaya kapitalis dan praktik bisnis yang beroperasi di dalamnya tengah berada dalam krisis. Keduanya melukiskan bisnis global sebagai “monster yang memangsa dirinya sendiri”. Hal ini terjadi lantaran etos dan asumsi-asumsi kapitalisme yang mendasarinya, dan banyak dari praktis bisnis yang berangkat dari etos dan asumsi-asumsi tersebut, tidaklah berkelanjutan. Para manajer dan eksekutif perusahaan umumnya digerakkan oleh motivasi-motivasi rendah seperti ketakutan (-4), keserakahan (-3), kemarahan (-2), dan penonjolan diri (-1) yang secara langsung ataupun tidak, mengorbankan kualitas hidup manusia. Dengan kata lain, jika kapitalisme dan bisnis –sebagaiman kita kenal– digerakkan oleh motivasi-motivasi itu, maka tak punya masa depan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, bisnis yang berkelanjutan digerakkan oleh SQ yang tinggi, terutama hasratnya untuk memperjuangkan visi dan nilai-nilainya. SQ itu menyebabkan pergeseran dalam motivasi kerja pelaku bisnis dari -3, serakah (bekerja hanya untuk uang), ke paling tidak +3, kekuatan dari dalam. Danah Zahar dan Ian Marshall menempatkan Mats pada +6, pengabdian lebih tinggi –sebagai seorang kesatria. Selain itu, penulis juga mencatat bahwa spritualitas itu bukan masalah agama atau sistem kepercayaan apa pun. Spiritualitas menyangkut sesuatu yang universal, yaitu values, meaning, dan purpose dalam hidup manusia yang tidak tergantung agama apa pun yang dianut seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis tanpa SQ tidak berkelanjutan, karena terbukti menimbulkan krisis kepemimpinan pada perusahaan-perusahaan terkemuka di negara-negara maju. Para pengelola perusahaan kehilangan spirit atas apa yang dilakukan. Dalam bekerja mereka melakukan apa saja seperti menipu, bermain curang, manipulasi, memotong gaji buruh, membuat laporan palsu dan sebagainya yang tujuan utamanya untuk menumpuk uang. Tapi setelah uang diperoleh, mereka merasa hampa makna, hidup tidak berarti, dan hanya sebagai makhluk pemburu uang. Padahal, manusia sejatinya tidak sekadar “makhluk ekonomi”, tapi juga makhluk spiritual yang dahaganya membutuhkan siraman makna dan nilai yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menyarankan jika ingin mengembangkan bisnis yang berkelanjutan, maka para pemimpin perusahaan harus mengambil keputusan yang radikal. Yakni, kelompok inti di masa kini dan para pemimpin potensial perusahaan di masa depan bisa mendayagunakan kecerdasan spiritual mereka demi menciptakan modal spiritual (spiritual capital) dalam budaya organisasi mereka yang lebih luas, dan dengan begitu membuat budaya mereka lebih berkelanjutan. Tujuannya adalah sebuah kapitalisme yang di dalam dirinya sendiri berkelanjutan dan sebuah dunia yang di dalamnya kapitalisme berkelanjutan bisa menghimpun kekayaan yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita (hlm. 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi kecerdasan spiritual bisa diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) berupa kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan manusia secara umum. Sebuah budaya perusahaan dan bisnis yang memanusiawikan karyawan, tidak merusak lingkungan, dan peduli terhadap kelompok-kelompok miskin. Perusahaan dan lembaga bisnis tidak hanya mengeruk keuntungan, tapi juga berbagi keuntungan dengan manusia lainnya. Bentuk tanggung jawab sosial ini tidak berupa amal sosial, tapi sebuah program yang berkelanjutan dan berdampak luas. Misalnya, Coca-Cola menggunakan jaringan distribusinya di India untuk melayani pemerintah India dalam mendistribusikan vaksin polio ke daerah perbatasan terpencil dan mendirikan klinik-klinik kesehatan di sepanjang pedalaman Tiongkok dan Asia Tenggara. Merck Phamrmaceutical menyediakan obat-obatan gratis untuk mencegah meluasnya kebutaan akibat parasit river blindness di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini banyak mengkritik kapitalisme dan bisnis sebagaimana umumnya. Namun, buku ini tidaklah antikapitalis atau antibisnis, dan juga tidak menampik mekanisme ekonomi yang telah menghasilkan kekayaan yang belum pernah sebelumnya dihasilkan umat manusia. Penulis tidak bermaksud menolak kapitalisme, melainkan mengubahnya agar lebih manusiawi, berjangka panjang, dan berhati nurani. Karena, keduanya menyakini potensi yang besar dalam bisnis dan bidang-bidang lain untuk meningkatkan –dalam kerangka yang lebih luas– kekayaan dan nilai, yang sebagian bisa dipakai untuk kepentingan bersama umat manusia. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-7319101218526565628?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/7319101218526565628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=7319101218526565628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7319101218526565628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/7319101218526565628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/menjadi-kapitalis-ringan-tangan-judul.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHH5ae7SIDI/AAAAAAAAABw/WA9UYHjdBsQ/s72-c/t291_SC_Spiritual_Capital.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6515692137245781312</id><published>2008-07-06T22:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-06T23:05:50.006-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Bekerja Keras dan Berkarya adalah Kuncinya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://tunu.files.wordpress.com/2008/07/l_114.jpg"&gt;&lt;img style="width: 141px; height: 141px;" class="alignleft size-medium wp-image-86" src="http://tunu.files.wordpress.com/2008/07/l_114.jpg?w=150&amp;amp;h=150" alt="k" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     &lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;LEX Komang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;bukan nama asing di dunia teater dan film &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, tapi namanya kini nyaris tak terdengar. Ke mana gerangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemeran Utama Pria terbaik dalam film &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Doea Tanda Mata &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;arahan sutradara Teguh Karya ini? Saat bertemu dalam sebuah acara pementasan teater di Rumah Teguh Karya (alm), lelaki yang memiliki nama asli Syaiful Nuha ini menceritakan aktivitas barunya. Peraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1985 ini tengah sibuk belajar filsafat. "Tidak untuk mengejar master, tapi untuk belajar lebih banyak hal," katanya serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan dengannya pada malam itu di Teater Populer tak sebatas membeberkan kesukaannya, tapi juga berbicara tentang perkembangan dunia perfilman kontemporer. Menurut penggemar sastra dan teater ini, dunia perfilman harus diisi bukan hanya oleh popularitas dan tren saja, melainkan juga kematangan akting dan isi film itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki gondrong 47 tahun ini sedang serius belajar filsafat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Ketika ditanya kenapa mesti kuliah lagi? Ia menjawab, “Bagiku penting kapan pun mencari ilmu, agar tercerahkan dan tidak bodoh dalam membaca setiap persoalan. Saya tidak ingin jika ada seseorang atau suatu kelompok mengeluarkan pernyataan atau doktrin tentang suatu agama saya menelan mentah-mentah tanpa mengetahui kebenarannya atau kritis menyikapinya. Terlepas dari itu, saya memang lagi senang belajar”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bergelut dengan kesibukannya kuliah, ternyata Alex tidak lantas meninggalkan profesi yang telah membesarkan namanya. “Saya tidak meninggalkan aktivitas lama. Saya masih setia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengikuti perkembangan film. Setia dengan film tidak berarti harus ikut di dalamnya. Jika ditanya bagaimana perkembangan film saat ini saya bisa menjawabnya. Tapi, kini saya lagi senang belajar, maka jadilah saya masuk universitas,” katanya seraya tertawa berderai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Ia juga menyarankan kepada penonton film agar tidak melulu menilai film itu dari sisi negatifnya. “Kita harus optimistis. Ternyata di antara kekelaman dunia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertelevisian ada kemajuan pesat (di dunia perfilman-&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Red&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;). Muncul sineas-sineas muda. Sineas perempuan juga tak ikut ketinggalan. Ya, idealnya, baik semua, mendidik semua, tapi kenyataannya &lt;/span&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;tidak bisa begitu. Saya tidak mengatakan dunia perfilman dan pertelevisian buruk semua. Cuma kita perlu melihat dengan cermat siapa saja yang akan bertahan lama dengan kemampuannya. Siapa yang berkualifikasi, maka dia yang tidak akan pernah tenggelam. Publik yang akan menilainya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana tanggapannya tentang kontroversi BPPN (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional-&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Red&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;)? Yang tahun lalu sempat ribut-ribut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Apalagi beberapa sineas muda (salah duanya Riri Reza, Mira Lesmana) menganggap BPPN tidak berkontribusi banyak bagi dunia perfilman. Alex dengan santai menjawab bahwa pada saat itu ia &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;dapat telepon dari beberapa kawan sesama artis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt; “Saya pikir pemerintah tidak seharusnya mengintervensi kreativitas anak muda. Biarkan yang muda-muda belajar dan mengaktualisasikan gagasannya. Harus dipisahkan apa saja yang seharusnya di bawah pengawasan pemerintah dan apa yang tidak. Saya tahu di jajaran BPPN banyak senior-senior perfilman. Ada Bang Deddy Mizwar, ada Bang Slamet Raharjo dan banyak senior lainnya. Tapi ya itu, bagi saya, berkreasi tetap dilakukan tanpa harus merasa terganggu kebijakan ini dan itu. Seharusnya memang ada wilayah di mana kaum muda dibebaskan berkreativitas. Penilaian baik buruknya film itu sangat subyektif. Saya tidak yakin film si A bagus jika dilombakan dengan juri si A. Atau film si A jelek jika difestivalkan dengan juri si B.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu benarkah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;seorang juri perfilman itu banyak berpengaruh di luar bidang penjurian? “&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Benar. Tidak bebas nilai. Tidak hanya perfilman saja, apa pun lombanya lah. Pasti ada unsur X. Taruhlah film &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Ekskul &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;yang sutradaranya banyak menuai cercaan. Yang katanya filmnya jelek &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;kok &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;menanglah, yang tidak bagus lah. Itu &lt;/span&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;namanya pembunuhan karakter. Yang begitu itu yang sebenarnya tidak boleh. Mana ada sutradara atau pekerja film meminta-minta supaya imenangkan dalam festival film. Yang ada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;tuh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;bagaimana mereka bisa berkreasi. Tidak bisa kita melakukan penolakan atas hasil karya orang lain. Menang kalah itu &lt;/span&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;biasa. Lebih baik terus berkarya. Jadilah aktor, aktris atau pekerja film yang baik. Tidak perlu meremehkan, mencerca apalagi melakukan penolakan terhadap karya orang lain. Meski itu juga merupakan pilihan sikap. Sama seperti saat saya memutuskan harus belajar filsafat dan kenapa mesti diambil di universitas itu. Semua pilhan tentunya punya alasan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Alex Komang, aktor satu ini memang tidak pernah berpikir parsial dalam menanggapi berbagai persoalan. Semangat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan cara berpikirnya yang positif tidak menyurutkan niatnya untuk selalu berkreasi dan belajar. Dia &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;selalu menghargai siapa pun yang mau belajar. Memiliki keinginan untuk maju dengan bekerja keras. Menurutnya orang-orang seperti itulah biasanya yang akan dikenang masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya s&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;iapakah yang berandil besar dalam kesuksesannya. “&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Bapak saya. Figur pertama yang saya contoh dan berandil besar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ya bapak saya. Tidak jauh-jauh. Yang lain-lainnya ya mendukung, menambah referensi hidup saya dalam menentukan pilihan. Meski pada awalnya pilihan saya ditentang keras, justru karena bapak saya tidak ingin anaknya salah jalan. Kustiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:white;"  &gt;9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Nama &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Syaiful Nuha/Alex Komang. Lahir di sebuah kampung di Jepara, Jawa Tengah, 17 &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;September 1961. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Alamat Rumah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;: Pejaten Elite, Jl. Amil II/ 4,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Pejaten Barat, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Karier&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 115, 0);font-family:Georgia;" &gt;_ &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Aktor teater, antara lain bersama Teater Koma dalam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;lakon Opera Primadona (2000)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 115, 0);font-family:Georgia;" &gt;_ &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Aktor film di bawah arahan sutradara Teguh Karya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;antara lain Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Mata (1985), Ibunda (1986), Pacar Ketinggalan Kereta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;(1988)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 115, 0);font-family:Georgia;" &gt;_ &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Bermain sinetron, antara lain dalam Bila Esok Tiba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;(1997), Bingkisan untuk Presiden (2000), Cinta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Terhalang Tembok (2002), dan lain-lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Penghargaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 115, 0);font-family:Georgia;" &gt;_ &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 1985&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik untuk film Doea&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:black;"  &gt;Tanda Mata dan lain-lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;color:white;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6515692137245781312?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6515692137245781312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6515692137245781312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6515692137245781312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6515692137245781312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/bekerja-keras-dan-berkarya-adalah.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-3065855275274761884</id><published>2008-07-06T21:34:00.001-07:00</published><updated>2008-07-06T21:39:53.886-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Bergerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo Bung,,,&lt;br /&gt;zaman terus melaju&lt;br /&gt;bergerak cepat dengan segala perubahannya&lt;br /&gt;apa engkau akan tinggal diam&lt;br /&gt;atau mengejar sejadi-jadinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo Bung,,,&lt;br /&gt;kita berlari menggapai matari&lt;br /&gt;melintasi harapan dan mimpi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-3065855275274761884?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/3065855275274761884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=3065855275274761884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3065855275274761884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/3065855275274761884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/bergerak-ayo-bung-zaman-terus-melaju.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-8183546616303841659</id><published>2008-07-06T06:58:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:41.485-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHHxVHPqiyI/AAAAAAAAABQ/QRLEG8xxl8A/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHHxVHPqiyI/AAAAAAAAABQ/QRLEG8xxl8A/s320/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220218788123413282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mari Menebar Kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti anak kecil lainnya, Trevor (12) percaya bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki  sifat baik. Dan seperti anak kecil lainnya pula, dia mengharapkan perubahan besar terjadi pada hidupnya, lalu datanglah keajaiban hidup yang didambakannya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang anak ia tak ingin melihat ibunya hidup dalam keterpurukan. Menjadi seorang pecandu minuman keras, memiliki masalah dengan ibunya, dan kesepian. Trevor diasuh tanpa seorang ayah, alias ibunya adalah single parent. Ide besar untuk mengubah hidup orang-orang di sekitarnya justru datang dari sang guru ilmu sosial. Mr. Simonet,  guru Trevor meminta para muridnya memikirkan sebuah ide yang dapat mengubah dunia. Para murid juga diminta untuk mewujudkan idenya ke dalam tindakan nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari tugas itulah Trevor memperoleh ide “Pay It Forward” (bayar dimuka). Untuk mewujudkan ide besar itu ia hanya perlu mencari tiga orang untuk ditolong. Dan setiap orang yang ditolong harus menolong tiga orang lainnya, dan seterusnya. Tepat seperti usaha multi level marketing (MLM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melintaslah tiga orang  yang akan menjadi bahan eksperimen. Mereka adalah seorang pemuda gembel pecandu narkoba bernama Jerry, Mr Simonet yang masih&lt;br /&gt;hidup membujang, dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok&lt;br /&gt;anak-anak nakal bernama Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sesungguhnya ada di depan mata. Trevor sering melihat ibunya sangat kesepian, tidak punya teman untuk diajak berbagi rasa, dan telah menjadi pecandu minuman keras. Kali ini Trevor berusaha menghentikan kecanduan ibunya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada di rumah mereka, Trevor juga mengatur cara agar ibunya bisa berkencan dengan Mr Simonet, guru sekolah yang memberinya tugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide yang ia rancang mulai ia jalankan. Kali ini ia membantu Jerry. Trevor membelikannya baju, sepatu dan perlengkapan lain agar bisa bekerja serta meyadarkannya agar tidak terlibat narkoba. Kali ini Trevor mesti merelakan tabungannya untuk semua itu. Ketika Jerry berucap tarima kasi kepada Trevor, maka Treveor hanya menjawab ‘Pay It Forward”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Usaha Trevor tidak sia-sia. Jerry balas membantunya memperbaiki mobil milik Ibunya Trevor yang rusak tanpa diminta. Sang ibu melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang Ibu mengucapkan terima kasih, Trevor menjawab “Pay It Forward”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terharu melihat perhatian anaknya, Ibu Trevor terdorong melakukan kebaikan dengan mengunjungi rumah ibunya (nenek Trevor). Sekian lama hubungan antara ibu dan anak ini renggang. Bahkan mereka tidak bertegur sapa selama bertahun-tahun. Melihat anak perempuannya datang dan meminta maaf, nenek Trevor menangis dan terharu. Mereka berniat memperbaiki hubungan ibu anak dan asling memaafkan. Saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, Ibu Trevor menjawab “Pay It Forward”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena kebahagiaan yang lama ditunggunya datang, sang nenek meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar polisi untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika pemuda itu sudah aman, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek menjawab dengan kata-kata : “Pay It Forward”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan&lt;br /&gt;tersebut dengan memberikan nomor antreannya di rumah sakit kepada seorang gadis&lt;br /&gt;kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis&lt;br /&gt;kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, dan dijawab oleh pemuda itu&lt;br /&gt;dengan ucapan : “Pay It Forward”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah si gadis kecil yang ternyata konglomerat terkesan dengan kebaikan si&lt;br /&gt;pemuda. Orang kaya itupun terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan&lt;br /&gt;memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya mogok pada saat&lt;br /&gt;sedang meliput suatu acara. Saat si wartawan berterima kasih karena mendapat&lt;br /&gt;rezeki nomplok berupa mobil Jaguar, ayah si gadis menjawab: “Pay It Forward”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis bertekad&lt;br /&gt;untuk mencari tahu dari mana asal muasalnya istilah “Pay It Forward” tersebut.&lt;br /&gt;Naluri Jurnalistiknya mendorong dia menelusuri mundur untuk mencari informasi&lt;br /&gt;mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrean nomor rumah sakit, nenek&lt;br /&gt;yang memberikan melindungi pemuda, Ibunya Trevor yang memaafkan nenek Trevor,&lt;br /&gt;sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut. Dengan bantuan sang&lt;br /&gt;wartawan, Trevor pun muncul di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat hendak menolong teman&lt;br /&gt;sekolahnya, Adam, yang selalu diganggu oleh para berandalan. Seusai pemakaman&lt;br /&gt;Trevor, betapa terkejutnya sang ibu.  Ribuan orang tidak henti-hentinya&lt;br /&gt;datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan&lt;br /&gt;lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Trevor sendiri pun tidak pernah tahu jika apa yang dilakukannya memberikan dampak besar bagi orang lain. Tampaknya sang sutradara begitu tinggi menempatkan kasih ini ke dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini memang bukan tergolong film baru lagi. Diproduksi tahun 2000, saat negeri ini mulai bangkit dari krisis. Namun isi film ini tak akan usang dimakan waktu. Karena pesan yang disampaikan film tersebut begitu relevan kapan pun diputar. Diperankan Haley Joel Osment sebagai Trevor McKinney) film yang disutradarai Mimi Leder begitu apik dan menyentuh. Tidak ada salahnya Anda menontonnya. Selain dijamin terharu, paling tidak Anda akan tergerak untuk meniru apa yang dilakukan Trevor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-8183546616303841659?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/8183546616303841659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=8183546616303841659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8183546616303841659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/8183546616303841659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/mari-menebar-kasih-sama-seperti-anak.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHHxVHPqiyI/AAAAAAAAABQ/QRLEG8xxl8A/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-2451524913609306267</id><published>2008-07-06T06:54:00.001-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:41.634-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHHywNxknFI/AAAAAAAAABY/FlRd-KhOO5A/s1600-h/Bu+Yati.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHHywNxknFI/AAAAAAAAABY/FlRd-KhOO5A/s320/Bu+Yati.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220220353244339282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang Tak Menyerah pada Kemiskinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN paruh baya itu berjalan terseok-seok. Di kepalanya ada rantang berisi sambal. Tangan kirinya menenteng tampah yang berisi pecel dan peyek, sedangkan tangan kanan menjinjing teko. Seakan tak ingin ada ruang yang kosong, punggungnya pun menggendong bakul besar berisi nasi. Toh ia terus berusaha merangsek, menembus penumpang yang berimpit di gerbong kereta api kelas ekonomi jurusan Semarang-Cepu. Kain kebaya yang dikenakan seakan tak pernah menghalanginya bergerak maju. “Pecel Mbak, pecel. Mas pecel, Mas,” teriaknya yang terdengar timbul tenggelam karena harus beradu riuh dengan suara kereta api yang menderu-deru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang sanggup membawa begitu banyak beban dan berjalan di antara penumpang yang berdesak-desakan. Tapi perempuan itu terlihat mahir melakukannya. “Saya sudah 15 tahun berjualan pecel di dalam kereta, Mbak,” tutur Bu Yati, nama enjual pecel gendong itu. “Gaji suami tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anak. Jadi, saya harus mencari akal dan ikut kerja keras untuk mencukupi kebutuhan,” kata perempuan yang ternyata merupakan istri dari salah satu maitanance di PT Kereta Api Indonesia. Semua kesulitan itu ia lewati hingga tak terasa anaknya telah lulus dari perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerih payahnya sungguh tidak sia-sia. Anak sulungnya saat ini telah menjadi akuntan di sebuah perusahaan swasta di Semarang. “Saya tidak mau menyerah dengan kemiskinan yang saya hadapi, karena anak-anak harus tetap sekolah,” katanya, bersemangat. Meskipun usianya mendekati kepala enam, semangatnya untuk mengadu nasib di tengah jejalan penumpang belum surut. Sebab, masih ada anaknya yang harus dibiayai untuk menamatkan SMA, syukur-syukur bisa menjadi sarjana seperti kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang anak saya yang pertama bisa membantu membiayai sekolah adiknya. Jadi saya tidak terlalu ngoyo seperti dulu. Lima tahunan yang lalu saya sanggup menjual nasi pecel dalam sekali jalan. Sekarang nasi pecel baru habis kalau bolak-balik jalan,” ujarnya sembari menghapus keringat di dahi dengan ujung selendang gendongnya. Yang dimaksud sekali alan adalah perjalanan kereta ekonomi dari Semarang menuju Cepu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu, ia akan menyusur dari gerbong satu menuju gerbong lainnya. Perjuangannya menjadi tambah berat, karena pedagang pecel bukan hanya ia seorang. Ada belasan pedagang lainnya yang ratarata perempuan kategori paruh baya. “Teman saya banyak. Jadi, untung-untungan, Mbak. Tapi ada beberapa penumpang yang sudah menjadi langganan.” Di sela-sela penumpang yang berjejal itu, menurut Bu Yati, nasib baik akan berpihak kepada para pedagang, termasuk kepada penjual nasi pecel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, semakin banyak penumpang, semakin banyak calon pembeli. Pecel yang dijual Bu Yati itu dinamai sego pecel gambringan. Pecel ini sudah tidak asing lagi bagi penumpang kereta di jalur tersebut. Bukan saja karena rasanya yang enak, tetapi juga karena harganya yang murah. Harga tiap pincuk nasi pecel adalah Rp2000, sudah termasuk peyek. Dalam sehari, Bu Yati rata-rata bisa menjual sampai 50 pincuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya tidak ada nasi yang saya bawa pulang, paling yang tersisa hanya peyek,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua pecel pincuk itu terjual di kereta api. Begitu sampai Cepu, kalau masih ada sisa, Bu Yati dan kawan-kawannyaakan menjajakan dagangannya di sekitar Rumah Sakit Cepu, pasar, ataupun menyusuri jalanan protokol. Sosok seperti Bu Yati di Tanah Air kita ini, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, selalu hadir untuk menyelamatkan rumah tangga dari keruntuhan akibat himpitan ekonomi. Rasa hormat patut disematkan pada mereka. Bisa jadi, satu di antara mereka itu adalah ibu Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-2451524913609306267?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/2451524913609306267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=2451524913609306267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2451524913609306267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2451524913609306267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/yang-tak-mengalah-pada-kemiskinan.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHHywNxknFI/AAAAAAAAABY/FlRd-KhOO5A/s72-c/Bu+Yati.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-9128968795191814799</id><published>2008-07-04T01:07:00.000-07:00</published><updated>2008-07-07T00:49:02.362-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku sudah masuk dalam dunia kerja. Ketika seseorang merasa telah memiliki kewajiban baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, maka bekerja adalah keniscayaan.&lt;br /&gt;Aku sendiri telah lupa kapan tidak bekerja. Bahkan, di saat menatap senja di kala libur kangen untuk terbebas dari kerja begitu menderu. Kapan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin berbeda saat senior high school kali ya. Betapa hidup itu hanya untuk berbahagia saja. pagi hari berangkat sekolah by bus selama 15 minutes.  Sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai, bercanda terlebih dahulu dengan teman-teman.  Melewati pelajaran dengan sangat menyenangkan. Menyelesaikan persoalan apalagi? kami selalu jentle menghadapinya.&lt;br /&gt;Jadi inget dengan temenku yang berambut panjang. Saat merasa tidak nyaman dengan salah seorang guru (karena merasa disindir di kelas), kami segera menemuinya. Menanyakannya dengan berani, memberi kritikan, dan selanjutnya meminta maaf...ah,,betapa rindu dengan masa-masa itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-9128968795191814799?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/9128968795191814799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=9128968795191814799' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/9128968795191814799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/9128968795191814799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/bekerja-entah-berapa-lama-aku-sudah.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-1828940585948146944</id><published>2008-07-02T06:58:00.001-07:00</published><updated>2008-07-02T06:58:53.524-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Senja&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Senja di balik jendela lebih indah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Meski tidak ada kemeriahan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan tidak ada engkau di sini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-1828940585948146944?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/1828940585948146944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=1828940585948146944' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1828940585948146944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/1828940585948146944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/senja-senja-di-balik-jendela-lebih.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-6157803274968814123</id><published>2008-07-02T06:24:00.000-07:00</published><updated>2008-07-02T06:25:05.495-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;strong&gt;JANGAN MENOLAK COKELAT&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0pt;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;a href="http://tunu.files.wordpress.com/2008/06/1-images5.jpg"&gt;&lt;img class="alignleft size-medium wp-image-82" src="http://tunu.files.wordpress.com/2008/06/1-images5.jpg?w=118&amp;amp;h=114" alt=";l;" height="114" width="118" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;SELAIN rasanya yang manis, cokelat juga memberikan segudang manfaat bagi kesehatan tubuh. Para ibu boleh khawatir jika anaknya memiliki kegemaran memakan cokelat karena takut gigi keropos, tapi jangan buru buru menyimpulkan bahwa cokelat adalah makanan yang patut dijauhi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Menurut sebuah penelitian tentang cokelat di Pusat Kesehatan Universitas Harvard, cokelat dapat membantu kesehatan hati. Mary B. Engler, sang peneliti cokelat dan Direktur Program Pascasarjana, Ilmu Tulang dan Genom, Sekolah Perawat Universitas California , San Francisco , mendapati bahwa cokelat melancarkan aliran darah, mengurangi nyeri tulang, dan mengikat kolesterol jahat dalam tubuh. Zat yang terkandung&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;dalam cokelat bernama flavonoids. Zat inilah yang bertugas mencegah terjadinya sel rusak dan peradangan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Jika Anda seorang penderita darah tinggi, cokelat juga bias membantu menurunkan darah tinggi Anda. Seorang Direktur Laboratorium Penelitian Antioksidan Universitas Tuts, baru-baru ini menemukan seorang pasien hipertensi mengalami penurunan drastis setelah mengonsumsi cokelat 3,5 ons setiap hari selama dua minggu berturut-turut. Dan tidak ada dampak buruk yangditemukan pada para pengonsumsi cokelat ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Manfaat lainnya, cokelat dapat membantu memulihkan kesehatan setelah sakit. Sebuah penelitian di Universitas Indiana menunjukkan, cokelat terbukti lebih cepat membantu masa pemulihan ketimbang meminum suplemen.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Temuan terbaru seorang peneliti Jerman yang setiap hari selalu mengonsumsi cokelat selama tiga bulan, kulit peneliti ini semakin lembut, bercahaya, dan tidak cepat kusam saat sinar matahari menyengat kulitnya. Ia baru menyadari bahwa flavonoids yang terkandung dalam cokelat itulah yang menyerap sinar ultra violet matahari, membantu melindungi, dan memperlancar peredaran darahnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Masih tentang cokelat, peneliti dari Universitas Virginia Timur menyimpulkan bahwa cokelat membantu mempertajam daya ingat, karena darah yang mengalir menuju otak menjadi lancar. Cokelat membuat hidup lebih bergairah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Seorang peneliti Italia penasaran ingin mengetahui apakah cokelat mengandung zat perangsang. Dalam sebuah penelitiannya ia melibatkan 143 perempuan yang telah menikah sebagai responden. Perempuan yang setiap hari memakan cokelat terbukti memiliki keinginan untuk berhubungan seksual lebih banyak dan lebih cepat mencapai orgasme dibanding mereka yang tidak mengonsumsi atau mengonsumsi cokelat sedikit saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Ternyata cokelat memiliki manfaat lebih banyak ketimbang yang kita ketahui selama ini. Jadi, bila Anda telah memutuskan diri untuk tidak mengonsumsi makanan yang satu ini, urungkanlah. Karena Anda akan rugi menjauhinya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-6157803274968814123?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/6157803274968814123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=6157803274968814123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6157803274968814123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/6157803274968814123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/jangan-menolak-cokelat-selain-rasanya.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-4037281552215743671</id><published>2008-07-02T06:10:00.001-07:00</published><updated>2008-12-10T23:50:41.904-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHr23JVG9HI/AAAAAAAAACY/HqHb3qXZQR0/s1600-h/kustiahkecilfoto.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHr23JVG9HI/AAAAAAAAACY/HqHb3qXZQR0/s200/kustiahkecilfoto.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222758145147204722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0.49cm; margin-bottom: 0.49cm; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:medium;"&gt;&lt;strong&gt;KEKERASAN BERBAJU AGAMA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Masih ingat dengan peristiwa Monas (Monumen Nasional) yang pekan lalu sempat menjadi hedline beberapa media di Indonesia. Salah satu organisasi Islam melakukan penyerangan terhadap sekelompok massa yang sama-sama melakukan aktivitas di Monas.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Ormas Islam yang menamakan diri Front Pembela Islam geram dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Pasalnya AKKBB mendukung gerakan jamaah Ahmadiyah. Yang dianggapnya telah menyimpangkan ajaran agama Islam dan dituduh sebagai sebuah aliran sesat yang layak dibubarkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Masyarakat umum tahu bahwa AKKBB adalah aliansi masyarakat yang menjunjung tinggi pluralisme termasuk tidak mempermasalahkan keberadaan Ahmadiyah. Alasannya jelas bahwa jamaah Ahmadiyah adalah manusia yang memiliki hak asasi untuk berbuat, memilih, dan memutuskan selama tidak melanggar hak asasi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Berlarut-larutnya masalah Ahmadiyah membuat AKKBB tidak tinggal diam. Padahal masalah ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi warga negaranya. Karena FPI sudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. FPI dan ormas anti-Ahmadiyah yang menamakan diri mereka sebagai pembela Islam dan kebenaran tersebut, tidak hanya melakukan pembakaran terhadap masjid milik jamaah Ahmadiyah melainkan penyerangan dan pengrusakan. Korbannya tentu saja para jamaah Ahmadiyah yang tidak saja terdiri dari bapak-bapak tapi juga para ibu dan anak-anak.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Tak ada perlawanan, yang hanya bisa dilakukan jamaah Ahmadiyah adalah mengungsi dan mencari perlindungan. Dari sinilah saya bertemu dengan mereka. Di sebuah forum di Utan Kayu. Ketika bertemu dengan jamaah ini saya lupa bahwa yang saya hadapi adalah Ahmadihyah. Saya hanya melihat mereka sebagai korban yang hak asasinya telah diusik dan penghidupannya diganggu orang lain. Di sebuah negara yang memiliki Undang-Undang sebagai konstitusi negara. Yang setiap alineanya menenteramkan orang yang membacanya. Salah satunya adalah berbunyi bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan” (alenia pembuka UUD 1945).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Batin saya kembali terusik manakala yang saksikan bukan hanya ibu-ibu yang menangis dan berkeluh kesah, melainkan banyak anak kecil. Seorang ibu (maaf tidak bisa saya sebutkan namanya) mengatakan, akibat dari pembakaran—yang biasa dilakukan di malam hari—dan penyerangan, mereka tidak saja kehilangan tempat tinggal. Anak-anak terpaksa harus meninggalkan sekolah dan tempat bermainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di sekolah, anak-anak tidak jarang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan baik dari guru maupun teman-temannya. Misal, pembagian rapor dibedakan. Untuk anaknya jamaah Ahmadiyah rapor dibagikan setelah rapor anak-anak yang bukan anggota jamaah Ahmadiyah selesai dibagikan dan itu pun dibedakan warnanya. Contoh lainnya adalah para guru menyebut aliran Ahmadiyah bukan sebagai bagian dari agama Islam melainkan sebuah agama baru. Sontak para orang tua jamaah Ahmadiyah harus sering memberikan pengertian dan penjelasan kepada anak-anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Tidakkah FPI dan orang atau ormas yang anti-Ahmadiyah ini telah sedemikian besar melakukan diskriminasi. Yang tidak jauh berbeda dengan Orde Baru yang mendiskriminasikan PKI dengan memberikan simbol eks-Tapol di Kartu Tanda Penduduknya. Sungguh negara kita saat ini telah banyak dihuni oleh orang-orang yang menganggap dirinya lebih benar dan dan lebih soleh. Orang yang tidak sepaham atau seprinsip dianggapnya sebagai musuh dan lawan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Bukankah dalam Islam sendiri aksi kekerasan diharamkan. Semua itu tercantum jelas dalam Al Quran dan Hadis. Dan saya juga yakin agama apa pun tidaklah menganjurkan penganutnya melakukan kekerasan satu sama lain. Apalagi melakukannya dengan mengatasnamakan agama sebagai yang harus dibela.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kekerasan atas nama aliran sesat, penyimpangan agama atau penodaan agama sebenarnya bukanlah hal baru. Sudah terjadi sejak zaman Bani Umayah. Di tahun 660 M. Saat ibu kota kerajaan Arab dipindahkan ke Damsyik, tempat kedudukan baru Khalifah Bani Umayah. Di saat itulah Islam menghadapi cobaan. Masyarakat menganut aliran sesuai kepercayaannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Terlepas dari semua itu sejarah buruk seharusnya tidak boleh berulang. Mengingat keragaman merupakan keniscayaan yang tidak bisa dicegah terjadinya&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Negara kita adalah negara yang memiliki kitab yang bernama Undang-Undang Dasar 45. Yang artinya Undang-Undang Dasar telah secara tersirat menjamin kebebasan beragama bagi setiap individu di Indonesia. Bunyi sebuah konstitusi bukanlah bunyi-bunyian yang dapat dengan mudah dilupakan dan diabaikan. Tidak memiliki taring untuk mencekal yang melanggarnya.Pemerintah justru mencari titik aman dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama yang diterbitkan tiga menteri yakni Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung. Isi SKB memang tidak secara tegas membubarkan Ahmadiyah melainkan memberikan peringatan dan perintah kepada jamaah Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya. Jelas bahwa negara ini lebih berani membungkam jamaah Ahmadiyah yang jelas tidak melanggar hak asasi manusia ketimbang menindak para pelaku kekerasan yang masih banyak berkeliaran.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.95cm; margin-bottom: 0pt; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Apakah masih kurang cukup pertumpahan darah yang terjadi akibat perbedaan paham, prinsip, dan pilihan. Seharusnya negeri ini belajar dari masa lampau. Agar tidak selalu menelan korban anak negeri. Dan segera berbenah untuk secara arif menerima segala keragaman.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-4037281552215743671?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/4037281552215743671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=4037281552215743671' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/4037281552215743671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/4037281552215743671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/kekerasan-berbaju-agama-kustiah-tinggal.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5f0b7eOV97Y/SHr23JVG9HI/AAAAAAAAACY/HqHb3qXZQR0/s72-c/kustiahkecilfoto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-9069665454021857366</id><published>2008-07-02T06:05:00.000-07:00</published><updated>2008-07-04T01:40:52.945-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Cerita Kali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku rindu,,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada jalan-jalan yang kita lalui&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada tandakan sawah dan pada tandakan jalan menuju kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kiranya masih diberikan waktu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku ingin menempuhinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat hijaunya air kali nan setia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kita merenunginya sepanjang sore&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bersama rengekan pohon-pohon bambu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karena hempasan angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sayang,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bolehlah kita melupakannya sementara waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi kenangan itu tak akan bisa lenyap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku ingat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pagi nan sejuk itu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sementara lonceng gereja berdentang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan nyanyiannya bersautan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kita bersejajar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mengatakan bahwa kita manusia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang dalam sunyi lebih merasa hening&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berjanji akan saling mengasihi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi jauh sebelum waktu itu datang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku telah menempatinya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menungguinya di kala sore&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bersama kicau burung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di kali itu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di antara rengekan pohon bambu nan rimbun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan kini telah lebih dari sepuluh tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku datang kembali pada kali itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menengok kenangan nan manis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hendak menceritai perjalananku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mataku menerawang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Basah,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Air hijau itu telah ditelan bebatuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bahkan lumut pun tak berbekas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kering,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Merana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pohon-pohon bambu itu tak lagi manja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Merengek ditingkahi angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kini usianya telah senja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin juga telah berganti tempat untuk anak-anaknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sayang,,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hatiku kini gersang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karena perjalanan panjang itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kali ini mati, bambu berguguran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan perubahan tak lagi mampu mereka hindari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku tak sanggup menceritai pada mereka tenteng perjalananku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Justru giliranku mendengar cerita mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tentang kerakusan manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan pengkhianatannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kadang dan lebih sering kita merasa kurang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seolah-olah hendak hidup untuk seribu tahun lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semua dirampas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Segala-galanya di hajar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka tidak ingat telah beranak pinak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada anak cucu, cicit, dan canggah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akan diberi apa mereka kelak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apakah hanya akan ada cerita saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bahwa di kali ini lah kebahagiaan diperoleh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada alam yang selalu jujur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan kenangan dibuat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sayangku,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Katakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ke mana lagi kita akan berkunjung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menemukan burung yang matanya tak sayu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pohon bambu yang selalu ceria&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan angin yang senantiasa bersahabat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku telah kehilangan semuanya,,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kustiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;" lang="IN"&gt;01 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-9069665454021857366?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/9069665454021857366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=9069665454021857366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/9069665454021857366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/9069665454021857366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/cerita-kali-aku-rindu-pada-jalan-jalan.html' title=''/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2320777425893756567.post-2723267496523386127</id><published>2008-07-02T05:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-02T05:47:20.084-07:00</updated><title type='text'>Gelagah</title><content type='html'>&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;Gelagah&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Engkau seperti gelagah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang mesti tanah itu panas dan cuaca kering&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akarmu mampu bertahan di dalamnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atau pohon pinus yang rendah hati dan lembut itu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lihat saja di lereng anak Gunung Krakatau &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka berdiri tegak dan tangguh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tetap hijau meski tak ada air dan kesejukan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hanya ada letusan magma dan udara panas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selebihnya pasir pantai yang hangat dan angin yang kering&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku ingin seperti mereka sayang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjadi matang karena deraan derita duniawi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidak mudah mengeluh apalagi menangisinya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Cobalah katakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apalagi yang harus aku mengerti&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tentang hitam dan putihkah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Atau tentang gelap dan terangkah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bukankah aku telah merasainya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2320777425893756567-2723267496523386127?l=kelindan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kelindan.blogspot.com/feeds/2723267496523386127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2320777425893756567&amp;postID=2723267496523386127' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2723267496523386127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2320777425893756567/posts/default/2723267496523386127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kelindan.blogspot.com/2008/07/gelagah.html' title='Gelagah'/><author><name>Senja</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
